Iran vs Arab Saudi: Perbandingan Kekuatan Militer
Sejumlah analis menilai Iran dan Arab Saudi semakin dekat dengan potensi konfrontasi militer langsung yang berisiko memperluas konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran ini muncul setelah Riyadh kembali melancarkan serangan udara berskala besar terhadap kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Teheran, setelah jeda selama empat tahun.
Lebih dari 100 pesawat tempur Arab Saudi dilaporkan menggempur posisi Houthi pada Senin pekan ini. Operasi tersebut membuka jalan bagi pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali sebagian besar wilayah pesisir Laut Merah yang sebelumnya dikuasai Houthi pada bulan lalu.
Di sisi lain, kelompok Houthi disebut masih mendapatkan dukungan dari penasihat militer Iran yang berada di lapangan. Mereka juga meningkatkan serangan menggunakan drone dan rudal balistik ke wilayah Arab Saudi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diperkirakan akan terus memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok sekutunya melalui pasokan persenjataan dan informasi intelijen mengenai sasaran. Kelompok-kelompok tersebut merupakan bagian dari jaringan yang dikenal sebagai Poros Perlawanan (Axis of Resistance).
Baca Juga : Gedung Putih Sebut Trump Tak Akan Biarkan Iran Hancurkan LA
Eskalasi ini berpotensi menambah jumlah korban ketika pertempuran melibatkan lebih banyak pihak internasional. Pada Senin, Pakistan dan Turki menyatakan akan menyediakan pasukan serta kemampuan militer yang telah disepakati untuk segera dikerahkan ke Arab Saudi. Langkah tersebut mengacu pada Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang ditandatangani ketiga negara pada Agustus.
Para penasihat militer Pakistan juga dilaporkan telah ditempatkan bersama pasukan pemerintah Yaman. Mereka disebut membantu kebutuhan intelijen dan komunikasi untuk mengoordinasikan operasi melawan Houthi.
Dukungan terhadap operasi Arab Saudi turut datang dari negara-negara Barat. Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengirim satuan tugas khusus yang terdiri atas lebih dari 100 penasihat ke Riyadh. Inggris menyepakati penyediaan kemampuan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat Saudi, sedangkan unit pertahanan udara Prancis mengambil peran dalam menghadapi serangan udara Houthi yang mengancam infrastruktur ekspor minyak Arab Saudi.
Pada saat yang sama, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berupaya mengakhiri perselisihan mengenai dukungan terhadap faksi-faksi anti-Houthi yang saling bersaing di Yaman.
Iran Dinilai Sulit Menghentikan Dukungan kepada Houthi
Di tengah perkembangan tersebut, Teheran dinilai hanya memiliki ruang terbatas untuk menghentikan dukungannya terhadap Houthi, meskipun langkah itu berisiko memicu perang langsung dengan Arab Saudi.
Ali Alfoneh, peneliti senior di Arab Gulf States Institute yang berbasis di Washington sekaligus penulis Political Succession in the Islamic Republic of Iran, mengatakan kekhawatiran Iran terhadap kemungkinan serangan udara baru dari AS dan Israel semakin memperkuat ketergantungannya pada sekutu regional.
Menurut Alfoneh, kondisi tersebut membuat Iran semakin bergantung pada kelompok-kelompok seperti Ansarallah di Yaman, nama resmi gerakan Houthi.
“Houthi sebelumnya sangat berguna dalam menekan Arab Saudi,” kata Andreas Krieg, profesor madya studi pertahanan di King’s College London.
Namun, Krieg menilai keberhasilan Houthi menyerang Arab Saudi justru dapat merugikan kepentingan Teheran apabila memicu pembentukan koalisi internasional yang selama ini berusaha dihindari Iran.
Menurutnya, keterlibatan militer Pakistan dan Turki, pulihnya kerja sama operasional Arab Saudi dengan UEA, serta kehadiran pasukan Inggris dan Prancis di sekitar Arab Saudi merupakan sinyal yang patut diperhatikan Teheran.
Krieg memperkirakan Iran akan tetap mendukung Houthi, tetapi berusaha mengendalikan tingkat eskalasi agar tidak memicu insiden yang memperluas keterlibatan negara-negara lain.
Sejumlah skenario yang berpotensi memperburuk konflik antara lain jatuhnya korban dalam jumlah besar di kota suci Makkah dan Madinah, tewasnya personel militer negara-negara Barat, atau penutupan Selat Bab el-Mandeb. Jalur pelayaran tersebut merupakan penghubung penting perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Alfoneh juga menyoroti potensi gangguan terhadap pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz, serta serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan. Menurutnya, langkah-langkah tersebut masih menjadi cara bagi Teheran untuk menekan perekonomian global dan menggalang dukungan dari pihak-pihak yang menentang perang.
