Gunakan Bahasa Jawa, Parlemen Malaysia Minta Prabowo Atasi Karhutla
Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, menyampaikan pesan kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto menggunakan bahasa Jawa. Ia mendesak pemerintah Indonesia segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap hingga menyebar ke Malaysia.
Dilansir New Straits Times, Kalam menyampaikan seruan tersebut dalam pidatonya di Dewan Rakyat Malaysia. Ia berharap pesannya dapat didengar oleh para pemimpin Indonesia.
“Pak Prabowo, mohon segera mengambil tindakan, padamkan api, hentikan pembakaran, dan pastikan masalah ini tidak berulang setiap tahun,” kata Kalam, seperti dikutip Bernama.
Ia juga berharap langit kembali cerah dan udara bersih sehingga masyarakat Indonesia dan Malaysia dapat hidup sehat serta damai.
Baca Juga : Indonesia Jalin Kerja Sama Pertahanan, Apa Itu Aliansi Badr?
Kalam kemudian menyampaikan pesannya dalam bahasa Jawa. Menurutnya, penggunaan bahasa tersebut diharapkan dapat membantu menyampaikan maksudnya kepada para pemimpin Indonesia yang mungkin tidak memahami bahasa Melayu.
“Dengan izin Dewan yang terhormat ini, izinkan saya berbicara dalam bahasa Jawa,” ujarnya sebelum menyampaikan seruan tersebut.
Kabut Asap Ganggu Aktivitas Masyarakat Malaysia
Dalam pidatonya, Kalam mengatakan masyarakat Malaysia terus merasakan dampak kabut asap yang berasal dari Indonesia. Hal itu terjadi meskipun pemerintah Malaysia telah menjalankan sejumlah langkah yang sebelumnya ia usulkan.
Menurut Kalam, kabut asap menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kesulitan bernapas, tenggorokan gatal, dan batuk hingga memburuknya kondisi asma serta masalah pernapasan lainnya.
Dampaknya juga dirasakan oleh sektor pendidikan, pariwisata, dan perkebunan. Ia menyebut sejumlah sekolah terpaksa ditutup, aktivitas pariwisata terganggu, dan pekerjaan di perkebunan tidak dapat berjalan seperti biasa.
Kalam menambahkan bahwa warga Indonesia yang bekerja di perkebunan Malaysia turut menanggung dampak tersebut. Ketika tidak bisa bekerja, mereka kehilangan penghasilan dan kesulitan mengirimkan uang kepada keluarga di Indonesia.
Ia juga menyindir anggapan bahwa hutan Indonesia selama ini menjadi pemasok oksigen bagi Malaysia.
“Apakah pohon-pohon di Malaysia terbuat dari plastik? Apakah pohon-pohon itu tidak bisa menghasilkan oksigen?” katanya.
Usulan Langkah Regional untuk Mengatasi Kabut Asap
Sebelum menyampaikan pesan dalam bahasa Jawa, Kalam mendesak pemerintah Malaysia memanfaatkan jalur diplomatik untuk meminta Filipina, selaku Ketua ASEAN 2026, mendorong langkah regional yang lebih kuat dalam menangani pencemaran udara lintas batas.
Dikutip dari Bernama, usulan tersebut meliputi peningkatan penegakan hukum bersama, pengembangan sistem peringatan dini berbasis pemantauan satelit, serta pembentukan tim tanggap darurat regional.
Kalam juga mendorong penguatan implementasi Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Udara Lintas Batas melalui mekanisme pertanggungjawaban yang lebih efektif.
Baca Juga : Usai Serangan Houthi, AS Evakuasi Diplomat dari Saudi
Selain itu, ia mengusulkan pembentukan dana regional yang dapat digunakan untuk mencegah kebakaran, memulihkan lahan gambut, dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak kabut asap.
Dalam pembahasan yang sama, anggota parlemen dari Batang Lupar, Mohamad Shafizan Kepli, meminta pemerintah Malaysia mempertahankan tekanan diplomatik melalui mekanisme regional. Ia juga menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran hutan penyebab kabut asap lintas batas.
Shafizan mencontohkan langkah Singapura yang telah mengeluarkan pemberitahuan tindakan pencegahan berdasarkan Undang-Undang Kabut Asap Lintas Batas kepada 10 perusahaan di Indonesia yang dicurigai terlibat dalam aktivitas pembakaran penyebab kabut asap.
Ia kemudian mempertanyakan apakah Malaysia memiliki ketentuan hukum serupa dan apakah pemerintahnya akan mengambil langkah hukum sebagaimana yang dilakukan Singapura.

[…] Gunakan Bahasa Jawa, Parlemen Malaysia Minta Prabowo Atasi Karhutla […]