Macron Sindir Trump dan Netanyahu soal Kerusuhan di Perancis
Presiden Perancis Emmanuel Macron menyindir sejumlah pemimpin dunia yang melontarkan komentar mengenai demonstrasi yang berujung kerusuhan di negaranya.
Pernyataan Macron tersebut diduga ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meskipun ia tidak menyebut nama keduanya secara langsung.
Dilansir France24, Netanyahu pada Selasa (20/10/2026) mengatakan bahwa Perancis telah dilanda invasi para ekstremis. Sementara itu, Trump menyebut situasi di Perancis disebabkan oleh para imigran.
Macron menegaskan, kerusuhan dalam demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026) tidak berkaitan dengan imigran maupun kelompok ekstremis. Ia juga membantah adanya campur tangan asing dalam peristiwa tersebut.
Baca Juga: Korut Siagakan Senjata Baru, Ketegangan dengan Korsel Naik
Macron Sebut Ada Manipulasi Informasi dari Luar Negeri
Macron menuding manipulasi informasi dari luar negeri telah memengaruhi komentar sejumlah tokoh, termasuk pemimpin negara lain.
“Ada manipulasi informasi dari luar negeri yang menyebabkan komentar-komentar yang tidak dapat diterima, bahkan bodoh, dari banyak pihak, termasuk para pemimpin asing,” kata Macron kepada wartawan di Doha, Qatar, setelah melakukan kunjungan ke kawasan Teluk.
Ia juga memperingatkan bahwa sejumlah gambar yang beredar di tengah kerusuhan merupakan hasil kecerdasan buatan (AI) dan memperlihatkan kejadian yang sebenarnya tidak pernah berlangsung di Perancis.
“Kami melihat gambar-gambar yang dihasilkan AI (kecerdasan buatan) yang menunjukkan adegan yang tidak pernah terjadi di Perancis,” ujar Macron.
Ia kemudian menyinggung sikap sejumlah pihak yang memberikan komentar negatif mengenai negaranya.
“Pada saat-saat seperti ini, Anda bisa melihat siapa yang menyukai Perancis dan siapa yang tidak. Semua orang yang berbicara buruk tentang kami sekarang tidak menyukai negara kami,” imbuhnya.
Macron menilai komentar para pemimpin tersebut tidak terlepas dari kepentingan politik menjelang pemilihan umum di negara masing-masing.
Trump dijadwalkan menghadapi pemilihan paruh waktu AS pada November 2026, sedangkan Netanyahu menghadapi pemilihan umum di Israel pada bulan yang sama dengan rangkaian peristiwa tersebut.
Baca Juga: China Patroli Kepulauan Pratas, Taiwan Waspadai Beijing
Demonstrasi Dipicu Biaya Hidup dan Tuntutan Pelajar
Menurut laporan The New York Times, demonstrasi di Perancis merupakan gabungan gerakan pelajar yang menuntut perbaikan kondisi sekolah dan gerakan nasional yang memprotes tingginya biaya hidup.
Kementerian Dalam Negeri Perancis memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah. Sementara itu, serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.
Aksi yang berlangsung pada akhir pekan tersebut kemudian berujung ricuh, dengan insiden pembakaran, pemukulan, hingga penjarahan.
Di Limoges, Perancis bagian tengah, sebuah serangan pembakaran menghancurkan sebagian gedung balai kota. Sementara itu, di Marseille, kota terbesar kedua di Perancis, sekelompok orang bertopeng menerobos masuk ke gedung pemerintah dan menggulingkan patung dada Marianne, simbol republik Perancis.
Kerusuhan tersebut juga menyebabkan kerusakan terhadap sekitar 1.500 toko dan berbagai simbol negara. Hampir 2.400 orang ditangkap, sedangkan pemerintah memperkirakan sedikitnya 3.000 tempat usaha dijarah selama akhir pekan.
Menteri Kehakiman Perancis Gerald Darmanin menyatakan pada Selasa bahwa lebih dari 700 orang diperkirakan akan menjalani persidangan dalam beberapa hari berikutnya.
