Bank Dunia Soroti Kualitas Lapangan Kerja di Indonesia
Bank Dunia menyoroti kondisi pasar tenaga kerja Indonesia yang dinilai masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait kualitas lapangan kerja. Sorotan ini muncul meskipun stabilitas makroekonomi nasional dinilai tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi masih berlangsung positif.
Dalam laporan bertajuk Fondasi Digital untuk Pertumbuhan edisi Desember 2025, Bank Dunia mencatat kontribusi konsumsi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami sedikit penurunan. Pada 2024, konsumsi swasta menyumbang 2,8 poin persentase atau sekitar 54,8 persen dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut turun menjadi 2,7 poin persentase atau setara 53,3 persen dari pertumbuhan PDB pada 2025.
“Tren ini sejalan dengan indikator pasar tenaga kerja yang menunjukkan bahwa kualitas lapangan kerja masih menjadi tantangan utama,” menurut Bank Dunia dalam laporan tersebut, Selasa (16/12/2025).
Baca Juga: Prabowo Dorong Penanaman Sawit di Papua untuk Swasembada Energi
Bank Dunia menilai peningkatan penyerapan tenaga kerja belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kesejahteraan. Meski jumlah tenaga kerja yang terserap naik 1,3 persen dari Agustus 2024 hingga Agustus 2025, peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari sektor berupah rendah, seperti sektor jasa dengan nilai tambah rendah serta sektor pertanian.
Selain itu, laporan tersebut mencatat upah riil di Indonesia terus mengalami penurunan sejak 2018. Struktur pasar tenaga kerja juga menunjukkan adanya polarisasi, di mana pekerjaan dengan keterampilan menengah semakin menyusut dibandingkan pekerjaan berketerampilan rendah dan tinggi. Kondisi ini dinilai membatasi mobilitas ekonomi kelompok pekerja tertentu.
Bank Dunia juga menyoroti posisi tenaga kerja muda yang dinilai tidak proporsional karena banyak terserap ke sektor informal dengan tingkat upah rendah. Situasi ini memperkuat ketimpangan di pasar tenaga kerja dan berpotensi mempengaruhi kesejahteraan jangka panjang.
Baca Juga: Muncul Tentara Bayaran Rusia dalam Konflik Thailand-Kamboja
“Temuan survei mengkonfirmasi hal ini dengan memperlihatkan kesenjangan yang makin lebar antara perbaikan kesejahteraan yang objektif dan persepsi subjektif, walau angka kemiskinan kian menurun, jumlah rumah tangga yang merasa miskin justru meningkat,” tulis laporan tersebut.
Rasa tidak aman secara ekonomi juga dinilai lebih kuat dirasakan oleh kelas menengah. Bank Dunia mencatat tingginya volatilitas pendapatan serta dinamika upah riil membuat kelompok ini cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Pola tersebut berdampak langsung terhadap konsumsi rumah tangga, di mana masyarakat lebih memilih menabung sebagai langkah antisipasi atau precautionary saving, meskipun indikator makroekonomi utama Indonesia masih tergolong solid.
