Taiwan Tuduh China Gunakan Kapal Milisi untuk Persiapan Perang di Pasifik
Taiwan menuding China menggunakan kapal milisi yang beroperasi bersama kapal penjaga pantai untuk memperluas persiapan operasi militer di sekitar Taiwan hingga kawasan Pasifik Barat.
Menurut otoritas Taiwan, aktivitas tersebut meningkatkan tekanan keamanan terhadap wilayahnya dan berpotensi berdampak terhadap Jepang serta Filipina.
Peringatan itu muncul setelah sebuah kapal nelayan China yang diduga menjadi bagian dari milisi maritim terdeteksi di lepas pantai timur Taiwan pada Agustus 2026.
Dilansir dari Reuters, Jumat (23/10/2026), Penjaga Pantai Taiwan menyatakan telah mengerahkan kapal patroli untuk mengusir kapal tersebut.
Kapal bernama Minfudingyu 07902 itu terpantau beroperasi bersama kapal penjaga pantai China dan kapal penelitian.
Menurut otoritas Taiwan, aktivitas tersebut merupakan bagian dari operasi yang dapat digunakan untuk mempersiapkan kemungkinan konflik di kawasan.
Baca Juga: Instalasi Trump di Balik Jeruji Besi Jadi Tontonan Warga Teheran
Kapal Milisi China Terdeteksi Dekat Taiwan
Penjaga Pantai Taiwan menjelaskan bahwa kapal Minfudingyu 07902 terdeteksi pada 16 Agustus 2026.
Kapal tersebut dilaporkan mendekati batas perairan terbatas Taiwan hingga berjarak sekitar 2,7 mil laut dari batas kawasan tersebut.
Otoritas Taiwan kemudian mengerahkan kapal patroli untuk menghalau kapal yang diduga menjadi bagian dari milisi maritim China itu.
Temuan tersebut pertama kali diungkap Reuters melalui laporan pengawasan yang dibuat perusahaan penerbangan Taiwan, Apex Aviation.
Dalam laporannya, Apex Aviation menggunakan rekaman radar, citra inframerah, dan data sistem identifikasi otomatis kapal untuk mendokumentasikan keberadaan kapal-kapal China.
Penemuan itu menjadi laporan pertama yang diketahui mengenai keberadaan kapal milisi China di perairan lepas pantai timur Taiwan yang menghadap Samudra Pasifik.
Penjaga Pantai Taiwan kini memasukkan Minfudingyu 07902 ke dalam daftar pengawasan prioritas karena dinilai menunjukkan karakteristik aktivitas milisi maritim China.
Taiwan Nilai China Perluas Persiapan Operasi Militer
Menurut Penjaga Pantai Taiwan, China meningkatkan aktivitas maritim di kawasan tersebut sejak Juni 2026.
Peningkatan itu terjadi setelah Jepang dan Filipina mengumumkan pembicaraan mengenai penetapan batas wilayah maritim di zona ekonomi eksklusif (ZEE) masing-masing.
ZEE merupakan wilayah laut yang dapat membentang hingga 200 mil laut dari garis pantai, tempat negara pesisir memiliki hak untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.
Taiwan menilai China memadukan penggunaan kapal milisi, kapal penjaga pantai, dan kapal penelitian untuk memperluas pengaruhnya tanpa memicu konflik militer secara terbuka.
Strategi tersebut dikenal sebagai operasi zona abu-abu atau grey-zone operations.
“Operasi zona abu-abu yang kompleks seperti ini tidak hanya meningkatkan beban pengawasan dan respons maritim Taiwan, Jepang, dan Filipina, tetapi juga dapat menciptakan tekanan keamanan regional serta memengaruhi tatanan maritim internasional yang ada,” kata Penjaga Pantai Taiwan dalam pernyataan kepada Reuters.
Otoritas Taiwan menilai aktivitas tersebut bertujuan membantu “persiapan medan perang” dengan memperluas jangkauan operasi China di laut.
Pantai timur Taiwan dinilai strategis karena menjadi jalur pelayaran dan pasokan yang penting apabila terjadi konflik atau blokade.
Sejumlah pejabat Taiwan menduga China sedang berlatih menghadapi kemungkinan blokade maritim dengan melibatkan unsur militer, paramiliter, dan kapal sipil.
Namun, dugaan tersebut merupakan penilaian otoritas Taiwan dan belum membuktikan bahwa China telah memutuskan untuk melakukan blokade.
Baca Juga: Topan Super Champi Ancam Taiwan, Ratusan Penerbangan Batal
China selama ini menyatakan Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencapai penyatuan.
Sebaliknya, pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing dan menyatakan bahwa hanya masyarakat Taiwan yang berhak menentukan masa depan wilayah tersebut.
Beijing juga menegaskan bahwa aktivitas kapalnya di lepas pantai timur Taiwan merupakan operasi yang sah karena berlangsung di perairan yang diklaim sebagai wilayah China.
Terkait laporan terbaru tersebut, Kementerian Pertahanan China belum memberikan tanggapan ketika dimintai komentar oleh Reuters.
Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Filipina juga belum memberikan tanggapan, sementara Penjaga Pantai Jepang menolak berkomentar untuk sementara waktu.
Milisi maritim China sendiri telah beroperasi sejak 1950-an dan terdiri dari jaringan kapal nelayan yang diawaki personel dengan pelatihan serta dukungan negara.
Kapal-kapal tersebut kerap beroperasi di wilayah sengketa, terutama di Laut China Selatan, bersama kapal penjaga pantai China.
Dengan menggunakan kapal yang tampak seperti kapal sipil, China dapat menjalankan aktivitas maritim untuk mendukung klaim wilayahnya tanpa selalu mengerahkan kapal perang.
Penjaga Pantai Taiwan menyatakan akan terus memantau pergerakan kapal-kapal tersebut karena peningkatan aktivitas maritim dinilai dapat menambah tekanan keamanan di kawasan Pasifik Barat.
