China Kecam Langkah AS Ambil Alih Minyak Venezuela Usai Penggulingan Maduro
Pemerintah China secara terbuka melayangkan kecaman terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang menyatakan akan mengambil alih minyak Venezuela. Langkah ini mengikuti operasi militer Washington yang berhasil menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu lalu.
Beijing menilai tindakan tersebut sebagai bentuk campur tangan terang-terangan yang melanggar hukum internasional serta merusak kedaulatan negara di Amerika Selatan itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam pernyataannya pada Rabu (7/1) menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat di Venezuela telah melampaui norma internasional.
“Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan permanen penuh atas seluruh sumber daya alam dan kegiatan ekonominya,” kata Mao, dilansir South China Morning Post pada Kamis (8/1/2026).
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan penyerahan hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela kepada Amerika Serikat.
Trump menyatakan bahwa hasil penjualan minyak tersebut akan digunakan untuk kepentingan kedua negara. Melalui unggahan media sosial pada Selasa, Trump menginformasikan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang sebelumnya terkena sanksi.
Minyak tersebut direncanakan akan dijual sesuai harga pasar dengan dana hasil penjualan yang dikendalikan langsung oleh Trump sebagai presiden AS.
Langkah ini menandai eskalasi terbaru upaya Washington memperluas pengaruh ekonominya di Amerika Latin, menyusul klaim Trump bahwa Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu.
Namun, Beijing menilai kebijakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang merusak hak-hak rakyat Venezuela. Mao Ning menegaskan bahwa kerja sama China-Venezuela selama ini didasarkan pada prinsip saling menghormati antarnegara berdaulat, sehingga hak dan kepentingan sah China di sana harus tetap dilindungi.
Selama ini, China merupakan importir terbesar minyak mentah Venezuela yang sering kali diselesaikan menggunakan mata uang yuan untuk menghindari sanksi AS. Meski sempat terhenti akibat sanksi pada 2019, impor langsung kembali dilakukan pada 2024 setelah pelonggaran lisensi oleh Washington.
Di sisi lain, Trump membela aksi militer Sabtu lalu dengan tuduhan bahwa Venezuela telah mencuri minyak dan aset milik Amerika Serikat. Ia menyatakan perusahaan minyak AS akan mengambil alih kendali industri tersebut untuk mengkompensasi kerugian finansial dan keamanan AS selama bertahun-tahun.
Meski Trump menjanjikan AS tetap akan menjual minyak kepada China dan importir besar lainnya setelah produksi normal, Washington dilaporkan bersikeras agar Venezuela mengurangi keterlibatan ekonomi dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba.
Menanggapi tuntutan AS agar Venezuela memprioritaskan Washington dalam pengelolaan sumber daya minyak, Mao Ning menuding tindakan tersebut sebagai bentuk perundungan dan campur tangan terang-terangan yang dikecam tegas oleh pihak China.
“China dengan tegas mengecam tindakan semacam itu,” ujar Mao.
Baca Juga: AS dan Venezuela Diam-diam Jajaki Pembukaan Kembali Ekspor Minyak Mentah – Economix

[…] China Kecam Langkah AS Ambil Alih Minyak Venezuela Usai Penggulingan Maduro […]