OPEC+ Sepakat Tahan Produksi Minyak hingga November 2026
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026.
Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan daring yang diikuti tujuh negara utama OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Meski target produksi dipertahankan, negara-negara produsen OPEC+ di kawasan Teluk masih memproduksi minyak jauh di bawah kuota yang telah ditetapkan.
Kondisi tersebut terjadi karena gangguan ekspor yang masih berlangsung akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Baca Juga: 26 Negara Bagian AS Gugat Trump tentang Standar BBM
Dalam beberapa bulan terakhir, volume ekspor minyak dari kawasan tersebut bahkan hanya mencapai sekitar 60-80 persen dari kondisi normal.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan kondisi tersebut membuat pasar minyak global masih berada dalam kondisi ketat meskipun pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat.
“Kelompok tujuh OPEC+ mempertahankan batas produksi mereka, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, walaupun aliran melalui Selat Hormuz meningkat, tingkat produksi mereka masih jauh di bawah kuota,” kata Staunovo dikutip dari CNBC, Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, harga minyak sempat turun pada Jumat setelah sejumlah negara Eropa menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas cadangan solar.
Negara-negara G7 juga mengumumkan pelepasan cadangan solar dan minyak mentah sebagai upaya meredam kenaikan harga bahan bakar.
Harga minyak mentah Brent turun tipis 6 sen menjadi 102,25 dollar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,76 dollar AS menjadi 91,11 dollar AS per barel.
G7 berencana melepas total 100 juta barel cadangan minyak selama empat bulan ke depan.
Pelepasan dalam jumlah besar akan dilakukan selama 20 hari pertama dengan fokus pada cadangan diesel.
Meski harga minyak mengalami penurunan, harga Brent masih bertahan di atas 100 dollar AS per barel.
Harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 73 dollar AS per barel sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari.
Baca Juga: Serangan ke Houthi Disiapkan Saudi, Amankan Laut Merah
Konflik di Timur Tengah juga membuat peningkatan target produksi OPEC+ sepanjang 2026 sebagian besar belum terealisasi dalam produksi aktual.
Tujuh negara utama OPEC+ tercatat memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bpd) pada Agustus, meningkat 630.000 bpd dibandingkan Juli.
Namun, angka tersebut masih sekitar 5 juta bpd lebih rendah dibandingkan tingkat produksi sebelum perang pada Februari.
OPEC+ juga masih mempertahankan pemangkasan produksi sebesar 2 juta bpd yang mencakup sebagian besar negara anggotanya.
OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 1 November 2026 untuk membahas kebijakan produksi minyak.
Perubahan terhadap target produksi diperkirakan belum akan dilakukan hingga 2027.

[…] OPEC+ Sepakat Tahan Produksi Minyak hingga November 2026 […]