Trump Sebut Tak Jelas Siapa yang Memimpin Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang saat ini menjalankan pemerintahan Iran setelah sejumlah tokoh penting negara itu tewas dalam perang dengan AS dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat membahas perang dengan Iran dalam kampanye di Nebraska pada Senin (5/10/2026).
“Para pemimpin mereka sudah tidak ada, kelompok pemimpin kedua mereka juga sudah tidak ada, dan masalah terbesar yang saya hadapi adalah tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjalankan negara itu,” kata Trump.
Namun, pemerintah Iran membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa mekanisme kepemimpinan serta pengambilan keputusan di negara itu tetap berjalan.
Baca Juga: AS Desak Iran Kurangi Pengayaan Nuklir, Apa Alasannya?
Iran Bantah Tak Jelas Siapa yang Berkuasa
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Washington mengetahui siapa yang menjadi mitranya di Iran dan memahami bagaimana sistem pengambilan keputusan di negara tersebut bekerja.
“Masalahnya justru sebaliknya, yaitu terletak pada posisi yang saling bertentangan dan pesan yang tidak konsisten dari para pejabat AS,” kata Baghaei dalam konferensi pers pada Minggu (4/10/2026), sebagaimana dikutip Reuters.
Pernyataan Trump muncul setelah terjadi perubahan besar dalam kepemimpinan Iran sejak perang dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari 2026.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama perang akibat serangan AS-Israel.
Putranya, Mojtaba Khamenei, kemudian menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Namun, menurut Reuters, Mojtaba belum terlihat di depan publik sejak mengalami luka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.
Iran kemudian membalas serangan AS dan Israel dengan melancarkan serangan ke Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel di Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Konflik tersebut juga berdampak terhadap harga bahan bakar global, termasuk di Amerika Serikat.
Kenaikan harga bensin dan solar turut meningkatkan kekhawatiran masyarakat AS mengenai biaya hidup menjelang pemilu paruh waktu pada November 2026.
Pemilu tersebut akan menentukan kendali atas Kongres Amerika Serikat.
Baghaei menilai tidak ada ketidakjelasan mengenai mekanisme kepemimpinan dan pengambilan keputusan di Iran.
Menurutnya, pemerintah Amerika Serikat mengetahui dengan baik siapa pihak yang menjadi lawan bicara Washington di Teheran.
Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan terhadap klaim Trump mengenai ketidakjelasan pihak yang saat ini menjalankan pemerintahan Iran.
Trump sendiri beberapa kali menyampaikan rentang waktu maupun tujuan yang berbeda mengenai perang dengan Iran, menurut Reuters.
Pemerintahannya menyatakan operasi terhadap Iran diperlukan untuk mencegah negara tersebut memperoleh kemampuan nuklir yang dinilai dapat mengancam keamanan Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Ungkap Iran Bisa Hancurkan LA dan San Diego
Trump Singgung Ancaman terhadap Kota-kota AS
Dalam kampanye yang sama di Nebraska, Trump juga menyinggung potensi ancaman Iran terhadap sejumlah kota di Amerika Serikat.
“Ini harga kecil yang harus dibayar untuk menjaga dunia tetap aman, menjaga negara kita tetap aman. Mereka bisa menghancurkan sebuah kota. Biarkan mereka menghancurkan Los Angeles, biarkan mereka menghancurkan San Diego,” kata Trump.
Pernyataan tersebut kemudian menuai kritik dari sejumlah pejabat California.
Gubernur California Gavin Newsom menyebut komentar Trump “tidak masuk akal dan berbahaya”.
Newsom kemudian menginstruksikan California State Threat Assessment Center untuk memantau situasi apabila terdapat pihak asing yang menafsirkan pernyataan Trump sebagai undangan untuk menyerang California.
Wali Kota Los Angeles Karen Bass juga mengkritik pernyataan tersebut, sedangkan Wali Kota San Diego Todd Gloria meminta Trump tidak menyeret kotanya ke dalam pembicaraan mengenai perang.
Gedung Putih membantah bahwa Trump bermaksud mendorong Iran menyerang Los Angeles atau San Diego.
Direktur Komunikasi Gedung Putih Stephen Cheung mengatakan Trump sedang menggambarkan ancaman yang menurut pemerintahannya dapat muncul apabila Iran memiliki senjata nuklir.
“Dia jelas mengatakan bahwa kota-kota AS akan terancam apabila Iran yang memiliki senjata nuklir tidak dihentikan,” kata Cheung.
Los Angeles dan San Diego sendiri menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer penting Amerika Serikat.
San Diego menjadi lokasi Naval Base San Diego, Naval Amphibious Base Coronado, serta Marine Corps Base Camp Pendleton.
Sementara itu, kawasan Los Angeles menjadi lokasi markas Space Systems Command milik Angkatan Antariksa AS dan Los Angeles Air Force Base.
