Trump Ingin Bertemu Kim Jong Un, Korea Utara Belum Memberi Sinyal
Peluang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 2026 semakin kecil.
Meski Trump ingin kembali membuka dialog dengan Pyongyang, Korea Utara belum menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan perundingan mengenai program nuklirnya.
Dilansir dari Reuters, Jumat (23/10/2026), lima sumber yang mengetahui perkembangan diplomatik kedua negara menyebutkan bahwa Washington belum menerima tanggapan dari Pyongyang mengenai kemungkinan pertemuan tersebut.
Waktu untuk mempersiapkan pertemuan juga semakin terbatas menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, pada 18-19 November 2026.
Empat sumber memperoleh informasi dari pejabat senior AS dan Korea Selatan, sedangkan satu sumber lainnya merupakan pejabat Korea Selatan.
Baca Juga: Instalasi Trump di Balik Jeruji Besi Jadi Tontonan Warga Teheran
Trump Masih Terbuka untuk Bertemu Kim Jong Un
Pada Agustus 2026, Trump menyampaikan rencana bertemu Kim sebelum akhir tahun dan mengklaim pemimpin Korea Utara itu telah menanggapi pendekatannya.
Badan intelijen Korea Selatan bahkan sempat memperkirakan peluang pertemuan keduanya mencapai 50 persen.
Namun, Trump mulai meragukan kemungkinan pertemuan tersebut saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (19/10/2026).
“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengannya, dan saya tidak yakin ada pihak yang meminta pertemuan,” ujar Trump.
Peluang pertemuan di sela-sela KTT APEC maupun agenda regional lainnya di Filipina pada November 2026 pun dinilai semakin kecil.
Seorang pejabat Korea Selatan mengatakan, hingga kini belum terlihat persiapan dari Pyongyang untuk menyambut Trump.
Duta Besar Korea Selatan untuk AS Kang Kyung-wha juga menyatakan pekan lalu bahwa belum ada perkembangan konkret menuju pertemuan tersebut.
Meski demikian, Gedung Putih menegaskan bahwa Trump tetap bersedia berdialog dengan Kim tanpa menetapkan persyaratan awal.
“Kebijakan AS terhadap Korea Utara tidak berubah. Presiden Trump tetap terbuka untuk berbicara dengan Kim Jong Un tanpa prasyarat apa pun. Belum ada pertemuan yang dapat diumumkan saat ini. Para pemimpin tersebut akan bertemu pada waktu yang tepat,” kata seorang pejabat Gedung Putih.
Sementara itu, media pemerintah Korea Utara mengisyaratkan bahwa Pyongyang akan mengajukan persyaratan berat sebelum menyetujui pertemuan, termasuk kemungkinan pencabutan sanksi.
Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Mossad Gulingkan Rezim Iran
Peluang Pertemuan Diperkirakan Kurang dari 10 Persen
Peneliti senior Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda, memperkirakan peluang Trump dan Kim bertemu dalam KTT APEC kurang dari 10 persen.
Menurut Panda, Korea Utara kemungkinan mengharapkan langkah diplomatik yang lebih besar dari Washington sebelum bersedia kembali berunding.
“Jika Trump menginginkan pertemuan dengan Kim, menurut saya pihak Korea Utara mengharapkan isyarat publik yang signifikan,” kata Panda.
Ia menilai pengurangan skala latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan belum cukup untuk mendorong Pyongyang kembali ke meja perundingan.
Washington juga terkadang mengandalkan China sebagai perantara komunikasi dengan Korea Utara.
Namun, membaiknya hubungan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan diplomatik terkait Pyongyang.
Trump sebelumnya telah tiga kali bertemu Kim pada masa jabatan pertamanya, yakni sepanjang 2018 hingga 2019.
Meski pertemuan tersebut bersejarah, keduanya tidak mencapai kesepakatan konkret mengenai denuklirisasi atau penghapusan senjata nuklir Korea Utara.
Pyongyang hingga kini terus mengembangkan persenjataan nuklir dan rudal balistiknya.
Menurut perkiraan lembaga riset swasta yang dikutip pejabat Korea Selatan, Korea Utara diperkirakan memiliki 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Duta Besar AS untuk Korea Selatan Michelle Steel menyebut pertemuan Trump dan Kim masih mungkin berlangsung secara mendadak.
“Jika itu terjadi, maka pengumumannya akan dilakukan sehari sebelumnya atau dalam rentang waktu beberapa hari sebelum pertemuan berlangsung,” ujarnya dalam sebuah acara di Seoul, Rabu (21/10/2026).
