AS Pantau Kasus Pekerja Lab Rusia, Khawatir Pes Menyebar
Pemerintah Amerika Serikat (AS) memantau secara ketat kematian seorang pekerja laboratorium di pusat penelitian pes di Siberia, Rusia.
Pekerja tersebut sebelumnya dikaitkan dengan dugaan infeksi pes pneumonik, meski otoritas Rusia belum mengonfirmasi penyebab kematiannya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington melihat kasus tersebut dengan “sangat serius”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan insiden tersebut perlu diawasi karena pes dapat menyebar apabila benar-benar lolos dari upaya pengendalian.
Namun, Rubio menegaskan belum ada alasan bagi masyarakat untuk panik.
Dilaporkan BBC, otoritas Rusia sejauh ini belum mengonfirmasi bahwa pekerja laboratorium tersebut meninggal akibat pes.
Gubernur Irkutsk Igor Kobzev menyebut penyebab kematiannya sebagai “pneumonia dengan etiologi yang belum diketahui”.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, juga mengatakan pemeriksaan terhadap sampel biologis korban tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Trump: AS Melihat Kasus Ini dengan Serius
Trump mengatakan dirinya belum berbicara dengan Kremlin mengenai kasus tersebut.
“Kami melihatnya dengan sangat serius. Kami baru saja mendengarnya,” kata Trump ketika ditanya mengenai dugaan kasus pes di Rusia, seperti dikutip BBC.
Trump mengatakan AS siap memberikan bantuan jika diperlukan.
“Saya tidak suka melihat mereka mengalaminya,” ujar Trump.
“Kami akan membantu. Siapa pun yang mengalami masalah seperti itu, kami akan selalu membantu,” lanjutnya.
Pemerintah AS diketahui memantau kasus tersebut bersama lembaga kesehatan dan keamanan terkait.
Sejumlah pejabat AS juga meminta transparansi lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi di laboratorium tersebut.
Baca Juga: Kontak Peneliti yang Meninggal di Rusia Dipantau WHO
Rubio: Belum Ada Alasan untuk Panik
Rubio turut menyinggung kemungkinan penyebaran penyakit apabila insiden tersebut benar-benar melibatkan pes pneumonik.
“Tampaknya ada seorang pekerja di laboratorium yang terinfeksi dan ada kekhawatiran bahwa penyakit itu mungkin menyebar, setidaknya secara internal. Kita sudah melihat mereka melakukan karantina dan langkah-langkah semacam itu,” kata Rubio.
“Jika sesuatu seperti itu lolos, penyakit tersebut bisa menyebar dengan cepat. Jadi kami mengawasi dan memantaunya dengan cermat,” lanjutnya.
Namun, Rubio menekankan situasi tersebut belum menjadi alasan untuk panik.
“Saya tidak berpikir ini alasan untuk panik, tetapi ini memang alasan untuk memberikan perhatian dan terus mengawasinya. Dan itulah yang sedang kami lakukan,” ujarnya.
Rusia Bantah Ada Keadaan Darurat di Laboratorium
Sementara itu, otoritas Rusia meminta masyarakat tidak berspekulasi mengenai kasus tersebut.
Rospotrebnadzor mengatakan tim keselamatan biologis telah memeriksa Institut Antipes Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk.
Menurut lembaga tersebut, tidak ditemukan situasi darurat ataupun insiden yang melibatkan mikroorganisme patogen di laboratorium.
Rospotrebnadzor juga mengatakan tidak ada pegawai lain dari institut tersebut yang mencari perawatan medis akibat penyakit menular dalam beberapa hari setelah kematian korban.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kemudian meminta publik tidak mengikuti “berbagai rumor” dan hanya mengacu pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor.
“Rospotrebnadzor adalah lembaga utama yang memiliki kewenangan dalam masalah ini,” kata Peskov, seperti dikutip Anadolu.
Ia meminta masyarakat memperhatikan informasi resmi ketimbang spekulasi yang beredar.
Isu Tabung Pecah Belum Terkonfirmasi
Sejumlah laporan media sebelumnya menyebut pekerja laboratorium yang meninggal, yang disebut bernama Daria dan berusia akhir 20-an, mungkin terpapar setelah sebuah tabung reaksi berisi bakteri hidup pecah.
Ada pula laporan lain yang menyebut pekerja tersebut mungkin terpapar setelah melakukan perjalanan lapangan ke wilayah Buryatia yang berbatasan dengan Mongolia.
Namun, kedua kemungkinan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Rospotrebnadzor justru menyatakan tidak menemukan bukti insiden laboratorium yang melibatkan mikroorganisme patogen.
Buryatia sendiri merupakan salah satu wilayah tempat bakteri Yersinia pestis, penyebab pes, dapat ditemukan secara alami pada hewan pengerat seperti marmot.
Pes Pneumonik Bisa Menular Antarmanusia
Pes pneumonik merupakan bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.
Berbeda dengan pes bubonik, pes pneumonik dapat menular langsung dari manusia ke manusia melalui droplet pernapasan.
Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan pes pneumonik hampir selalu berakibat fatal apabila tidak ditangani.
Namun, penyakit tersebut dapat diobati dengan antibiotik.
“Pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang dan itulah alasan munculnya kekhawatiran,” kata Clarke kepada BBC Radio 4.
Meski demikian, ia menilai situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan pandemi Covid-19.
“Orang mungkin langsung berpikir tentang lockdown, Covid, dan sebagainya setiap kali ada wabah penyakit menular, tetapi itu bukan yang akan terjadi di sini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pes belum sepenuhnya hilang.
“Orang berpikir, ‘Oh, pes itu sudah tidak ada, itu penyakit ratusan tahun lalu’, tetapi sebenarnya tidak,” kata Clarke.
“Penyakit itu masih ada dan di bagian tertentu dunia masih menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Itulah sebabnya penyakit tersebut perlu dipelajari,” lanjutnya.
Baca Juga: New York Tetapkan Darurat, Wabah Campak Melonjak
Hampir 200 Orang Sempat Dipantau
Media Rusia sebelumnya melaporkan hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan pekerja laboratorium tersebut ditempatkan dalam pengawasan medis sebagai langkah pencegahan.
Namun, jumlah pasti orang yang masih dipantau berbeda-beda dalam sejumlah laporan.
Otoritas Rusia menyatakan sejauh ini tidak ada kasus tambahan yang dilaporkan dari kalangan staf institut.
Kobzev juga mengatakan tidak ada pekerja lain yang menunjukkan gejala penyakit setelah kematian perempuan tersebut.
Pemerintah Rusia pun menyatakan situasi epidemiologis di Irkutsk dan Shelekhov tetap stabil.
Dengan demikian, dugaan adanya kasus pes pneumonik masih belum dikonfirmasi secara resmi.
AS tetap memantau perkembangan, sementara pemerintah Rusia meminta masyarakat mengandalkan hasil pemeriksaan resmi dan tidak menyimpulkan penyebab kematian sebelum seluruh pengujian selesai.
