Houthi Ancam Jalur Dagang, Timur Tengah Memanas
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat seiring memburuknya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Situasi ini diperparah dengan ancaman kelompok Houthi di Yaman yang berpotensi memperluas serangan ke jalur pelayaran strategis dunia.
Di saat yang sama, Arab Saudi mulai mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke Laut Merah sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gangguan di Selat Hormuz.
Langkah AS yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran juga memicu ancaman balasan dari Teheran.
Pada Rabu (15/7/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa tekanan terhadap Iran dapat berdampak pada keamanan jalur energi di kawasan.
“Ekspor energi di kawasan harus bisa dinikmati semua pihak di dunia, atau tidak sama sekali,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita IRNA.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan peningkatan tekanan terhadap Iran apabila perundingan tidak berlanjut.
“Saya akan menyimpan target-target energi sebagai yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Baca Juga: Usai Pemakaman Ayahnya, Mojtaba Khamenei Kirim Pesan Keras
Arab Saudi Maksimalkan Jalur Ekspor Laut Merah
Meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz mendorong Arab Saudi memperbesar pengiriman minyak melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Data Signal Ocean menunjukkan volume pemuatan minyak di Yanbu mencapai sekitar 4,7 juta barel per hari pada Minggu (12/7/2026). Angka tersebut mendekati kapasitas maksimum terminal ekspor tersebut.
Pelabuhan Yanbu kini menjadi salah satu jalur utama ekspor minyak Saudi ketika pengiriman melalui Teluk Persia menghadapi risiko gangguan akibat konflik regional.
Namun, kapasitas tambahan yang tersedia dinilai sangat terbatas.
“Yanbu telah beroperasi mendekati kapasitas maksimum dalam beberapa pekan terakhir. Ada kekhawatiran bahwa Houthi akan membuka front baru, tetapi hampir tidak ada ruang lagi untuk meningkatkan volume pengiriman,” ujar seorang sumber industri pelayaran kepada Reuters.
Reuters juga melaporkan bahwa Arab Saudi tengah mempertimbangkan perluasan jaringan pipa menuju pantai Laut Merah.
Tujuannya agar ekspor minyak tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz.
Meski demikian, meningkatnya aktivitas ekspor di Yanbu memunculkan risiko baru.
Sejumlah pelaku industri khawatir pelabuhan tersebut dapat menjadi sasaran serangan Houthi jika konflik semakin meluas.
Houthi Ancam Bab el-Mandeb
Ancaman terhadap perdagangan global tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Para analis menilai Iran dapat memanfaatkan kelompok Houthi untuk mengganggu aktivitas di Selat Bab el-Mandeb.
Jalur sempit ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu koridor perdagangan terpenting di dunia.
Pada Senin (13/7/2026), seorang pejabat senior Houthi menyatakan kelompoknya siap menutup Selat Bab el-Mandeb apabila Arab Saudi terus melancarkan serangan ke Yaman.
Kelompok tersebut bahkan mengklaim langkah itu dapat mendorong harga minyak dunia hingga 200 dollar AS per barel.
Ketegangan meningkat setelah Houthi menembakkan rudal ke Arab Saudi sebagai respons atas serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa.
Insiden tersebut mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang telah berlangsung sekitar empat tahun antara Riyadh dan kelompok yang didukung Iran itu.
Menurut analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi, tindakan Houthi menunjukkan upaya menguji batas baru dalam konflik kawasan.
“Houthi sedang menguji batas baru. Jika mereka berhasil, mereka akan semakin percaya diri, meningkatkan tuntutan, dan mencoba melampaui batas-batas lain,” ujarnya.
Peneliti Chatham House, Farea al-Muslimi, mengatakan Arab Saudi selama ini relatif berhati-hati dalam konflik Iran-AS.
Namun, sikap itu bisa berubah apabila kepentingannya di Yaman mulai terancam.
Sementara itu, analis politik Yaman Abdel-Bari Taher menilai kondisi Yaman masih sangat rentan dimanfaatkan dalam persaingan geopolitik regional.
“Kawasan ini kini berada dalam situasi konfrontasi menyeluruh. Yaman menjadi lingkungan yang sangat rentan terhadap konflik karena terpecah oleh kelompok-kelompok bersenjata dan tidak memiliki kendali penuh atas wilayah laut maupun wilayah udaranya,” kata Taher.
Baca Juga: China Dituding AS Bantu Iran, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
Blokade AS Tingkatkan Risiko Gangguan Energi
Pada Rabu (15/7/2026), AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah menuduh Teheran menyerang kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah menyerang puluhan target militer Iran selama sekitar tujuh jam.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Pemerintah Iran mengecam langkah Washington dan mengancam akan memperluas gangguan terhadap ekspor energi di kawasan.
“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini hanya akan berlangsung bagi semua pihak atau tidak akan berlangsung bagi siapa pun,” tegas IRGC.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, juga menyalahkan AS atas meningkatnya ketegangan.
“AS adalah pihak yang melakukan agresi, bukan korbannya,” kata Iravani.
Di sisi lain, Trump menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus berlanjut apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
“Lebih baik kalian mencapai kesepakatan, atau kalian tidak akan memiliki apa pun yang tersisa,” ujar Trump.
Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran pasar global. Kedua jalur tersebut merupakan koridor utama perdagangan minyak dunia.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan pada kedua jalur tersebut secara bersamaan dapat memukul pasokan energi global dan mengganggu rantai pasok internasional.
