Turkiye dan Pakistan Siap Kirim Pasukan ke Arab Saudi
Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat mengaktifkan langkah penangkalan bersama di bawah Pakta Pertahanan Mekkah setelah serangkaian serangan Houthi dari Yaman.
Kesepakatan tersebut mencakup pengerahan cepat pasukan dan kemampuan militer ke Arab Saudi.
Dilaporkan Al Jazeera, Senin (5/10/2026), keputusan itu diumumkan setelah menteri pertahanan dan luar negeri ketiga negara menggelar pertemuan darurat di Riyadh.
Ini menjadi pertama kalinya aliansi yang dikenal sebagai Mecca Alliance for Defence tersebut diaktifkan sejak ditandatangani pada 7 Agustus 2026.
Pakta tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu dari tiga negara akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Prinsip tersebut serupa dengan konsep pertahanan kolektif yang diterapkan NATO.
Baca Juga: New York Tetapkan Darurat, Wabah Campak Melonjak
Arab Saudi Sebut Respons atas Serangan Houthi
Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman mengatakan komite telah menyepakati pengaktifan langkah penangkalan kolektif.
“Komite sepakat untuk mengaktifkan langkah-langkah penangkalan kolektif, dalam kerangka aliansi, sebagai respons terhadap serangan-serangan dan semua pihak yang bertanggung jawab atasnya,” kata Khalid bin Salman melalui media sosial, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia mengatakan aliansi juga menegaskan kembali solidaritas dan persatuan ketiga negara dalam menghadapi serangan terhadap Arab Saudi dan tempat-tempat suci.
Sementara itu, pernyataan bersama yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut ketiga negara akan menyediakan pasukan serta kemampuan militer yang telah disepakati.
Mereka juga akan memastikan pengerahan pasukan ke Arab Saudi dilakukan secara cepat.
Komitmen tersebut akan dilaksanakan berdasarkan mekanisme yang telah disetujui dan sesuai dengan hukum masing-masing negara.
Pakta Pertahanan Mekkah dibentuk sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan dan konflik di kawasan.
Kesepakatan pertahanan trilateral itu ditandatangani Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi pada 7 Agustus 2026.
Pakta tersebut awalnya tidak merinci secara lengkap kewajiban militer yang harus dijalankan masing-masing negara.
Namun, ketiga negara kemudian mengambil sejumlah langkah untuk memformalkan kerja sama pertahanan tersebut.
Pada awal September, setelah Houthi menembakkan rentetan rudal ke Arab Saudi, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sempat mengatakan serangan terhadap kerajaan dapat memicu aktivasi pakta.
“Jika ada agresi tanpa provokasi, atau jika apa pun yang terjadi di Yaman meluas ke Arab Saudi, maka tentu saja perjanjian Mekkah akan berlaku,” kata Asif kepada Geo News, seperti dikutip Al Jazeera.
Hingga Senin, aliansi tersebut belum pernah mengambil tindakan nyata.
Baca Juga: Jet Terlihat Satelit, China dan Laos Bangun Fasilitas Militer
Houthi Klaim Serang Riyadh dan Fasilitas Aramco
Keputusan mengaktifkan pakta muncul di tengah meningkatnya pertempuran di Yaman.
Pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi mengklaim telah merebut kembali Kota Pelabuhan Mocha di Laut Merah dan menguasai Selat Bab al-Mandab.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi juga mengonfirmasi keterlibatannya dalam operasi tersebut.
Menurut Al Jazeera, koalisi mengatakan sekitar 100 jet tempur memberikan dukungan udara bagi pasukan pemerintah Yaman.
Di sisi lain, Houthi mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di Rabigh.
Kelompok tersebut juga mengklaim menyerang sejumlah bandara, pangkalan udara, dan lokasi penting lainnya.
Namun, klaim serangan Houthi tersebut belum dikonfirmasi oleh Riyadh.
Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi memiliki kekuatan militer gabungan yang besar.
Berdasarkan Global Firepower Index 2026, ketiga negara secara total memiliki hampir 1,4 juta personel militer aktif.
Ketiganya juga memiliki sekitar 3.400 pesawat militer, 6.000 tank, serta lebih dari 340 aset angkatan laut.
Besarnya kemampuan gabungan tersebut membuat aktivasi pakta menjadi perkembangan penting dalam arsitektur keamanan kawasan.
Analis sekaligus peneliti senior nonresiden di Gulf International Forum, Abdulaziz Alghashian, mengatakan serangan Houthi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir mempercepat terbentuknya mekanisme aliansi tersebut.
“Serangan dan provokasi Houthi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir benar-benar mempercepat aliansi Mekkah, bahkan menginspirasinya,” kata Alghashian.
Ia mengatakan peristiwa ini juga memberikan gambaran mengenai bentuk arsitektur keamanan regional yang mulai berkembang.
“Sekarang, saya pikir kita mulai melihat bagaimana semua ini diwujudkan. Ini adalah titik penting dalam sejarah kawasan,” ujarnya.
