Budi Gunadi Sadikin Ingin AS Kembali ke WHO jika Terpilih
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kandidat Indonesia untuk memimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mendorong Amerika Serikat (AS) kembali bergabung dengan badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.
Budi menyampaikan pandangan itu dalam wawancara dengan Reuters di tengah proses pemilihan Direktur Jenderal WHO berikutnya.
Menurut Budi, banyak negara anggota WHO menginginkan AS kembali setelah negara tersebut resmi keluar dari organisasi itu pada Januari 2026.
Ia menilai keterlibatan AS penting karena penanganan pandemi tidak mungkin dilakukan oleh satu negara secara sendiri.
“Banyak negara anggota merasa AS harus kembali. AS harus kembali,” kata Budi.
Ia menambahkan bahwa secara ilmiah mustahil bagi sebuah negara untuk menghadapi pandemi sendirian.
Baca Juga: Presiden Iran Sebut Negosiasi dengan AS Tak Lagi Bermakna
Budi Ingin Jembatani Hubungan WHO dan AS
Budi merupakan satu dari enam kandidat yang telah mengumumkan pencalonannya untuk menggantikan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Kandidat lainnya berasal dari Qatar, Arab Saudi, Spanyol, Botswana, dan Belgia.
WHO kehilangan donor terbesarnya setelah AS resmi keluar pada awal 2026.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuduh WHO gagal menangani pandemi Covid-19 dengan baik.
Tuduhan tersebut dibantah oleh WHO.
Budi mengatakan dirinya mengenal Menteri Kesehatan AS Robert F Kennedy Jr secara pribadi.
“Kami bisa berbicara dengan mudah dan hubungan itu sudah ada,” ujarnya.
Kandidat lain juga dinilai memiliki potensi untuk menjembatani hubungan WHO dengan AS.
Salah satunya Hanan Balkhy, dokter asal Arab Saudi yang juga memiliki kewarganegaraan AS.
Reuters melaporkan, WHO akan mengumumkan daftar lengkap kandidat setelah rangkaian pertemuan komite regional terakhir yang diperkirakan berlangsung pada awal November 2026.
Pemungutan suara untuk memilih Direktur Jenderal WHO berikutnya diperkirakan digelar pada Mei 2027.
Budi Tawarkan Pengalaman Pendanaan dan Reformasi
Budi mengatakan pencalonannya untuk memimpin WHO diajukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan sejak 2020 dan memimpin program vaksinasi Covid-19 berskala besar di Indonesia.
Budi juga membawahi program pemeriksaan kesehatan gratis yang saat ini berjalan.
Sebelum masuk pemerintahan, Budi berkarier di IBM dan sektor perbankan, termasuk Bank Mandiri.
Latar belakang tersebut membuat Budi berbeda dari kandidat lainnya.
Ia menjadi satu-satunya kandidat Direktur Jenderal WHO yang tidak berasal dari organisasi tersebut dan tidak memiliki pelatihan formal di bidang kesehatan.
Kandidat lainnya merupakan dokter, ahli kesehatan masyarakat, atau pernah bekerja di WHO.
Budi justru menonjolkan pengalamannya dalam menghimpun pendanaan.
Menurutnya, WHO dapat membantu negara-negara anggota mendapatkan dukungan dari lembaga pembiayaan pembangunan seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia.
Dukungan tersebut dapat digunakan untuk menyusun dan menjalankan rencana kesehatan nasional masing-masing negara.
“Banyak (negara anggota) merasa bahwa meskipun mereka menerima dana dari para donor, lembaga kesehatan global, atau WHO, mereka diarahkan untuk melakukan hal-hal yang didorong oleh kantor kesehatan di Jenewa,” ujarnya.
Budi menilai persoalan pendanaan menjadi semakin penting bagi WHO setelah keluarnya AS memaksa organisasi tersebut memangkas anggaran.
Baca Juga: Danantara Investasi Rp4,5 Triliun di Migas AS, Apa Alasannya?
China Disebut Siapkan Kandidat Baru
Budi mengatakan hampir semua negara anggota menginginkan WHO melakukan reformasi.
Menurut dia, WHO perlu kembali berfokus pada mandat utamanya, yakni menetapkan norma dan standar kesehatan berdasarkan ilmu pengetahuan.
Ia juga menilai memulihkan kepercayaan negara-negara anggota lebih penting daripada sekadar menyelesaikan persoalan anggaran.
“WHO selama ini menangani terlalu banyak hal.”
Sementara itu, persaingan untuk memimpin WHO kemungkinan masih akan bertambah.
China disebut berencana mengajukan Song Li sebagai kandidat Direktur Jenderal WHO, menurut empat diplomat dan satu sumber yang mengetahui rencana tersebut sebagaimana dilaporkan Reuters.
Song merupakan pejabat senior kesehatan masyarakat dengan pengalaman sekitar 20 tahun di bidang kebijakan kesehatan ibu dan anak serta kerja sama internasional.
Song dan perwakilan China di Jenewa belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Seorang sumber diplomatik mengatakan rencana pencalonan Song menunjukkan keinginan China untuk mengisi kekosongan setelah AS mengurangi keterlibatannya di WHO.
China selama ini berupaya meningkatkan perannya di badan-badan PBB dan lembaga multilateral lainnya.
Di sisi lain, pemerintahan Trump mengurangi keterlibatan AS dengan PBB dan sejumlah organisasi di bawahnya.
WHO sendiri memimpin berbagai upaya internasional dalam menangani penyakit dan krisis kesehatan, termasuk wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo serta pandemi Covid-19.
Jika resmi maju, Song berpotensi menghadapi sorotan terkait hubungan WHO dan China selama pandemi Covid-19.
Pada 2020, Song menjadi pemimpin redaksi sebuah makalah yang memberikan panduan pencegahan dan pengendalian Covid-19 bagi perempuan di China.
Makalah tersebut disusun untuk menetapkan standar nasional dalam penanganan kesehatan ibu dan anak selama pandemi.
Jika terpilih, Song akan menjadi warga negara China kedua yang memimpin WHO setelah Margaret Chan.
