Iran Klaim 7 Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, Ancam Pangkalan AS
Iran mengeklaim tujuh kapal tanker minyak diserang dan mengalami kerusakan di kawasan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan empat kapal terbakar setelah menjadi sasaran serangan, sementara tiga kapal lainnya dilaporkan tidak dapat melanjutkan perjalanan setelah diduga menabrak ranjau laut.
Iran juga memperingatkan bahwa konflik dapat meluas hingga menyasar pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Washington terus membantu kapal-kapal melintasi jalur pelayaran tersebut.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (22/10/2026), insiden yang diklaim Iran itu menjadi jumlah kapal terdampak terbesar dalam satu hari sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Namun, laporan mengenai tujuh kapal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan belum ada informasi mengenai kemungkinan korban jiwa maupun negara asal kapal yang terdampak.
Baca Juga: Trump Klaim AS Lumpuhkan Iran, Rusia dan China Minim Peran
Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS
Dalam pernyataan pada Kamis, IRGC menjelaskan bahwa empat kapal yang sedang melakukan pemindahan muatan minyak menjadi sasaran serangan pada malam sebelumnya.
Keempat kapal tersebut dilaporkan terbakar, sedangkan tiga kapal lainnya mengalami kerusakan setelah diduga menabrak ranjau laut.
IRGC kemudian memperingatkan militer AS agar tidak memperluas bantuan pengawalan kapal di Selat Hormuz.
“Militer AS harus mengetahui bahwa jika keadaan ini terus berlanjut, konflik akan meluas hingga ke pangkalan-pangkalannya di kawasan,” demikian pernyataan IRGC melalui situs Sepah News.
“Ini adalah peringatan serius,” tambahnya.
Iran menyatakan memiliki kendali atas Selat Hormuz dan mewajibkan kapal-kapal memperoleh izin sebelum melintasi jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan itu sebelum perang pecah pada Februari 2026.
Sejak konflik berlangsung, Iran dan AS terlibat persaingan untuk mengendalikan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Militer AS meningkatkan pengawalan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sedangkan Iran mengintensifkan serangan terhadap kapal yang dianggap tidak memiliki izin.
Trump Bantah Klaim Iran soal Serangan Kapal Tanker
Presiden AS Donald Trump membantah klaim Iran mengenai serangan terhadap kapal dan penggunaan ranjau di Selat Hormuz.
Melalui unggahan di Truth Social pada Kamis, Trump menuduh Iran sengaja menyebarkan informasi tersebut untuk mendorong kenaikan harga minyak menjelang pemilu sela AS pada November 2026.
“Iran melakukan segala cara untuk menaikkan harga minyak menjelang pemilu sela AS,” tulis Trump.
“Mereka mengarang serangan palsu, ranjau, dan segala macam hal lainnya karena sekarang lebih banyak minyak yang melewati Selat Hormuz dibandingkan sebelum konflik dimulai,” tambahnya.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) juga membantah klaim Iran mengenai ranjau laut.
Menurut pejabat tersebut, pasukan AS telah membersihkan jalur pelayaran internasional dari ranjau, sementara Iran menggunakan rudal dan pesawat nirawak untuk menyerang kapal-kapal.
CENTCOM juga menegaskan bahwa Selat Hormuz masih terbuka, dengan sekitar 95 persen kapal berhasil melintasi jalur tersebut.
Pejabat AS itu menilai peningkatan serangan Iran mencerminkan tekanan yang dihadapi Teheran akibat blokade laut Amerika.
Blokade tersebut membatasi ekspor minyak Iran dan mengurangi sumber daya yang dapat digunakan untuk membangun kembali kemampuan militernya.
Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Mossad Gulingkan Rezim Iran
Ketegangan Meningkat Menjelang Pemilu AS
Peningkatan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz terjadi ketika pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri perang Iran dengan AS dan Israel belum menghasilkan kesepakatan.
Jurnalis Al Jazeera di Teheran, Mohamed Vall, mengatakan jumlah kapal yang menjadi sasaran serangan terus bertambah.
“Jumlah kapal dan kapal tanker yang diserang setiap hari terus bertambah. Iran mengatakan akan terus melakukan hal ini karena mereka tidak akan membiarkan situasi tersebut berubah,” kata Vall.
Menurut Vall, terdapat pula pembicaraan di Teheran mengenai kemungkinan peningkatan intensitas perang menjelang pemilu sela AS pada awal November.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera di Gedung Putih, Kimberly Halkett, mengatakan peningkatan konflik dengan Iran juga menjadi persoalan politik bagi Trump.
Menurutnya, hasil survei menunjukkan banyak warga AS menginginkan berkurangnya beban ekonomi akibat perang, terutama setelah harga bahan bakar meningkat.
“Ada rasa frustrasi yang nyata terhadap meningkatnya biaya hidup masyarakat Amerika sehari-hari, mengingat kenaikan harga bahan bakar akibat konflik ini,” ujar Halkett.
Ia menambahkan, tekanan terhadap Trump tidak hanya berasal dari Partai Demokrat, tetapi juga dari kalangan Partai Republik sendiri.
Di tengah situasi tersebut, Iran tetap memperingatkan kemungkinan perluasan serangan, sementara AS menyatakan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz masih dapat dilalui.
Hingga kini, kedua pihak masih memberikan keterangan berbeda mengenai kondisi keamanan di kawasan tersebut.
