IMF Siapkan Utang Rp 3,3 Triliun untuk Papua Nugini
Dana Moneter Internasional (IMF) mencapai kesepakatan dengan pemerintah Papua Nugini untuk menyediakan pembiayaan hingga 189 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun.
Pembiayaan tersebut ditujukan untuk membantu negara tetangga Indonesia itu menghadapi tekanan ekonomi yang semakin meningkat.
Kesepakatan dicapai antara pejabat Papua Nugini dan tim IMF pada Selasa (6/10/2026).
Kepala Misi IMF untuk Papua Nugini Nir Klein mengatakan kondisi ekonomi negara tersebut secara umum masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target kinerja.
Namun, Papua Nugini tetap menghadapi lingkungan ekonomi yang penuh tantangan.
Baca Juga: AS Ancam Sanksi Bank Asing yang Masih Berbisnis dengan Iran
Setelah memperoleh persetujuan final, Papua Nugini akan langsung menerima pembiayaan sekitar 82 juta dollar AS.
Negara tersebut selanjutnya berpotensi mendapatkan tambahan pembiayaan hingga 107 juta dollar AS.
Pertumbuhan Ekonomi Papua Nugini Melambat
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Papua Nugini akan melambat menjadi 3,1 persen pada 2026.
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 3,8 persen yang dibuat pada awal tahun.
Sementara itu, tingkat inflasi Papua Nugini diperkirakan mencapai 4,8 persen.
Tekanan terhadap perekonomian negara tersebut antara lain berasal dari produksi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang mulai mengalami stagnasi.
Papua Nugini juga menghadapi dampak ekonomi yang lebih luas akibat fenomena El Nino serta konflik di Timur Tengah.
Kesepakatan terbaru dengan IMF merupakan bagian dari program reformasi ekonomi Papua Nugini.
Pada Maret 2026, IMF dan pemerintah Papua Nugini sebelumnya telah mencapai kesepakatan yang memberikan akses pembiayaan hingga 216 juta dollar AS setelah negara tersebut menunjukkan kemajuan dalam menjalankan reformasi ekonomi.
Program tersebut mencakup upaya memperbaiki kondisi anggaran pemerintah, memodernisasi operasional bank sentral, serta meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap dampak perubahan iklim.
Baca Juga: AS Desak Rusia Transparan tentang Kematian Teknisi Laboratorium
Klein mengatakan Papua Nugini juga telah mencatat kemajuan dalam memperkuat manajemen risiko bencana dan memasukkan aspek perubahan iklim ke dalam pengelolaan investasi publik.
Negara tersebut juga berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung pembiayaan iklim serta memperkuat insentif fiskal untuk perlindungan hutan dan efisiensi bahan bakar.
Papua Nugini merupakan negara tetangga Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah Papua.
Perekonomian negara tersebut sangat bergantung pada sektor sumber daya alam, termasuk gas alam cair.
Karena itu, perkembangan produksi LNG menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Papua Nugini.