Tanpa instrumen tersebut, Alfoneh memperingatkan Iran berisiko menghadapi situasi serupa dengan Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein setelah Perang Teluk 1991 hingga invasi AS pada 2003.
Baca Juga : AS Tuduh China Suap Warga Fiji untuk Perluas Pengaruh
“Iran bisa menjadi miskin akibat sanksi dan embargo, kehilangan kekuatan dari dalam, serta rentan terhadap invasi darat AS,” paparnya.
Perbandingan Kekuatan Militer Iran vs Arab Saudi
Iran dan Arab Saudi merupakan dua kekuatan regional yang bersaing di Timur Tengah. Persaingan keduanya juga kerap dikaitkan dengan perbedaan aliran Islam Syiah dan Sunni. Jika konfrontasi militer langsung benar-benar terjadi, kemampuan militer kedua negara akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan perkembangan konflik.
Berikut perbandingan kekuatan militer Iran dan Arab Saudi berdasarkan data yang tercantum dalam naskah sumber.
1. Angkatan Udara
- Iran: Memiliki 551 pesawat, termasuk 188 pesawat tempur, 21 pesawat serang, 86 pesawat angkut, dan 6 pesawat tanker.
- Arab Saudi: Memiliki 917 pesawat, terdiri atas 283 pesawat tempur, 81 pesawat serang, 49 pesawat angkut, dan 22 pesawat tanker.
Dari sisi jumlah pesawat, Arab Saudi memiliki armada yang lebih besar. Namun, jumlah pesawat saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kemampuan tempur karena faktor teknologi, kesiapan operasional, persenjataan, dan dukungan logistik juga berpengaruh.
2. Angkatan Darat
- Iran: Sekitar 610.000 personel aktif secara keseluruhan, 2.675 tank, 75.939 kendaraan militer, 1.803 artileri tarik, dan 1.550 sistem peluncur roket multilaras (MLRS).
- Arab Saudi: Sekitar 247.000 personel aktif, 1.085 tank, 22.370 kendaraan militer, 557 artileri tarik, dan 327 MLRS.
Berdasarkan angka tersebut, Iran unggul dalam jumlah personel dan sejumlah kategori persenjataan darat. Meski demikian, kemampuan aktual di medan perang juga dipengaruhi pelatihan, pemeliharaan peralatan, struktur komando, dan dukungan logistik.
3. Angkatan Laut
- Iran: Memiliki 109 kapal, termasuk 25 kapal selam, 7 fregat, dan 3 korvet.
- Arab Saudi: Memiliki 32 kapal, terdiri atas 7 fregat dan 9 korvet, tanpa kapal selam.
Komposisi armada kedua negara menunjukkan pendekatan maritim yang berbeda. Iran memiliki kapal selam dalam jumlah cukup besar, sedangkan Arab Saudi mengandalkan kapal permukaan dalam struktur armadanya.
4. Rudal dan Drone
Persenjataan rudal dan drone menjadi salah satu unsur penting dalam persaingan militer kedua negara.
Iran memiliki persenjataan rudal yang beragam, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah yang mampu menjangkau sasaran di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi juga dilaporkan mengembangkan kemampuan rudalnya.
Namun, jumlah pasti rudal dan drone yang dimiliki kedua negara tidak dipublikasikan secara transparan. Karena itu, perbandingan menyeluruh berdasarkan jumlah persenjataan tersebut sulit dilakukan hanya dengan informasi yang tersedia.
5. Belanja Militer
Perbedaan juga terlihat dari anggaran pertahanan kedua negara. Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) untuk 2025 yang tercantum dalam naskah sumber, Arab Saudi mengalokasikan anggaran militer sebesar US$83,2 miliar, sedangkan Iran sebesar US$7,4 miliar.
Baca Juga : Ledakan Guncang Riyadh, Diplomat Asing Disarankan Berlindung
Selisih anggaran tersebut menunjukkan perbedaan besar dalam sumber daya finansial yang dialokasikan untuk sektor militer. Namun, besarnya anggaran tidak secara otomatis menentukan hasil konflik karena kemampuan operasional dan strategi masing-masing pihak juga berperan.
Dave Des Roches, mantan pejabat Pentagon sekaligus peneliti senior nonresiden di Gulf International Forum, menilai Iran akan berhati-hati dalam menggunakan persenjataan utamanya untuk membantu Houthi.
“Iran tidak akan mempertaruhkan kemampuan militer intinya, seperti drone dan rudal jarak lebih jauh yang mampu menyerang Israel, untuk mendukung Houthi,” kata Des Roches.
Menurutnya, dukungan terhadap Houthi justru menjadi cara Iran mempertahankan pengaruh regional tanpa harus mengerahkan seluruh kekuatan militernya secara langsung.
Bagi Teheran, Houthi merupakan sebuah “operasi penghematan kekuatan” yang melayani kepentingan Iran, bukan sebaliknya.
