Trump Punya 3 Opsi jika AS Bantu Saudi Serang Houthi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan melibatkan militernya dalam konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu (10/10/2026).
Serangan yang menghantam terminal penumpang tersebut menewaskan 12 orang dari berbagai negara, termasuk seorang warga negara AS, serta melukai lebih dari 200 orang lainnya.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, mengonfirmasi pada Minggu (11/10/2026) bahwa sebuah proyektil menembus terminal penumpang.
Insiden tersebut terjadi setelah kelompok Houthi mengklaim bahwa Bandara Sana’a, ibu kota Yaman yang berada di bawah kendali mereka, kembali diserang.
Eskalasi ini berpotensi mendorong keterlibatan militer AS yang lebih besar dalam konflik tersebut.
Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran Lagi Usai Bandara Saudi Diserang Houthi
Trump mengakui bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang Houthi.
“Kami mungkin saja melakukannya. Kami akan meninjaunya,” kata Trump.
Ia juga membuka peluang kembali menyerang Iran, meskipun sebelumnya menyatakan tidak akan melancarkan serangan terhadap negara tersebut sebelum pemilihan sela AS pada November 2026.
Di sisi lain, Houthi mengancam akan meningkatkan eskalasi jika AS ikut campur. Kelompok tersebut berpotensi mengganggu pelayaran di Selat Bab El Mandeb, jalur strategis perdagangan internasional, sekaligus memperburuk hambatan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Konflik Arab Saudi dan Houthi sendiri bermula pada 2015, ketika Riyadh melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.
Dilansir dari Newsweek, Minggu (11/10/2026), terdapat tiga opsi yang berpotensi dipertimbangkan Trump jika AS memutuskan mengambil sikap terhadap konflik tersebut.
Opsi 1: Serang Kilang Minyak Iran
Robert A Pape, profesor ilmu politik di Universitas Chicago yang memantau perkembangan konflik melalui buletin Substack-nya, Escalation Trap, menilai serangan terhadap Bandara Riyadh meningkatkan kemungkinan Trump melancarkan operasi militer.
Menurut Pape, para penasihat Trump kemungkinan akan mengusulkan eskalasi langsung terhadap Iran karena negara tersebut merupakan pendukung utama kelompok Houthi.
“Iran mungkin tidak memiliki kendali penuh 100 persen atas Houthi, tetapi Trump bisa saja beranggapan bahwa menyerang Iran pada dasarnya memungkinkannya mencapai dua tujuan sekaligus dalam satu serangan: Menyerang Houthi secara tidak langsung dan kemudian menyerang Iran secara langsung,” tutur Pape.
Dalam skenario tersebut, kilang minyak Iran berpotensi menjadi sasaran utama serangan AS.
Pape menjelaskan, serangan terhadap fasilitas minyak dapat ditujukan untuk memicu krisis ekonomi dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran.
“Para penasihat ekonominya akan mengatakan bahwa jika ia menyerang target kilang minyak, angka inflasi bisa melonjak drastis—bahkan melampaui 90 persen—hingga memicu hiperinflasi di dalam Iran,” ujar Pape.
Ia menambahkan, “Hal itu akan sangat menggoda baginya karena ia yakin hukuman semacam itu akan membuat Iran menyerah.”
Opsi 2: Serang Pemimpin Houthi
Opsi kedua adalah melancarkan serangan langsung terhadap kelompok Houthi di Yaman.
AS dapat menargetkan fasilitas militer di Pulau Perim yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memantau pergerakan kapal-kapal di kawasan tersebut.
Selain infrastruktur militer, Pentagon juga berpotensi menargetkan jajaran pimpinan Houthi apabila intelijen AS berhasil melacak keberadaan mereka.
Menurut Pape, keputusan Trump akan sangat dipengaruhi oleh tingkat ancaman terhadap keselamatan warga negara AS.
” Dengan menembak jatuh pesawat dan menyerang bandara yang di dalamnya terdapat warga Amerika, itulah risiko yang sebenarnya,” terang Pape.
Serangan terhadap sasaran yang berkaitan langsung dengan operasi militer Houthi dapat menjadi salah satu pilihan Washington untuk merespons ancaman tersebut tanpa harus memperluas serangan ke wilayah Iran.
Namun, langkah itu tetap berisiko memicu serangan balasan dan memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Siap Fasilitasi Dialog Arab Saudi dan Houthi
Opsi 3: Tidak Melancarkan Serangan
Meski pilihan militer terbuka, AS juga dapat memutuskan untuk tidak terlibat dalam perang antara Arab Saudi dan Houthi.
Jennifer Kavanagh, peneliti senior sekaligus direktur analisis militer di Defense Priorities, lembaga pemikir kebijakan luar negeri di Washington DC, menilai serangan di Bandara Riyadh tidak mengubah kepentingan mendasar AS di kawasan tersebut.
“Pertama, eskalasi ini tidak berdampak pada Amerika Serikat. Seperti yang dikatakan Trump, Houthi tidak menargetkan kapal-kapal AS dan Amerika tidak terlalu bergantung pada Selat Bab El Mandeb,” kata Kavanagh kepada Newsweek.
Ia juga menilai kemampuan militer AS untuk menghadapi konflik yang lebih luas memiliki keterbatasan, terutama karena persediaan amunisi mulai menipis.
“Kedua, Amerika tidak dalam posisi yang memungkinkan untuk menghadapi konflik lebih luas. Stok amunisi untuk mempertahankan pangkalan maupun untuk serangan presisi sudah mulai menipis.”
Kavanagh menambahkan bahwa pilihan militer AS terhadap Houthi juga terbatas.
“Terakhir, tidak banyak yang bisa dilakukan Amerika Serikat selain kembali melancarkan serangan bom terhadap target-target Houthi—langkah yang sebelumnya pernah dicoba, tetapi tidak membuahkan hasil,” lanjutnya.
Jika pemerintah AS akhirnya memilih untuk melakukan intervensi, Kavanagh memperkirakan pola serangan tidak akan jauh berbeda dari operasi militer sebelumnya.
“Jika AS benar-benar terlibat secara langsung, polanya akan seperti kampanye 2024-2025—serangan udara dan laut terhadap target-target Houthi. Kita sudah melihat bahwa Houthi mampu bertahan menghadapi hal itu,” pungkasnya.
