Xi Jinping Dorong Hubungan Baru China-AS Lebih Stabil
Presiden China Xi Jinping mendorong terwujudnya visi baru hubungan China dan Amerika Serikat (AS) yang konstruktif dengan menjadikan stabilitas strategis sebagai tindakan nyata.
Xi menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Kamis (24/9/2026).
Menurut Xi, visi baru tersebut mencerminkan realitas hubungan China-AS sekaligus menjadi harapan bagi masa depan kedua negara.
Baca Juga: Pesawat Iran Disita di Istanbul karena Utang?
“Visi baru tersebut mencerminkan realitas hubungan China-AS, mewakili ekspektasi untuk masa depan, dan merupakan langkah maju yang penting bagi kedua negara dalam menemukan cara yang tepat untuk dapat berhubungan baik,” tutur Xi, dikutip dari Xinhua.
Xi Minta Semua Sektor Terlibat
Xi mengatakan membangun hubungan China-AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis bukan sekadar langkah pragmatis dan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat.
Menurut dia, seluruh departemen, sektor, dan tingkatan pemerintahan di kedua negara perlu terlibat dalam upaya tersebut.
“Kedua pihak tidak boleh enggan melakukan kebaikan hanya karena hal tersebut dianggap kecil, dan tidak boleh melakukan keburukan hanya karena menganggapnya kecil,” ujar Xi.
“Kedua pihak harus melaksanakan konsensus yang telah dicapai dengan tekad dan ketekunan hingga benar-benar terlaksana,” imbuhnya.
Dalam pertemuan tersebut, Xi juga menyampaikan harapan agar Amerika Serikat dan Iran segera kembali menyelesaikan persoalan melalui dialog dan negosiasi.
Baca Juga: Trump Nilai Kuba Bakal Runtuh, China Bela Havana
Xi mengatakan China selalu meyakini bahwa kedaulatan dan keamanan seluruh negara harus dihormati serta secara konsisten memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan dan mendorong deeskalasi.
“China telah mendorong pihak-pihak terkait untuk tetap berkomitmen pada solusi damai dan mempertahankan momentum perundingan,” tutur Xi.
Xi juga menyatakan China mendukung AS dan Iran untuk kembali pada Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad.
Ia berharap kedua negara pada akhirnya dapat mencapai kesepakatan komprehensif yang mencakup persoalan nuklir dan berbagai isu lainnya serta mewujudkan perdamaian dalam waktu dekat.
