AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Iran Jadi Target?
Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk dan unit ekspedisi Marinir tambahan ke Timur Tengah ketika Presiden Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan kembali menyerang Iran setelah pemilu sela AS.
Kapal induk USS Theodore Roosevelt meninggalkan pangkalannya di San Diego pada Minggu (27/9/2026).
Sehari kemudian, USS Makin Island Amphibious Ready Group turut berangkat menuju Timur Tengah.
Kelompok tersebut terdiri dari tiga kapal amfibi yang membawa personel Unit Ekspedisi Marinir ke-13.
Menurut pejabat AS yang dikutip The Wall Street Journal, pengerahan tersebut akan menambah sekitar 9.000 hingga 10.000 personel militer ke kawasan.
Kapal perang, jet tempur, marinir, dan pelaut yang dikerahkan diperkirakan tiba di Timur Tengah pada akhir November.
Baca Juga: Rusia Ancam Nuklir bila NATO Blokade Kaliningrad
Tiga Kapal Induk AS di Timur Tengah
Saat ini, dua kapal induk AS, yakni USS George H.W. Bush dan USS George Washington, telah berada di Timur Tengah.
Jika USS George Washington tetap berada di kawasan setelah USS Theodore Roosevelt tiba, AS akan memiliki tiga kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah.
Kondisi tersebut akan menjadi yang pertama kali terjadi sejak April 2026.
Sebelumnya, Iran dan AS mencapai gencatan senjata sementara untuk mengakhiri pertempuran yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, gencatan senjata tersebut kemudian runtuh dan kedua pihak kembali terlibat dalam pertempuran secara sporadis.
Selain USS George H.W. Bush dan USS George Washington, sejumlah kapal dari USS Boxer Amphibious Ready Group juga berada di Timur Tengah.
Salah satu pejabat AS mengatakan tambahan personel dari kapal-kapal perang yang berangkat pekan ini akan menambah jumlah pasukan AS di kawasan yang saat ini telah mencapai lebih dari 50.000 orang.
Namun, belum dipastikan apakah USS George Washington akan tetap berada di Timur Tengah.
Kapal tersebut dapat meninggalkan kawasan dan kembali ke pangkalannya di Jepang. Jika hal itu terjadi, jumlah kapal induk AS di Timur Tengah akan kembali menjadi dua.
Gedung Putih dan Pentagon tidak menanggapi permintaan komentar terkait pengerahan tersebut.
Trump Pertimbangkan Serang Iran Lagi
Pengerahan pasukan tambahan dilakukan beberapa hari setelah Trump menolak proposal terbaru Iran untuk gencatan senjata selama tujuh hari.
Dalam wawancara dengan majalah Time, Trump mengatakan dirinya dapat kembali menyerang Iran setelah pemilu sela jika tidak ada kesepakatan.
Trump juga baru-baru ini mengatakan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan akan kembali mengebom Iran pada November, menurut laporan The Wall Street Journal.
Jika kapal induk ketiga tetap berada di Timur Tengah, keberadaannya akan memberi AS lebih banyak pilihan dan kekuatan tempur ketika Trump memutuskan untuk menyerang Iran.
Proposal gencatan senjata yang sebelumnya ditolak Trump mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Proposal tersebut juga mencakup dimulainya kembali perundingan mengenai program nuklir Iran.
Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga: AS Usir 2 Delegasi Iran yang Bertahan di New York setelah Sidang PBB
Pasukan AS Terus Diperkuat
Dalam beberapa pekan terakhir, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga memperpanjang masa penempatan sejumlah pasukan untuk operasi tempur skala besar.
Pasukan tersebut mencakup unit pertahanan udara yang bertugas menghadapi rudal dan drone Iran serta Divisi Lintas Udara ke-82 milik Angkatan Darat AS.
Divisi Lintas Udara ke-82 dapat menjalankan berbagai misi, termasuk menghadapi ancaman dan melakukan penerjunan ke wilayah yang dikuasai musuh untuk mengamankan lapangan udara dan wilayah pendaratan.
Angkatan Laut AS juga telah mempertahankan sekitar 20 kapal perang di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut pejabat Angkatan Laut, kapal-kapal itu digunakan untuk melancarkan blokade AS serta membantu mengawal kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, pengerahan tambahan tersebut akan semakin membebani Angkatan Laut AS.
Institusi tersebut mengalami kekurangan pasokan dan menghadapi pengerahan kapal terlama selama konflik.
Iran dalam beberapa pekan terakhir juga telah menembakkan rudal balistik ke kapal perang AS.
Di sisi lain, pejabat senior Angkatan Laut mengatakan awak USS Theodore Roosevelt telah dipersiapkan untuk menjalani masa penempatan yang lebih lama dari biasanya.
