Iran Bantah IRGC di Balik Kemenangan Militer Houthi
Iran membantah tegas tudingan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berada di balik serangkaian keberhasilan militer strategis kelompok Houthi di sepanjang pesisir barat Yaman.
Dugaan keterlibatan Teheran muncul setelah sejumlah laporan intelijen dan media Barat menyebut penasihat IRGC membantu Houthi dalam mengarahkan pergerakan pasukan, menganalisis citra satelit, hingga memperkuat kendali atas Pelabuhan Mocha dan jalur maritim strategis di sekitar Selat Bab al-Mandeb.
Tudingan tersebut muncul ketika Iran masih melakukan pemblokiran di Selat Hormuz sebagai upaya menekan Amerika Serikat agar mencabut blokade angkatan lautnya. Meski demikian, pemerintah Iran dan pimpinan Houthi berulang kali menegaskan bahwa kelompok bersenjata Yaman tersebut menjalankan operasi militernya secara independen.
Baca Juga : Warganya Tolak Data Center, Trump Malah Dukung
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (29/9/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga berharap Arab Saudi dan Houthi mengutamakan negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama di kawasan tersebut.
Kemampuan Militer Houthi
Houthi berhasil menguasai wilayah Mocha dan Dhubab hingga Pulau Mayyun. Penguasaan wilayah tersebut secara praktis memutus akses pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menuju Laut Merah.
Peneliti risiko politik Nicholas Brumfield menilai keberhasilan tersebut tidak semata-mata bergantung pada dukungan dari Teheran. Menurutnya, meskipun Iran memberikan bantuan logistik dan saran taktis, operasi Houthi juga didorong oleh mobilisasi ribuan pasukan Yaman serta pengembangan kapasitas industri pertahanan kelompok tersebut secara mandiri.
Sekitar 76.000 pasukan lokal dikerahkan, sementara konsolidasi komando internal disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penguasaan Houthi atas wilayah pesisir barat Yaman.
Brumfield juga mengatakan Houthi memanfaatkan perpecahan di antara faksi-faksi yang mendukung pemerintah Yaman. Selain itu, minimnya dukungan udara dari aliansi negara-negara Teluk selama pertempuran di kawasan pesisir turut memberikan keuntungan bagi Houthi.
“Iran telah menempatkan penasihat di antara Houthi selama bertahun-tahun, IRGC (dan Hizbullah) terlibat dalam pengambilan keputusan tingkat tinggi Houthi, dan Iran terus memasok senjata dan teknologi kepada Houthi,” ujar Brumfield.
Aliansi Teluk Retak
Pertempuran kemudian meluas ke kawasan pegunungan strategis Taiz dan Lahij. Konflik darat di kedua wilayah tersebut semakin intensif ketika Houthi berupaya memperluas pengaruh militernya.
Baca Juga : Prabowo Panggil Menkeu, Airlangga, dan Bos Danantara, Ada Apa?
Di tengah eskalasi tersebut, para diplomat senior Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menggelar serangkaian pertemuan dengan pejabat Amerika Serikat di Washington dan Riyadh.
Pertemuan diplomatik itu berlangsung bersamaan dengan laporan bahwa Washington enggan memenuhi permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan udara balasan.
Sikap hati-hati Amerika Serikat tersebut menambah kompleksitas situasi yang dihadapi pemerintah Yaman. Sementara itu, Houthi terus berupaya memperkuat posisi militernya di sekitar jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah.
