Elon Musk Kembali Direkrut Pentagon Pimpin Project Meridian
Miliarder teknologi Elon Musk kembali dilibatkan dalam pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah sebelumnya meninggalkan pemerintahan. Kali ini, pendiri Tesla tersebut ditunjuk Pentagon untuk menjadi salah satu pemimpin studi strategis mengenai masa depan peperangan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengumumkan penunjukan tersebut dalam pidatonya di pangkalan militer Quantico pada Rabu (30/9/2026), sebagaimana dilansir AFP.
Hegseth mengatakan proyek bernama Project Meridian akan menjadi bagian penting dalam penyusunan strategi pertahanan militer AS ke depan. Proyek tersebut akan melibatkan sejumlah pemikir dan ahli teknologi untuk mempelajari perkembangan peperangan di masa mendatang.
“Kami memanfaatkan sumber keunggulan Amerika yang unik, yang tidak dimiliki oleh musuh-musuh kami: para inovator, pemimpin senior, dan ahli teknologi kami,” ujar Hegseth.
Baca Juga : AS Usir 2 Delegasi Iran yang Bertahan di New York setelah Sidang PBB
Ia menjelaskan, Project Meridian akan berfokus melihat perkembangan di masa depan, termasuk mengidentifikasi bidang yang perlu dikuasai serta kemampuan yang harus dikembangkan oleh militer AS.
Musk Jadi Co-Leader Project Meridian
Pentagon memberikan waktu 120 hari kepada Project Meridian untuk menyelesaikan studi dan menyerahkan hasil temuannya.
Dalam proyek tersebut, Musk tidak bekerja seorang diri. Ia ditunjuk sebagai co-leader bersama Palmer Luckey, pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries yang berusia 34 tahun, serta mantan Ketua DPR AS dari Partai Republik, Newt Gingrich, yang kini berusia 83 tahun.
Tim tersebut nantinya akan diperkuat para pemimpin sektor swasta yang dipilih serta pakar dari berbagai bidang, mulai dari ekosistem inovasi, akademisi hingga kebijakan.
Perusahaan Musk Sudah Lama Terlibat dengan Pentagon
Keterlibatan Musk dalam sektor pertahanan AS sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah perusahaan yang dimilikinya telah lama menjadi kontraktor utama Pentagon.
SpaceX, misalnya, tengah mengembangkan jaringan satelit untuk sistem perisai pertahanan rudal “Golden Dome” yang direncanakan pemerintahan Trump.
Sementara itu, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk, xAI, pada tahun ini menandatangani kesepakatan yang memungkinkan militer AS menggunakan chatbot Grok dalam sistem rahasia mereka.
Musk Kembali Dekat dengan Trump
Keterlibatan Musk dalam Project Meridian juga menjadi babak baru dalam hubungan politiknya dengan Trump.
Baca Juga : Rusia Ancam Nuklir Jika NATO Lakukan Blokade
Sebelumnya, Musk pernah menjabat sebagai Kepala Department of Government Efficiency (DOGE). Dalam posisi tersebut, ia memimpin berbagai langkah pemangkasan tenaga kerja di pemerintahan federal sebelum mengundurkan diri pada Mei 2025.
Pada Pemilihan Presiden AS 2024, Musk diketahui menghabiskan lebih dari US$250 juta untuk mendukung Trump dan Partai Republik hingga Trump kembali ke Gedung Putih.
Namun, hubungan keduanya sempat memburuk dan berkembang menjadi konflik terbuka, termasuk terkait produk legislasi yang diinisiasi Trump.
Kini, keduanya kembali menunjukkan hubungan yang lebih dekat. Musk bahkan kembali menjadi sosok yang beberapa kali terlihat di Gedung Putih.
Kedekatan tersebut terlihat pada Selasa (29/9/2026), ketika Musk duduk di samping Trump dalam jamuan makan siang bersama sejumlah eksekutif perusahaan AI.
Dalam kesempatan itu, Musk bersama para pemimpin teknologi lainnya menandatangani kesepakatan keselamatan AI sukarela. Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai sesuatu yang mengikat secara moral.
