Perang Picu Krisis Energi, AS Kuras Cadangan Minyak Darurat
Perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Amerika sendiri, terutama di sektor energi.
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri membuat pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan kebijakan baru dengan memanfaatkan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Mengutip Reuters, pemerintah federal AS memutuskan meminjamkan minyak mentah dari SPR kepada sejumlah perusahaan energi sebagai bagian dari upaya menenangkan pasar minyak global yang terguncang akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin di AS pada Senin (12/6/2026) mencapai 4,52 dollar AS per galon atau sekitar Rp79.100. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak 2022.
SPR sendiri merupakan cadangan minyak mentah darurat milik pemerintah AS yang disiapkan untuk menghadapi krisis energi, termasuk akibat perang, bencana alam, atau gangguan besar terhadap pasokan minyak dunia.
Cadangan itu disimpan di fasilitas bawah tanah berupa gua garam di wilayah Texas dan Louisiana.
Pemerintah AS dapat melepas minyak dari SPR untuk menambah pasokan pasar dan menstabilkan harga energi ketika terjadi lonjakan ekstrem.
Departemen Energi AS (DOE) menyebut sembilan perusahaan energi ikut dalam skema pinjaman minyak tersebut, termasuk Exxon Mobil, Trafigura, dan Marathon Petroleum.
Jumlah minyak yang dipinjam mencapai sekitar 58 persen dari total 92,5 juta barel yang sebelumnya ditawarkan pemerintah AS bulan lalu.
Baca Juga: WNI di LN yang Tak Lapor Pajak Diancam Blokir Aset, oleh Pemerintah
Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak
Program pelepasan cadangan minyak itu menjadi bagian dari kesepakatan internasional yang dipimpin AS bersama lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency (IEA).
Melalui kesepakatan tersebut, sekitar 400 juta barel minyak dilepas ke pasar global setelah Iran menutup Selat Hormuz.
Jalur pelayaran strategis itu selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak dan bahan bakar global melonjak tajam.
Pemerintah AS sebelumnya juga telah meminjamkan sekitar 80 juta barel minyak dari SPR pada musim semi tahun ini dan menargetkan pelepasan hingga 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Kepala IEA Fatih Birol sebelumnya mengatakan perang di Timur Tengah telah memicu krisis energi terbesar dalam sejarah modern.
Menurutnya, IEA siap melepas tambahan cadangan minyak apabila gangguan pasokan terus berlanjut.
Di sisi lain, lonjakan harga energi kini mulai menjadi ancaman politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.
Sejumlah analis menilai pelepasan SPR memang dapat membantu menenangkan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi berisiko melemahkan kemampuan AS menghadapi krisis energi di masa depan apabila dilakukan terus-menerus.
Ekonom energi Universitas Michigan, Lutz Kilian, menilai pasar juga bisa merespons negatif kebijakan intervensi tersebut.
“Pasar juga bisa mengantisipasi intervensi pemerintah, membuat pergerakan harga jadi tidak stabil atau hanya sementara,” kata Kilian.
Baca Juga: LPG Bakal Tergeser Energi Murah? Bahlil Dorong CNG
