Honda Rugi Rp 45 Triliun, Bisnis Mobil Listrik Jadi Beban Berat
Produsen otomotif asal Jepang, Honda Motor mencatat kerugian operasional tahunan pertama dalam hampir 70 tahun terakhir setelah bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menjadi beban besar bagi perusahaan.
Mengutip CNBC, Honda membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar 2,61 miliar dollar AS untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026.
Nilai tersebut setara sekitar Rp 45,92 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.595 per dollar AS.
Padahal pada periode sebelumnya, Honda masih mencatat laba operasional sebesar 1,2 triliun yen.
Penurunan kinerja itu dipicu besarnya pencadangan dana untuk bisnis EV, tekanan persaingan dari produsen mobil China, hingga dampak tarif Amerika Serikat sebesar 346,9 miliar yen.
“Lingkungan bisnis di sekitar perusahaan berubah dengan cepat, dan prospeknya tetap tidak pasti,” tulis Honda dalam laporan keuangannya yang dirilis Kamis (14/5/2026).
Sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik, Honda juga memutuskan membatalkan pengembangan dan peluncuran sejumlah model EV yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Utara.
Perusahaan memperkirakan restrukturisasi bisnis EV akan menelan biaya lebih dari 9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 158,35 triliun.
“Dalam lingkungan yang menantang dan kompetitif seperti ini, perusahaan juga merevisi rencana peluncuran produk untuk beberapa model EV tertentu,” kata Honda.
Baca Juga: 10 Perusahaan Sawit Diduga Manipulasi Ekspor Dikejar Menkeu Purbaya
Terlambat Masuk Pasar EV
Honda dinilai menghadapi tekanan besar karena terlambat masuk ke pasar kendaraan listrik global saat produsen otomotif China bergerak agresif mengembangkan EV.
Associate fellow pada Center for Geopolitics, Geoeconomics and Technology dari German Council on Foreign Relations, Aya Adachi, mengatakan Jepang tertinggal dalam transisi kendaraan listrik berbasis baterai.
“Meskipun menjadi pelopor teknologi hybrid, lambatnya transisi Jepang ke kendaraan listrik berbasis baterai membuat mereka memiliki kehadiran terbatas di pasar kendaraan energi baru China dan menghadapi tekanan yang meningkat di pasar ekspor,” kata Adachi.
Selain tekanan persaingan, Honda juga menghadapi masalah reputasi akibat kasus mesin dan penarikan kendaraan atau recall.
Pada Maret 2026, mesin Honda yang digunakan oleh Aston Martin dilaporkan menyebabkan kegagalan baterai.
Sementara pada Januari 2026, Honda menghadapi gugatan hukum di Kanada terkait cacat mesin turbocharged 1.5 liter pada tiga model mobil mereka.
Meski membukukan kerugian besar, saham Honda justru melonjak lebih dari 7 persen pada perdagangan Jumat.
Analis Bernstein, Masahiro Akita, menilai kenaikan saham dipicu proyeksi laba perusahaan yang berada di atas ekspektasi pasar.
“Kami percaya reaksi positif harga saham didorong oleh panduan laba operasional dan laba bersih perusahaan, yang keduanya sekitar 38 persen di atas estimasi konsensus,” ujarnya.
Baca Juga: Larangan Pertalite Mulai 1 Juni Dibantah Pertamina
Industri Otomotif Global Mulai Kurangi Ambisi EV
CNN melaporkan kemunduran bisnis kendaraan listrik juga dialami sejumlah produsen otomotif global lainnya.
Perubahan kebijakan emisi kendaraan di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump disebut menjadi salah satu penyebab utama.
Pemerintah AS diketahui menghapus kredit pajak sebesar 7.500 dollar AS bagi pembeli kendaraan listrik dan membatalkan aturan emisi ketat era Presiden Joe Biden.
Akibatnya, banyak produsen otomotif mulai kembali fokus menjual kendaraan berbahan bakar bensin yang dinilai lebih menguntungkan.
Honda sendiri mencatat penurunan nilai investasi EV sebesar 1,6 triliun yen atau hampir 10 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2026.
Tanpa beban tersebut, perusahaan sebenarnya diperkirakan masih mampu membukukan laba sekitar 7,4 miliar dollar AS.
Namun pada akhirnya Honda tetap mencatat rugi bersih sebesar 403,3 miliar yen atau sekitar 2,6 miliar dollar AS.
Kondisi serupa juga dialami sejumlah produsen otomotif global lainnya.
General Motors tercatat membukukan beban sebesar 7,2 miliar dollar AS akibat penyesuaian strategi EV pada 2025.
Sementara Ford Motor Company melaporkan beban sebesar 17,4 miliar dollar AS dan Stellantis mencatat beban hingga 25,4 miliar euro.
Meski banyak produsen mulai mengurangi ambisi kendaraan listrik, industri otomotif global dinilai belum sepenuhnya meninggalkan EV.
Sejumlah negara di Eropa dan Asia masih menerapkan regulasi emisi ketat, termasuk kebijakan pelarangan penjualan mobil berbahan bakar bensin mulai 2035 di beberapa wilayah AS seperti California.
