Pesawat Iran Disita di Istanbul karena Utang?
Sebuah pesawat Boeing 737 milik maskapai Iran, Caspian Airlines, disita petugas penegak hukum di Bandara Istanbul, Turki, pada Senin (28/9/2026). Penyitaan dilakukan terkait klaim utang sekitar 3 juta euro atau setara dengan Rp61,3 miliar.
Penyitaan tersebut membuat para penumpang yang sudah berada di dalam pesawat dan hendak terbang menuju Iran terlantar.
Dikutip dari Euronews, pengacara serta juru sita yang mewakili kreditur, perusahaan perwakilan dan pengawasan penerbangan ACM Temsil Gozetim, mendatangi pesawat ketika persiapan keberangkatan hampir selesai.
Mereka kemudian menyerahkan surat perintah penyitaan sebelum pesawat meninggalkan bandara.
Penumpang Caspian Airlines Dievakuasi
Setelah surat perintah tersebut disampaikan, penumpang dan awak kabin diminta turun dari pesawat. Mereka kemudian dikembalikan ke terminal Bandara Istanbul.
Baca Juga : Israel Serang Gaza, Tokoh Senior Hamas Dikabarkan Tewas
Caspian Airlines merupakan maskapai yang berbasis di Teheran dan beroperasi sebagai bagian dari grup penerbangan milik negara Iran. Maskapai tersebut menggunakan pesawat Boeing 737 untuk melayani sejumlah rute domestik dan internasional, termasuk penerbangan menuju Istanbul.
Penyitaan pesawat ini terjadi ketika industri penerbangan Iran menghadapi tekanan finansial dan operasional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Sanksi AS Tekan Industri Penerbangan Iran
Maskapai-maskapai Iran mengalami kesulitan dalam merawat armada dan memenuhi kewajiban finansial kepada mitra asing akibat sanksi Amerika Serikat (AS) yang telah diberlakukan selama beberapa dekade.
Sanksi tersebut membatasi akses Iran terhadap pesawat, suku cadang, layanan pemeliharaan, serta sistem keuangan internasional.
Perang antara AS dan Iran yang dimulai pada Februari lalu semakin memperberat kondisi tersebut. Gangguan berulang terhadap wilayah udara Iran dan pembatasan rute internasional membuat operasional penerbangan dari negara tersebut semakin terbatas.
Penyitaan Caspian Airlines di Istanbul juga terjadi hanya beberapa hari setelah sanksi sekunder AS terhadap sektor penerbangan Iran mulai berlaku.
Departemen Keuangan AS sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada 27 maskapai penerbangan Iran dan sembilan penyedia layanan terkait melalui Operasi Economic Outcast.
Washington memperingatkan bandara asing, pemasok bahan bakar, perusahaan layanan darat, serta perusahaan penjualan tiket yang masih melayani maskapai Iran dapat terkena sanksi dan berisiko kehilangan akses ke sistem dolar AS.
Penerbangan Iran Menyusut di Tengah Sanksi
Pemberlakuan sanksi sekunder tersebut berdampak terhadap jaringan penerbangan internasional Iran. Sejumlah penerbangan maskapai Iran dihentikan di Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Azerbaijan, dan Oman.
Sebagai respons, Mahan Air, maskapai swasta terbesar Iran, menangguhkan penerbangan menuju Turkiye dan Oman.
Baca Juga : China Salip AS, Targetkan Peta Geologi Mars Selesai di 2028
Lufthansa dan Austrian Airlines juga menghentikan sementara rute mereka ke Iran hingga 24 Oktober. Sementara itu, Qatar Airways menangguhkan layanan penerbangan dengan alasan pembatasan wilayah udara.
Di tengah pembatasan tersebut, China, Rusia, dan Pakistan masih mempertahankan penerbangan menuju dan dari Iran.
Data pelacakan penerbangan menunjukkan jumlah penerbangan internasional harian di bandara utama Teheran turun tajam. Sebelum sanksi diberlakukan, jumlah penerbangan berada di kisaran 80 hingga 90 penerbangan per hari. Pada Senin, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 41 penerbangan.
Teheran telah mengajukan pengaduan resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, serta Mahkamah Internasional.
Turkiye sendiri belum secara resmi melarang maskapai penerbangan Iran beroperasi. Karena itu, Caspian Airlines masih menjalankan rute Istanbul ketika pesawatnya disita terkait perkara utang tersebut.

[…] Pesawat Iran Disita di Istanbul karena Utang? […]