Iran Ancam Balasan Lebih Dahsyat jika Kembali Diserang
Iran memperingatkan akan melancarkan serangan balasan yang lebih keras apabila kembali menjadi sasaran serangan militer.
Teheran juga menegaskan kesiapan menggunakan Selat Hormuz sebagai salah satu sarana untuk menghadapi pihak lawan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah.
Peringatan tersebut disampaikan sejumlah pejabat tinggi Iran pada Minggu (11/10/2026), ketika kekhawatiran terhadap kemungkinan pecahnya konflik baru di kawasan itu terus meningkat.
Baca Juga: Netanyahu Desak Penyelidikan Sutradara Film NAZA
Penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Reza Naghdi, menegaskan bahwa setiap serangan baru menggunakan rudal maupun pesawat akan dibalas dengan kekuatan lebih besar.
“Setiap provokasi atau serangan menggunakan rudal maupun pesawat akan dibalas dengan respons yang lebih berat dan menghancurkan,” kata Naghdi, dikutip dari Iran International.
Pernyataan serupa disampaikan Wakil Koordinator Angkatan Darat Iran, Habibollah Sayyari, yang mengatakan bahwa militernya telah menyerang sejumlah kapal dan siap kembali bertindak jika diperlukan.
“Kami telah mempertahankan diri dengan tegas dan akan terus melakukannya. Di mana pun diperlukan, kami akan bertindak untuk menyerang musuh,” ujarnya.
Iran Singgung Selat Hormuz dan Doktrin Nuklir
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa respons Teheran terhadap serangan militer berikutnya akan berbeda dari tindakan yang diambil dalam konflik sebelumnya.
“Respons kami dalam perang 40 hari berbeda dengan perang 12 hari, dan kami berharap pihak lawan akan menunjukkan sikap rasional,” kata Gharibabadi.
Ia juga menyinggung Selat Hormuz sebagai jalur perairan strategis yang dapat dimanfaatkan Iran untuk menghadapi pihak lawan.
Sementara itu, anggota parlemen Iran, Hassan Ghashghavi, mengungkapkan bahwa dukungan untuk meninjau kembali doktrin nuklir negara tersebut semakin menguat.
Menurut Ghashghavi, gagasan itu mendapat perhatian dari kalangan pejabat, pakar, hingga masyarakat umum.
Ia juga mengeklaim kendali Iran atas Selat Hormuz semakin kuat dan menyatakan jalur perairan tersebut tidak dapat dibuka kembali sebelum persyaratan Republik Islam Iran dipenuhi.
Surat kabar Iran, Khorasan, yang memiliki kedekatan dengan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, turut menyoroti kemungkinan pecahnya konflik baru.
Media tersebut menulis bahwa Washington dan Israel telah memutuskan untuk kembali berperang, serta menilai pertukaran diplomatik yang berlangsung belakangan ini kemungkinan tidak akan mengubah keputusan tersebut.
Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran Lagi Usai Bandara Saudi Diserang Houthi
Iran Kritik IAEA dan Serangan terhadap Infrastruktur Energi
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengkritik sikap lembaga-lembaga internasional, termasuk Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), yang dinilai tidak memberikan tanggapan semestinya terhadap serangan terhadap fasilitas nuklir dan nonnuklir Iran.
“Sikap diam dan pendekatan selektif lembaga-lembaga internasional serta IAEA terhadap serangan langsung ke fasilitas nuklir dan non-nuklir Republik Islam Iran mencerminkan kontradiksi yang nyata dan membawa dampak buruk dalam sistem internasional,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyoroti dampak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap infrastruktur minyak dan energi negaranya.
Menurut Araghchi, serangan tersebut menimbulkan risiko lingkungan, termasuk potensi pencemaran udara, tanah, dan air.
Di tengah ketegangan itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan insiden yang melibatkan kapal tanker dan pasukan militer di Teluk Oman.
Laporan tersebut muncul beberapa jam setelah militer AS mengumumkan serangan terhadap sebuah kapal yang berupaya menerobos blokade angkatan laut terhadap Iran.
UKMTO meminta kapal-kapal tetap waspada selama penyelidikan berlangsung.
Secara terpisah, serangan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu menuai kecaman dari para pemimpin Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan sejumlah pemerintah di kawasan.
Serangan tersebut juga memicu peringatan perjalanan, pernyataan solidaritas terhadap Arab Saudi, serta seruan untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil.
