Iran Ubah Doktrin Militer Jadi Ofensif, Ancam Negara Tetangga
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan perubahan doktrin militernya dari defensif menjadi ofensif. Iran juga mengancam akan menyerang negara-negara tetangga yang terlibat dalam operasi militer terhadap Teheran.
Kebijakan tersebut diumumkan ketika ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel meningkat. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi militer baru setelah perang yang berlangsung hampir delapan bulan.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (22/10/2026), juru bicara IRGC Hossein Mohebi menyatakan bahwa Iran tidak lagi akan membatasi operasi militernya pada serangan balasan.
“Doktrin pertahanan kami sebelumnya bersifat defensif, kami dulu mengatakan bahwa jika suatu negara menyerang kami, kami akan membalas. Sekarang, kami menyatakan bahwa jika ada negara yang menyerang kami, kami tidak hanya akan membalas, tetapi juga melancarkan serangan ofensif,” ujar Mohebi.
Iran Tingkatkan Kekuatan Rudal
Mohebi mengatakan perubahan doktrin militer tersebut didukung oleh peningkatan kemampuan persenjataan Iran.
Ia mengklaim persediaan rudal Iran telah meningkat 1,5 kali lipat sejak perang selama 12 hari melawan Israel pada Juni 2025. Namun, Mohebi tidak mengungkapkan jumlah pasti rudal yang dimiliki negaranya.
Baca Juga : Trump Klaim Perang Iran Bisa Berakhir, Hormuz Diblokade
“Kualitas rudal-rudal tersebut telah meningkat secara signifikan, begitu pula jangkauan, daya hancur, dan akurasinya dalam mengenai sasaran,” katanya.
Mohebi juga mengklaim bahwa militer Iran tengah mempersiapkan peluncuran senjata baru yang disebut father of all bombs atau bapak dari segala bom.
Di sisi lain, situasi keamanan di Selat Hormuz semakin memanas setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
Angkatan Laut IRGC menyatakan telah menyerang empat kapal yang diduga terlibat dalam transfer minyak ilegal hingga terbakar di wilayah utara Teluk pada Kamis (22/10/2026). Tiga kapal lainnya dilaporkan terkena ranjau di sebelah barat Selat Hormuz.
Ketegangan tersebut turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent menembus 110 dolar AS per barel pada Kamis karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut berpotensi memberikan dampak luas terhadap perdagangan energi internasional.
Mengapa Iran Mengubah Strategi Militernya?
Peneliti senior Centre for International Policy, Negar Mortazavi, menilai perubahan doktrin militer Iran bertujuan meningkatkan risiko dan konsekuensi yang harus ditanggung AS serta Israel jika kembali menyerang Teheran.
Menurutnya, Iran mengambil pelajaran dari konflik pada 2025 dan 2026. Strategi yang mengandalkan serangan balasan dinilai belum mampu mencegah serangan berulang terhadap negara tersebut.
“Teheran kini ingin menciptakan sebuah persamaan baru: Setiap serangan terhadap Iran di masa depan akan menuntut harga yang jauh lebih mahal bagi pihak penyerang,” ujar Mortazavi.
Karena tidak memiliki kemampuan untuk menandingi kekuatan militer konvensional AS secara langsung, Iran semakin mengandalkan perang asimetris. Strategi ini mencakup penggunaan rudal, pesawat nirawak, serta pemanfaatan pengaruh Iran terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz.
Mortazavi menambahkan bahwa Teheran juga berusaha meningkatkan tekanan ekonomi dan politik terhadap Washington menjelang pemilihan umum sela AS pada 3 November 2026.
Sementara itu, analis politik Rami Khouri menilai Iran ingin memastikan bahwa dampak serangan terhadap negaranya juga dirasakan oleh AS, Israel, dan negara-negara kawasan yang mendukung operasi militer terhadap Teheran.
Strategi tersebut berpotensi mengganggu perdagangan internasional melalui kenaikan biaya energi, transportasi, dan asuransi.
AS dan Israel Beri Sinyal Serangan Baru
Di tengah perubahan strategi militer Iran, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan yang beragam mengenai kelanjutan perang.
Pada Rabu (21/10/2026), Trump mengatakan Washington tidak lagi bernegosiasi dengan Teheran dan mengisyaratkan adanya perkembangan dalam waktu dekat.
Namun, ia juga menyatakan bahwa perang dapat segera diakhiri apabila kedua pihak mampu mencapai perdamaian yang bertahan lama.
Baca Juga : Taiwan Terancam Topan, Ratusan Penerbangan Batal!
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima kesepakatan yang memungkinkan Iran mengembangkan senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran tetap mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan uranium berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
Iran juga mengajukan rencana untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz selama tujuh hari. Tawaran tersebut disertai sejumlah persyaratan, termasuk penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran dan pelonggaran sanksi AS.
Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menegaskan tekadnya untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Mortazavi memperingatkan bahwa perkembangan saat ini lebih mengarah pada eskalasi militer dibandingkan penyelesaian melalui jalur diplomatik.
“Babak baru peperangan tampaknya kian mendekat,” ujarnya.
Meski demikian, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Teheran masih mengutamakan diplomasi. Namun, Iran juga menyatakan kesiapannya mempertahankan respons militer apabila konflik kembali berlanjut.
