Netanyahu Desak Penyelidikan Sutradara Film NAZA
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendesak penyelidikan terhadap dua sutradara film dokumenter NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor, yang merupakan jurnalis asal Israel. Ia juga meminta agar sumber anonim dalam film tersebut diproses secara hukum karena menuding militer Israel menggunakan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam serangan yang menewaskan warga sipil di Gaza.
“Saya meminta kepala staf umum, kepala Shin Bet, dan jaksa agung meluncurkan penyelidikan komprehensif terhadap siapapun yang terlibat dalam pembuatan film ‘Naza’ dan menuntut mereka atas pelanggaran serius keamanan informasi, pencemaran nama baik secara pidana, serta merugikan kepentingan diplomatik dan keamanan Israel,” kata Netanyahu melalui X pada Sabtu (10/10/2026) malam, dikutip dari Al Jazeera.
Netanyahu menilai film tersebut menyampaikan narasi yang tidak benar dan menyesatkan. Menurutnya, isi dokumenter itu juga mencemarkan reputasi Israel dan militernya di mata dunia.
Baca Juga : Trump Sebut Rusia-Ukraina Sepakati Gencatan Senjata Energi
“Film tersebut menyajikan narasi palsu, menyesatkan, dan bias yang mencemarkan Negara Israel dan [militer Israel] secara internasional, sehingga sangat merusak posisi Israel,” ujarnya.
Sutradara NAZA Dituduh sebagai Pengkhianat Negara
Yuval Abraham dan Rachel Szor kini menghadapi tuduhan pengkhianatan. Netanyahu bersama Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar bahkan mengancam akan mencabut kewarganegaraan keduanya.
Di tengah kontroversi tersebut, Kepala Direktorat Diplomasi Publik Nasional Israel, Tzipi Hotovely, pekan lalu memberikan sertifikat penghargaan kepada pembuat film dokumenter lain berjudul NAZA: The Real Story. Film itu dibuat untuk membantah tuduhan yang disampaikan dalam dokumenter pertama.
Menurut pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel, NAZA: The Real Story memuat kesaksian sejumlah tentara yang menyangkal klaim dalam film NAZA.
Namun, langkah terhadap kedua sutradara tersebut menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil. Channel 12 melaporkan, sebanyak 43 organisasi hak asasi manusia di Israel menyatakan dukungan kepada pembuat film NAZA dan mengecam ancaman yang ditujukan kepada mereka.
Kontroversi Film NAZA
Dokumenter NAZA menampilkan kesaksian 24 pelapor dari militer Israel yang identitasnya dirahasiakan. Mereka menuduh militer menggunakan sistem penargetan berbasis AI untuk melancarkan serangan yang menewaskan banyak warga sipil di Gaza.
Militer Israel membantah tuduhan tersebut pada bulan sebelumnya. Pihak militer menyebut sejumlah klaim para pelapor sebagai sesuatu yang absurd dan tidak sesuai dengan fakta.
Militer Israel juga menegaskan bahwa penentuan serta persetujuan sasaran serangan dilakukan oleh personel manusia dengan mengikuti pedoman militer yang berlaku.
Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir turut menyerukan kemungkinan tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film tersebut. Ia juga memerintahkan penyelidikan atas dugaan kebocoran informasi militer rahasia yang digunakan dalam produksi dokumenter NAZA.
Baca Juga : Trump Ancam Serang Iran Usai Bandara Saudi Diserang Houthi
Nama NAZA sendiri berasal dari istilah militer Israel untuk menyebut korban sipil yang diperkirakan muncul akibat serangan udara. Istilah tersebut merupakan singkatan dari frasa dalam bahasa Ibrani yang berarti “kerusakan kolateral”.
Terlepas dari kontroversi dan bantahan militer Israel, film NAZA berhasil meraih penghargaan juri khusus di Festival Film Internasional Venesia. Dokumenter tersebut juga mendapat sambutan meriah berupa standing ovation selama 25 menit, yang disebut sebagai momen bersejarah.
