FIFA Cabut Skorsing Balogun, Dunia Sepak Bola Heboh
Keputusan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) yang membatalkan hukuman larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat (AS), Folarin Balogun, menjelang pertandingan babak 16 besar Piala Dunia menghadapi Belgia menuai kritik luas.
Dilansir The Telegraph, Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Federasi Sepak Bola Belgia, hingga sejumlah legenda sepak bola menilai keputusan tersebut dapat mengancam kredibilitas dan integritas turnamen.
Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah ketika AS menang 2-0 atas Bosnia-Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan aturan FIFA, kartu merah langsung secara otomatis membuat seorang pemain harus menjalani hukuman larangan tampil dalam satu pertandingan.
Namun, FIFA pada Minggu (5/7/2026) memutuskan menangguhkan hukuman tersebut selama satu tahun. Dengan keputusan itu, Balogun tetap diperbolehkan memperkuat AS saat menghadapi Belgia.
Sebelumnya, muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump sempat menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang terhadap hukuman yang diterima Balogun.
UEFA Sebut FIFA Langgar Prinsip Kompetisi
UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras mengecam keputusan FIFA tersebut. Organisasi sepak bola Eropa itu menilai izin bermain bagi Balogun merupakan keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sulit dibenarkan.
Baca Juga : Ekonomi RI Kuat, Sejumlah Indikator Berikan Sinyal Waspada
Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa hukuman otomatis satu pertandingan akibat kartu merah bukanlah aturan yang dapat dikesampingkan atau diterapkan berbeda hanya karena situasi tertentu.
Menurut UEFA, apabila konsistensi aturan tidak dijaga oleh penyelenggara, maka kepercayaan terhadap kompetisi dan integritas pertandingan akan ikut terdampak.
UEFA juga memperingatkan keputusan tersebut berpotensi menciptakan preseden baru dalam turnamen, mengingat sejumlah pemain lain yang sebelumnya mendapatkan kartu merah tetap harus menjalani hukuman sesuai regulasi.
Jerman Minta FIFA Beri Klarifikasi
Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) turut meminta FIFA memberikan penjelasan terkait kabar adanya komunikasi antara Donald Trump dan Gianni Infantino sebelum keputusan pembatalan hukuman Balogun dibuat.
DFB menilai dugaan adanya pengaruh politik dalam urusan olahraga harus segera diklarifikasi apabila memang tidak benar. Menurut mereka, kredibilitas FIFA dan penyelenggaraan Piala Dunia kini menjadi perhatian publik.
Inggris Pertanyakan Konsistensi Aturan
Kritik juga datang dari kubu Inggris. Pelatih tim nasional Inggris Thomas Tuchel mengaku tidak memahami keputusan FIFA tersebut dan mempertanyakan bagaimana aturan kartu merah akan diterapkan ke depannya.
Pernyataan itu muncul setelah bek Inggris Jarell Quansah juga mendapat kartu merah saat menghadapi Meksiko.
“Di mana batasnya sekarang?” kata Tuchel.
Ia mempertanyakan apakah seluruh tim nantinya dapat mengajukan keberatan atas keputusan kartu kuning maupun kartu merah apabila merasa dirugikan.
Menurut Tuchel, turnamen sebesar Piala Dunia membutuhkan penerapan aturan yang konsisten dan adil bagi seluruh peserta.
Sepp Blatter Ikut Kritik FIFA
Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatte,r juga memberikan kritik terhadap keputusan tersebut.
Melalui akun media sosial X, Blatter menyatakan bahwa pembatalan kartu merah seharusnya hanya dilakukan berdasarkan aturan, bukti, serta keputusan lembaga independen, bukan akibat intervensi dari pihak luar.
Ia mempertanyakan masa depan kepemimpinan FIFA apabila benar terdapat campur tangan politik dalam proses pengambilan keputusan.
Belgia Pertimbangkan Langkah Hukum
Belgia menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menghadapi AS dengan Balogun yang akhirnya dapat dimainkan.
Pelatih Belgia Rudi Garcia mengaku awalnya mengira kabar tersebut hanya sebuah lelucon ketika pertama kali mendengarnya.
Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) juga menyatakan terkejut dengan keputusan FIFA dan tengah mengkaji berbagai opsi yang tersedia.
RBFA bahkan mempertimbangkan membawa persoalan tersebut ke Court of Arbitration for Sport (CAS).
Dari sisi pemerintah, Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot menyebut keputusan FIFA sebagai sesuatu yang sulit dipahami.
Ia mengatakan apabila benar keputusan tersebut dipengaruhi oleh komunikasi Trump dan Infantino, maka hal itu bertentangan dengan prinsip dasar olahraga.
“Bagaimana FIFA masih bisa secara kredibel berbicara tentang fair play?” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever belum memberikan komentar langsung terkait polemik tersebut.
Namun, akun Instagram resmi kucing peliharaannya, Maximus, mengunggah sindiran dengan tulisan, “Kartu merah? Saya tetap akan bermain!”
Legenda Sepak Bola Soroti Keputusan FIFA
Sejumlah mantan pemain Inggris juga ikut mengecam keputusan FIFA.
Gary Neville menyebut keputusan tersebut “berbau busuk”. Menurutnya, aturan harus berlaku sama bagi semua peserta dan Belgia memiliki alasan kuat untuk merasa dirugikan.
Ian Wright menilai sejumlah keputusan selama turnamen telah mencederai nilai transparansi serta integritas sepak bola, terutama karena kasus tersebut melibatkan pemain AS.
Sementara itu, Wayne Rooney menilai FIFA seharusnya memilih salah satu keputusan, yakni membatalkan kartu merah sepenuhnya atau tetap memberlakukan hukuman larangan bermain.
Menurut Rooney, keputusan menangguhkan hukuman selama satu tahun justru membingungkan dan menimbulkan pertanyaan terhadap nilai sportivitas pertandingan.
Baca Juga : Timnas Cape Verde Disambut Seperti Pahlawan, Setelah Cetak Sejarah
Ia bahkan menyebut Gianni Infantino seharusnya merasa malu atas keputusan tersebut.
Dugaan Intervensi Trump Memperbesar Polemik
Kontroversi semakin berkembang setelah Donald Trump secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada FIFA karena dianggap telah memperbaiki ketidakadilan terhadap Balogun.
Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut juga mengatakan kepada AFP bahwa Trump memang menghubungi Infantino untuk meminta hukuman terhadap pemain AS itu ditinjau ulang.
Selain itu, The Telegraph mengutip klaim komentator politik AS Clay Travis yang menyebut Trump bersama Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Kepala Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih Andrew Giuliani membentuk tim pengacara eksternal untuk menggugat kartu merah Balogun.
Keputusan FIFA tersebut kini menjadi salah satu kontroversi terbesar di Piala Dunia, dengan sorotan utama tertuju pada isu konsistensi aturan, independensi FIFA, serta dugaan pengaruh politik dalam dunia sepak bola.
