Ledakan Guncang Riyadh, Warga Asing Diminta Berlindung
Situasi keamanan di Arab Saudi dilaporkan semakin tegang setelah sejumlah ledakan terdengar di sekitar Riyadh pada Kamis (8/10/2026). Mengutip AFP, suara dentuman keras itu terdengar di tengah konflik yang kembali memanas antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.
Kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk Bandara Riyadh serta fasilitas penting dan instalasi militer.
Dalam laporan terbarunya pada Kamis siang, AFP menyebut para diplomat asing telah diminta berlindung di tempat perlindungan. Warga negara asing, termasuk para siswa di sekolah internasional, juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah pencegahan.
Baca Juga : Trump Berikan Dukungan Turki-Pakistan Kirim Pasukan ke Saudi
“Satu sekolah mengevakuasi murid-murid ke ruang bawah tanah demi keselamatan,” tulis AFP.
“Dua orang yang bekerja di pusat bisnis Riyadh, King Abdullah Financial District, juga mengatakan… bahwa sejumlah perusahaan sedang mengevakuasi staf dari kawasan tersebut,” tambahnya.
Tiga Orang Tewas dalam Serangan Bandara
Sehari sebelumnya, otoritas Arab Saudi melaporkan tiga orang tewas akibat serangan yang menyasar dua bandara internasional di negara tersebut, yakni Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Korban tewas terdiri atas seorang warga negara Mesir dan seorang warga negara Aljazair di Bandara Abha, serta seorang warga negara Sudan di Bandara Riyadh.
“Pada hari Selasa dan Rabu… Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan yang mengincar fasilitas-fasilitasnya,” kata pernyataan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi.
“Serangan-serangan itu juga melukai 36 orang,” tambahnya.
Konflik Arab Saudi dan Houthi Kembali Memanas
Konflik Yaman dalam bentuknya saat ini bermula lebih dari satu dekade lalu, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa. Peristiwa tersebut mendorong intervensi militer yang dipimpin Arab Saudi.
Baca Juga : Hizbullah Disebut Terima Sejumlah Dana dari Iran
Intensitas pertempuran kemudian menurun setelah gencatan senjata diberlakukan pada 2022. Namun, hubungan kedua pihak kembali memburuk sejak Juli 2026, ditandai dengan munculnya serangan lintas perbatasan.
Ketegangan meningkat pada Juli setelah Arab Saudi melancarkan serangan ke Sanaa sebagai respons terhadap serangan Houthi di wilayah Al-Jawf.
Memasuki September, Houthi melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah selatan Arab Saudi. Sejumlah sasaran yang dilaporkan menjadi target mencakup fasilitas energi dan instalasi militer.
Kelompok tersebut juga mulai menyerang kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah. Selain itu, Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi, sehingga konflik kedua pihak kembali meluas ke jalur maritim strategis tersebut.
