Trump Ancam Serang Iran Lagi Usai Bandara Saudi Diserang Houthi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka kemungkinan melancarkan serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman dan kembali menyerang Iran setelah serangan mematikan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.
Serangan pada Sabtu (10/10/2026) tersebut menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, termasuk seorang warga negara AS yang tewas dalam insiden itu.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyebut peristiwa tersebut sebagai serangan paling mematikan di negara itu sejak pengeboman masjid di Qatif pada 2015.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuding kelompok Houthi yang didukung Iran sebagai pelaku serangan dan mengecam insiden tersebut sebagai kejahatan perang.
Koalisi itu juga menjanjikan pembalasan, meski belum menjelaskan tindakan yang akan diambil.
Beberapa jam setelah kejadian, sebuah proyektil dilaporkan jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Arab Saudi bagian timur.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Bantu Saudi Perangi Houthi di Yaman
Dikutip dari Iran International, Minggu (11/10/2026), Trump mengatakan Washington dapat bergabung dengan Riyadh untuk menyerang Houthi sekaligus kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski demikian, Trump menilai Arab Saudi memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri.
“Mereka mampu mempertahankan diri. Orang-orang Saudi adalah petarung yang tangguh. Namun, menurut saya serangan itu mengerikan,” kata Trump.
Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Spanyol turut mengimbau warganya menghindari Bandara Internasional King Khalid setelah serangan tersebut.
Korban tewas terdiri dari empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga AS, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Trump Ancam Iran Jelang Pemilu Sela AS
Dalam pernyataannya di Tennessee pada Sabtu, Trump juga memperingatkan Iran terkait kemungkinan tindakan menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026.
Trump menuding para pemimpin Iran berpotensi melakukan tindakan tambahan yang dapat merugikan posisi politiknya menjelang pemungutan suara tersebut.
“Mereka mungkin akan melakukan tindakan tambahan sebelum pemilu karena menganggap hal itu akan merugikan kami. Namun, kami bisa mengakhirinya dengan sangat cepat,” ujarnya.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengaitkan serangan Houthi dengan dukungan Teheran terhadap kelompok tersebut.
“Mengapa Houthi mampu melakukan semua ini? Karena mereka didanai, diperkuat, dan dilatih oleh Iran,” kata Huckabee kepada Newsmax.
Menurut Huckabee, pembatasan pengaruh Iran diperlukan untuk menghentikan serangan kelompok-kelompok yang didukung Teheran, termasuk Houthi, Hamas, dan Hizbullah.
Ia juga mengeklaim tekanan militer dan ekonomi pemerintahan Trump telah melemahkan Iran hingga mencapai posisi terlemahnya sejak 1979.
Baca Juga: Zelensky Tantang Trump, Minta Gencatan Senjata 60 Hari
AS dan Pakistan Dukung Arab Saudi
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi kematian seorang warga negara Amerika dalam serangan di Bandara Internasional King Khalid.
Rubio menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus mendesak kelompok Houthi segera menghentikan serangannya.
“Serangan tercela ini menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap nyawa warga sipil yang tidak bersalah. Serangan ini harus segera dihentikan,” tegas Rubio.
Dukungan terhadap Arab Saudi juga disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Ia menegaskan bahwa negaranya mendukung keamanan Arab Saudi berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah serta tetap berkomitmen menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan kerajaan tersebut.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim Al Thani menyerukan persatuan negara-negara Teluk untuk mendukung Riyadh.
Melalui platform X, Hamad menuding ancaman dari Yaman dikendalikan oleh pihak luar.
“Kini telah jelas bahwa Iran adalah musuh utama kita,” tulisnya.
Pernyataan tersebut berbeda dari sikap Hamad pada 2023, ketika ia mendukung perundingan dengan Iran dan menentang konfrontasi.
