BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%, Ini Alasannya
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan alasan bank sentral mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut tetap diambil meskipun bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya.
Destry menjelaskan, keputusan mempertahankan BI Rate dilakukan setelah BI melakukan asesmen dan simulasi untuk melihat berbagai dampak perubahan suku bunga terhadap kondisi perekonomian.
Selain itu, BI turut mempertimbangkan perkembangan inflasi yang menjadi salah satu jangkar utama kebijakan moneter. Menurut Destry, kondisi inflasi saat ini masih berada dalam level yang dinilai aman.
Baca Juga : Netanyahu Siapkan Langkah Hukum Tekan Erdogan
“Nah jadi pada saat kita kemarin juga menentukan kenapa BI nggak naikkan suku bunga kita, karena melihat bahwa karena anchor kita itu inflasi, anchor kita inflasi dan saat ini juga kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19%,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Berdasarkan asesmen BI, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.
Pertimbangan tersebut membuat BI memilih untuk tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga dalam menjaga stabilitas perekonomian. Bank sentral juga menggunakan sejumlah instrumen kebijakan lain yang lebih terarah.
Salah satunya adalah memberikan insentif biaya hedging bagi investor. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu mendorong masuknya arus modal ke Indonesia tanpa memberikan dampak luas seperti kenaikan suku bunga.
Destry menjelaskan, perubahan suku bunga memiliki dampak yang relatif luas terhadap perekonomian. Karena itu, BI memilih mengkombinasikannya dengan instrumen yang lebih spesifik dan menyasar sektor atau aktivitas tertentu.
Baca Juga : Mojtaba Ungkap AS Akan Terusir dari Timur Tengah
“Karena kalau naikkin, BI itu dampaknya langsung kena semuanya gitu. Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk, apa namanya, untuk si insentif itu, itu dampaknya kan hanya kepada si info yang akan masuk dimana dia akan mendapatkan margin cost yang lebih murah gitu,” kata Destry.
Menurutnya, kombinasi berbagai instrumen kebijakan diperlukan karena BI tidak hanya berkepentingan menjaga stabilitas, tetapi juga harus memperhatikan pertumbuhan ekonomi.
“Nah kemudian, jadi itu yang paling juga, kenapa mau nggak mau memang kita harus selalu mengkombinasikan kebijakan itu, karena pertumbuhan tetap menjadi concern kita karena mandat kita kan bertambah,” sambungnya.
