Iran dan AS Masuki Ronde Baru Pembicaraan Nuklir
Amerika Serikat dan Iran kembali mendekati kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir baru setelah kedua negara menyepakati putaran lanjutan perundingan di Jenewa yang dimediasi Oman. Langkah diplomasi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan serta sinyal kesiapan militer Amerika Serikat apabila jalur perundingan tidak membuahkan hasil.
Mengutip Reuters, Senin (16/2/2026), berbeda dengan perundingan nuklir tahun 2015 yang berlangsung secara multilateral, negosiasi kali ini dilakukan secara bilateral. Fokus utama pembahasan mencakup pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan manfaat ekonomi dan kemungkinan pencabutan sanksi dari Washington.
Baca Juga: Trump PIlih Jalur Diplomasi dengan Iran. Abaikan Netanyahu
Teheran dikabarkan menyatakan kesiapan untuk melakukan sejumlah kompromi, termasuk potensi pengenceran uranium tingkat tinggi, dengan syarat Amerika Serikat memberikan keuntungan ekonomi secara cepat dan nyata. Skema tersebut dipandang sebagai upaya membangun kepercayaan kedua belah pihak di tengah hubungan yang masih diwarnai ketegangan panjang.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump mengedepankan jalur diplomasi sebagai prioritas utama dalam penyelesaian isu nuklir Iran. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa perundingan dapat gagal dan berujung pada konsekuensi militer.
Di sisi lain, pejabat Iran menekankan bahwa agar kesepakatan dapat bertahan dalam jangka panjang, setiap tahap negosiasi harus memuat manfaat ekonomi yang konkret. Kerja sama di sektor energi, pertambangan, hingga kemungkinan pembelian pesawat terbang menjadi bagian dari opsi yang dibahas. Teheran juga menunjukkan fleksibilitas dalam sejumlah isu teknis, namun tetap mempertahankan batasan nasional tertentu terkait pengayaan uranium.
Putaran kedua perundingan dijadwalkan berlangsung di Jenewa. Delegasi dari kedua negara akan membahas sejumlah poin krusial yang masih menjadi perbedaan utama, termasuk mekanisme pencabutan sanksi dan batasan rinci terhadap program nuklir Iran.
Oman kembali memainkan peran sebagai mediator dalam proses ini. Hasil pembicaraan di Jenewa dinilai menjadi penentu apakah konflik yang telah berlangsung lama antara kedua negara dapat diredam melalui diplomasi atau justru berpotensi meningkat menjadi konfrontasi militer yang lebih luas.
Baca Juga: AS Diam-diam Sudah Siapkan Rudal dan Jet di Arab, Iran Terancam!
