Trump Ultimatum China: Bantu Iran, Tarif 50% Menanti
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap China di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Ancaman tersebut muncul setelah laporan intelijen menyebut Beijing tengah mempertimbangkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran.
“Jika kita tahu mereka melakukan itu, mereka akan dikenakan tarif 50%, jumlah yang mengejutkan,” ujar Trump.
Meski demikian, Trump juga meragukan kebenaran laporan tersebut dan menilai informasi yang beredar belum dapat dipastikan.
“Laporan tersebut tidak berarti banyak bagi saya karena itu masih palsu,” tutur dia.
Baca Juga: NATO Buka Suara soal Blokade Laut Iran oleh Trump
Dugaan keterlibatan China di konflik Iran
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa intelijen AS mendeteksi potensi pengiriman sistem MANPADS dari China ke Iran, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Beijing.
Spekulasi ini semakin menguat setelah laporan The New York Times menyebut China sempat menekan Iran untuk menyepakati gencatan senjata dengan AS.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan bahwa negaranya hanya mendorong dialog damai tanpa mengonfirmasi peran sebagai mediator resmi.
Pengamat dari Nanyang Technological University Dylan Loh menilai langkah China cenderung berhati-hati dalam merespons konflik tersebut.
“China tampaknya menggunakan pengaruhnya secara selektif dan bersedia lebih proaktif ketika melihat peluang untuk memberikan dampak,” ujar Dylan Loh.
Baca Juga: Isu Pengadaan Laptop-Kaos Kaki Rp4 T Ditegaskan Kepala BGN Tidak Benar
Kepentingan ekonomi dan risiko geopolitik
Sejauh ini belum ada bukti resmi bahwa China memberikan bantuan militer atau finansial langsung kepada Iran.
Dukungan Beijing dinilai lebih dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, khususnya terkait jalur perdagangan energi global.
Peneliti senior dari Council on Foreign Relations Zongyuan Zoe Liu menilai ekonomi China sangat bergantung pada jalur perdagangan laut.
“Ekonomi Beijing pada dasarnya bergantung pada ekspor melalui laut. Oleh karena itu akan rentan terhadap penurunan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan,” imbuh dia.
Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika konflik Iran tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan ekonomi global yang lebih luas.
