Iran Siapkan ‘Bapaknya Rudal’ Usai AS Ancam Pakai MOAB
Iran melontarkan ancaman balasan terhadap Amerika Serikat (AS) setelah muncul laporan bahwa Washington mempertimbangkan penggunaan bom konvensional terberatnya untuk menyerang Iran. Teheran menyatakan telah menyiapkan senjata rudal yang disebut sebagai father of Iranian missiles atau “bapaknya rudal Iran”.
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, mengatakan rudal tersebut dapat digunakan untuk menyerang infrastruktur energi dan aset investasi milik pihak yang dianggap sebagai musuh Iran di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu juga dipandang sebagai peringatan kepada AS dan sekutunya, Israel.
Dilansir Press TV, Senin (19/10/2026), pernyataan Naqdi muncul setelah AS dilaporkan mempertimbangkan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), yang dikenal dengan julukan mother of all bombs atau “ibu dari segala bom”.
Baca Juga : Ribuan Toko Rusak Imbas Kerusuhan di Prancis, Macron Angkat Bicara
Naqdi, yang juga menjabat sebagai penasihat senior panglima tertinggi IRGC, menyampaikan ancaman tersebut saat berpidato dalam kampanye “Pengorbanan untuk Iran” di Sari, Iran bagian utara, pada Minggu (18/10) waktu setempat. Acara itu dihadiri ribuan orang.
“Kami telah mempersiapkan ‘bapaknya rudal-rudal kami’, dan jika musuh melakukan langkah yang keliru, serangan mereka pasti akan gagal, dan tidak akan ada jalan keluar bagi mereka,” ucap Naqdi.
Istilah “bapaknya rudal kami” diduga menjadi balasan retoris terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan penggunaan bom MOAB. Senjata tersebut merupakan bom konvensional non-nuklir dengan daya ledak besar yang dapat digunakan untuk menghancurkan sasaran tertentu.
Naqdi juga memperingatkan bahwa tindakan militer terhadap Iran dapat memicu serangan balasan terhadap kepentingan ekonomi pihak lawan di kawasan tersebut.
“Jika terjadi kesalahan perhitungan, seluruh infrastruktur dan investasi energi milik pihak agresor di kawasan ini akan berada dalam jangkauan operasional, dan keamanan aset-aset tersebut akan terancam secara langsung,” tegas Naqdi.
Ia mengklaim bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah memperlihatkan kemampuan rudal dan daya tangkal yang mampu merespons ancaman militer AS. Menurutnya, Iran siap memberikan balasan terhadap setiap tindakan yang dinilai sebagai agresi.
Naqdi turut menyatakan bahwa kesiapan militer dan perlawanan masyarakat Iran telah mencegah kemungkinan serangan darat. Ia juga mengklaim kapal-kapal musuh terpaksa mundur hingga 1.000 kilometer di lautan.
Naqdi Sebut Pernyataan Trump sebagai Pengakuan Kekalahan
Dalam kesempatan yang sama, Naqdi menanggapi pernyataan Trump mengenai kemungkinan peningkatan tindakan militer terhadap Iran. Ia menilai pernyataan Presiden AS yang mengindikasikan kesabarannya mulai habis justru menunjukkan kelemahan posisi Washington dalam konflik tersebut.
Naqdi menyebut pernyataan itu sebagai “pengakuan kekalahan secara terbuka”. Menurutnya, ancaman untuk mengambil tindakan yang lebih keras tidak sejalan dengan klaim kemenangan yang sebelumnya disampaikan pemerintah AS.
Ia berpendapat bahwa pihak yang benar-benar merasa unggul tidak akan menyatakan kehabisan kesabaran dalam menghadapi lawannya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari respons Iran terhadap meningkatnya tekanan dan ancaman militer dari Washington.
Terkait bom MOAB, Naqdi mengklaim senjata berbobot sekitar 14 ton itu pernah dijatuhkan di Iran selama perang 12 hari melawan Israel pada 2025. Ia juga menyatakan sejumlah bom tersebut gagal meledak dan kemudian berhasil disita oleh pasukan Iran.
Namun, klaim mengenai penggunaan dan penyitaan bom tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan tidak dapat dianggap terverifikasi secara independen berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan tersebut.
IRGC Sindir Julukan ‘Mother of All Bombs’
Kecaman terhadap ancaman AS juga disampaikan juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi. Ia mengkritik penggunaan kata mother atau “ibu” untuk menamai bom konvensional terbesar milik AS.
Mohebbi menilai penggunaan istilah yang memiliki makna sakral untuk menyebut senjata penghancur merupakan sesuatu yang tidak pantas. Pernyataannya disampaikan dalam komentar yang bernada sindiran terhadap Washington.
Dalam pernyataan pada Sabtu (17/10), ia mengatakan bahwa hanya “peradaban barbar” yang menggunakan istilah sakral semacam itu untuk sebuah senjata.
Mohebbi juga menyampaikan bahwa bangsa yang mampu menghadapi ancaman dengan ketahanan dan humor akan memiliki keunggulan dalam menghadapi tekanan lawan.
Ia menambahkan bahwa masa depan adalah milik bangsa yang dapat mengubah ancaman “terbesar” dari musuh menjadi bahan lelucon publik.
Penggunaan Bom MOAB Picu Pertanyaan soal Strategi AS
Pertimbangan AS untuk menggunakan MOAB menandai potensi peningkatan eskalasi konflik antara Washington dan Teheran. Ancaman tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konfrontasi militer serta dampaknya terhadap keamanan kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Kremlin Sebut Trump, Putin dan Xi Berpeluang Bertemu di KTT APEC
Meski memiliki daya ledak besar, penggunaan senjata tersebut belum tentu dapat memenuhi tujuan strategis yang ingin dicapai AS. Sejumlah pejabat yang mengetahui pembahasan perencanaan militer dilaporkan mempertanyakan efektivitas bom itu dalam mendukung sasaran operasi Washington.
Di sisi lain, ancaman Iran untuk menyasar infrastruktur energi dan investasi pihak lawan dapat meningkatkan risiko terhadap aset-aset strategis di kawasan. Jika ancaman tersebut berkembang menjadi aksi militer, dampaknya berpotensi meluas ke sektor energi dan kepentingan ekonomi regional.
Hingga saat ini, ancaman penggunaan MOAB oleh AS dan pernyataan balasan Iran menunjukkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Namun, pertimbangan penggunaan senjata tersebut belum dengan sendirinya berarti keputusan serangan telah ditetapkan.
