Aktivitas Militer China di Taiwan Naik 60%, AS Setujui Paket Senjata US$ 11 Miliar
Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyebut adanya rencana baru yang disiapkan militer China untuk merebut Taiwan, yang mencakup kemajuan pengembangan senjata canggih serta perluasan kemampuan operasional angkatan bersenjata di luar daratan utama.
Hingga tahun lalu, laporan tersebut mencatat bahwa Beijing sebenarnya masih ragu akan kesuksesan serangan dan pengambilalihan Taiwan, meskipun militer China tetap bertekad memiliki kemampuan merebut pulau itu secara paksa pada tahun 2027.
Melalui Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), China terus menyempurnakan berbagai opsi militer untuk memaksa penyatuan Taiwan dengan kekerasan, namun laporan intelijen AS menegaskan bahwa para pemimpin China tetap tidak yakin akan kesiapan PLA untuk berhasil melakukan aksi tersebut.
“People’s Liberation Army (PLA) terus menyempurnakan berbagai opsi militer untuk memaksa penyatuan Taiwan dengan kekerasan,” ungkap laporan itu, dikutip pada Jumat (26/12/2025).
Baca Juga: Perang Dunia 3 Makin Dekat ke Amerika, Ini Alasannya – Economix
Di tengah situasi ini, pemerintahan Trump telah menyetujui paket penjualan senjata senilai US$ 11 miliar ke Taiwan yang meliputi peluncur rudal berbasis truk, rudal antitank, artileri, dan drone. Pada saat yang sama, Presiden Trump meremehkan kemungkinan Beijing menggunakan kekerasan dan tampak bertekad memperdalam hubungan dengan pemimpin China, Xi Jinping, menjelang pertemuan puncak pada bulan April.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah menyatakan akan mencari komunikasi militer-ke-militer yang lebih luas dengan China guna memperjelas niat damai. Meski demikian, pasukan China tetap melakukan latihan pada tahun 2024 untuk menguji komponen penting invasi amfibi, serangan daya tembak, serta blokade maritim terhadap Taiwan.
Sejak tahun 2023, China secara signifikan meningkatkan pengawasan di perbatasan udara dan maritim Taiwan, dengan aktivitas di zona identifikasi pertahanan udara meningkat lebih dari 60 persen, dari 1.703 insiden menjadi 2.771 insiden tahun lalu. Kapal perang China juga dilaporkan meningkatkan operasinya di Selat Taiwan.
Beijing sendiri mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan menyatakan akan merebut pulau itu dengan kekerasan jika perlu. Sementara itu, posisi AS tetap mempertahankan ambiguitas strategis untuk membuat China menebak-nebak kemungkinan intervensi langsung AS sekaligus menahan Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan penuh yang dapat memicu serangan.
Baca Juga: BP Jual 65% Saham Castrol ke Stonepeak Senilai US$6 Miliar – Economix
Penilaian Pentagon ini merupakan yang pertama pada masa jabatan kedua Trump, menyusul rilis strategi keamanan nasional yang menekankan pertahanan AS di Belahan Barat. Dokumen tersebut menyerukan kerja sama erat dengan mitra di Pasifik untuk mencegah perebutan Taiwan, namun hanya menyebut China beberapa kali dan hampir eksklusif dalam konteks ekonomi.
“Peningkatan kekuatan militer China yang bersejarah telah membuat wilayah Amerika Serikat semakin rentan,” demikian bunyi laporan terbaru tersebut.
Laporan setebal 100 halaman ini sekitar setengah dari panjang laporan era Biden tahun lalu menyatakan bahwa peningkatan kekuatan militer China yang bersejarah telah membuat wilayah AS semakin rentan.
Tom Karako dari Pusat Studi Strategis dan Internasional menilai laporan ini memiliki lebih sedikit detail perangkat keras militer dibanding tahun sebelumnya dan secara mengejutkan menekankan pada hubungan AS-China serta kerja sama militer.
Laporan itu menambahkan bahwa PLA terus bergerak menuju tujuan tahun 2027 untuk mencapai kemenangan strategis atas Taiwan, penyeimbang strategis terhadap AS di bidang nuklir, serta pengendalian strategis terhadap negara regional lainnya. Saat ini, China diperkirakan memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir dan sedang melakukan ekspansi nuklir besar-besaran untuk mencapai lebih dari 1.000 hulu ledak pada tahun 2030.
Beijing tetap menolak seruan pengendalian senjata dari AS dengan alasan ingin mengejar ketertinggalan dari Washington dan Moskow. Di sektor laut, China berencana memiliki sembilan kapal induk pada tahun 2035, di mana kapal induk ketiganya, Fujian, baru saja menyelesaikan uji coba laut dengan teknologi sistem peluncuran elektromagnetik yang mirip dengan kapal induk kelas Ford milik AS.
Ryan Fedasiuk dari American Enterprise Institute mencatat bahwa rencana sembilan kapal induk ini akan menempatkan armada China tepat di belakang AS yang memiliki 11 kapal induk. Selain itu, China terus memproyeksikan kekuatan globalnya melalui pusat logistik di Kamboja serta kehadiran militer di Djibouti.
Baca Juga: Bahan Bakar Perang Asia Disiapkan, AS Jual Senjata ke Taiwan – Economix
