Emas Venezuela Dibawa Trump Terbengkalai, Ini Sebabnya
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sempat terlihat puas ketika memandangi sepuluh batang emas Venezuela yang dipajang di Roosevelt Room, Gedung Putih, pada awal Maret 2026. Momen perayaan tertutup itu bahkan diwarnai candaan staf yang berseloroh ingin menyimpan kilauan logam mulia tersebut.
Namun, di balik perayaan itu, muncul persoalan yang mengganjal. Emas Venezuela senilai ratusan juta dollar AS yang dibawa ke Washington kini justru terbengkalai di gudang penyimpanan karena tidak ada perusahaan pemurnian emas internasional yang bersedia memprosesnya.
Kilang Emas Global Enggan Sentuh Emas Venezuela
Penolakan tersebut berkaitan dengan aturan ketat industri pemurnian emas internasional. Perusahaan pemurni diwajibkan memastikan pasokan emas tidak berkaitan dengan pendanaan kelompok kriminal, kerusakan lingkungan, maupun praktik korupsi.
Baca Juga : Rusia Ancam Serang Nuklir Jika Lakukan Blokade
Simon Houghton-Dodd dari Asahi Refining menyuarakan keraguan tersebut dalam pertemuan industri di London. Ia mempertanyakan apakah perusahaan pemurni akan bersedia menjadi pihak pertama yang secara terbuka menerima emas Venezuela.
“Apakah kami ingin menjadi pihak pemurni pertama yang secara terbuka mengumumkan bahwa kami menerima emas Venezuela?” kata Simon secara retoris, dikutip dari New York Times, Senin (28/9/2026).
Situasi ini berbanding terbalik dengan klaim keberhasilan pemerintahan Trump. Pada hari yang sama ketika batang-batang emas tersebut tiba di Washington, pemerintah AS mengeluarkan kebijakan baru yang mengizinkan impor emas Venezuela dari wilayah pertambangan yang rawan kejahatan.
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum bahkan memamerkan pembukaan jalur perdagangan emas tersebut dalam sebuah konferensi energi.
“Biasanya, Anda harus berlaga di Olimpiade untuk bisa membawa pulang emas,” ujar Burgum.
Pemerintahan Trump Klaim Ingin Benahi Industri Tambang Venezuela
Pemerintahan Trump membela kebijakan tersebut dengan alasan ingin memperbaiki industri pertambangan Venezuela sekaligus mengalihkannya dari pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh AS, termasuk Iran.
Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers mengatakan perubahan di sektor tersebut membutuhkan proses. Menurutnya, industri pertambangan dan emas Venezuela selama bertahun-tahun telah dirampas dari rakyat Venezuela dan digunakan untuk mendukung kelompok kriminal serta pihak-pihak lain.
“Selama bertahun-tahun, industri pertambangan dan emas Venezuela dirampas dari rakyat Venezuela serta digunakan untuk menopang kelompok kriminal berbahaya dan mendukung pihak-pihak jahat di seluruh dunia,” tulis Rogers.
“Amerika Serikat turut membantu mengatasi masalah yang telah berlangsung lama ini. Kami sedang membenahi industri pertambangan Venezuela. Perusahaan-perusahaan Barat tengah melakukan perbaikan dan memberikan legitimasi terhadap industri tersebut,” lanjutnya.
Investigasi Temukan Emas Venezuela Terkait Tambang Bermasalah
Namun, investigasi New York Times menemukan persoalan lain terkait asal-usul emas tersebut. Pesawat-pesawat pengangkut emas disebut telah menerbangkan logam mulia itu keluar dari Venezuela sebelum perusahaan terkait sempat melakukan survei terhadap lokasi pertambangan.
Baca Juga : Trump Janjikan Bantuan Puluhan Juta Jika Republik Menang di Pemilu Sela
Sebagian besar pasokan emas juga disebut memiliki keterkaitan dengan penambang lokal di El Callao yang membayar uang perlindungan kepada kelompok kriminal.
Selain itu, sejumlah pemodal asal AS berinvestasi di tambang yang terhubung langsung dengan kelompok kejahatan terorganisir. Kesepakatan tersebut disebut turut difasilitasi oleh pemerintahan Trump.
Situasi tersebut menjadi kontras dengan kebijakan Trump sebelumnya. Sebelum operasi komando AS yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Januari, Trump telah memasukkan emas Venezuela ke dalam daftar hitam karena dianggap berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan pendanaan kelompok kriminal.
Kini, meski Trump telah membawa emas tersebut ke ruang pamer Gedung Putih bersama sejumlah mitranya, termasuk CEO Trafigura Richard Holtum yang mendukung langkah tersebut, batang-batang emas itu belum dapat diproses menjadi komoditas legal yang bisa diperdagangkan secara bebas di pasar global.
