AS Desak Iran Kurangi Pengayaan Nuklir, Ini Alasannya
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengatakan Iran harus secara signifikan mengurangi kapasitas pengayaan nuklirnya jika ingin memenuhi tuntutan Washington dan mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters setelah melakukan perjalanan kampanye di Alaska pada Senin (5/10/2026), Vance menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran tidak cukup hanya memuat janji untuk mengurangi aktivitas nuklir di masa depan. Washington, kata dia, menginginkan tindakan nyata terhadap kapasitas pengayaan uranium Iran.
“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, lalu mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga 60 persen?” kata Vance.
Baca Juga : Cadangan Minyak Dunia Disebut Mengkhawatirkan, Butuh 2 Tahun
“Jika Anda ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, jangan membuat bahan bakar yang diperkaya tinggi. Itu persoalan ambang batas yang sangat mendasar,” lanjutnya.
Menurut Vance, Iran harus mengambil langkah konkret untuk menunjukkan bahwa negara tersebut tidak memiliki niat mengembangkan senjata nuklir.
“Saya kira jika mereka ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membangun senjata nuklir, mereka harus melakukan sesuatu yang berarti terhadap kapasitas pengayaan mereka,” ujarnya.
AS dan Iran Saling Bertukar Proposal
Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa pekan terakhir telah saling bertukar proposal untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal terbaru dari Teheran dan memperingatkan bahwa operasi militer dapat meningkat setelah pemilu paruh waktu AS pada November.
Meski demikian, Vance mengatakan Washington masih terbuka untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, kesepakatan tersebut harus disertai konsesi konkret dari Teheran terkait program nuklirnya.
“Kami tidak akan menukar tindakan dengan sekadar kata-kata,” kata Vance.
Vance selama ini dikenal skeptis terhadap keterlibatan AS dalam perang di luar negeri. Namun, kini ia memainkan peran penting dalam upaya mencari penyelesaian konflik dengan Iran.
Ia sebelumnya ikut menengahi kesepakatan perdamaian sementara pada Juni. Namun, kesepakatan tersebut kemudian dengan cepat gagal.
AS Sebut Belum Jelas Siapa Pengambil Keputusan di Iran
Negosiasi dengan Iran juga menghadapi persoalan terkait struktur pengambilan keputusan di Teheran.
Vance mengatakan Washington masih belum sepenuhnya mengetahui siapa yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan di Iran.
Menurut dia, AS saat ini melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Namun, Washington belum mengetahui secara pasti seberapa besar kewenangan kedua pejabat tersebut dalam struktur kekuasaan Iran.
Ketidakpastian itu muncul setelah serangan gabungan AS dan Israel pada awal perang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
“Salah satu hal yang kami temukan adalah tidak sepenuhnya jelas bagaimana negara mereka mengambil keputusan,” kata Vance.
Trump pada Selasa (6/10/2026) juga menyampaikan pernyataan serupa. Ia mengatakan “masalah terbesar” yang dihadapinya adalah tidak ada yang mengetahui siapa yang kini menjalankan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pejabat AS sebenarnya mengetahui dengan baik siapa pihak yang menjadi mitra mereka di Iran, serta bagaimana sistem pengambilan keputusan negara tersebut bekerja.
“Masalahnya justru sebaliknya, yaitu terletak pada posisi yang saling bertentangan dan pesan yang tidak konsisten dari para pejabat AS,” kata Baghaei dalam konferensi pers pada Minggu (4/10/2026).
Vance Bicara Langsung dengan Komandan Lapangan
Vance mengatakan dirinya juga melakukan pembicaraan langsung dengan sejumlah komandan di lapangan untuk mengetahui perkembangan kondisi pertempuran.
Ia sekaligus menepis kekhawatiran mengenai kekurangan amunisi penting bagi pasukan AS.
Menurut Vance, pasukan Iran masih mampu menyerang kapal komersial di Selat Hormuz secara berkala. Namun, ia menilai Iran sebagian besar tidak mampu menghentikan ekspor energi yang melewati jalur perairan tersebut.
Vance tidak menjawab ketika ditanya apakah dirinya memimpin langsung perundingan damai dengan Iran. Namanya selama ini kerap disebut sebagai negosiator utama Gedung Putih dalam konflik tersebut.
“Kami tentu saja terlibat,” kata Vance.
“Pada akhirnya, Presiden Amerika Serikat yang menentukan arah.”
Perang Iran Jadi Isu Menjelang Pemilu AS
Perang dengan Iran yang dilaporkan menelan biaya sekitar 3 miliar dollar AS per bulan juga menjadi salah satu isu utama menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November.
Baca Juga : Kekayaan Elon Musk Tembus Rp17.000T, Saham SpaceX Melonjak
Kenaikan harga energi membuat Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan di sejumlah negara bagian dengan persaingan elektoral ketat yang akan menentukan kendali Kongres.
Vance berupaya meredam kritik terhadap penanganan konflik oleh pemerintahan Trump. Ia meminta para pemilih tidak menjadikan persoalan perang dengan Iran sebagai alasan untuk tidak mendukung kandidat Partai Republik dalam pemilu bulan depan.
Di Alaska, Vance berkampanye untuk Senator Republik Dan Sullivan yang menghadapi persaingan dengan penantangnya dari Partai Demokrat, Mary Peltola.
Trump memenangkan Alaska dengan selisih 13 poin persentase pada Pemilu 2024. Namun, kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari kini menjadi perhatian pemilih di negara bagian tersebut.
Dalam pidatonya sebelum diwawancarai Reuters, Vance banyak menyoroti persoalan keterjangkauan biaya hidup, khususnya energi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dirinya maju dalam pemilihan presiden 2028, Vance mengatakan belum mengambil keputusan.
“Saya memang suka menunda-nunda. Saya benar-benar belum terlalu memikirkannya,” katanya.
