Rusia Gempur Kyiv, 24 Tewas Jelang KTT NATO di Turki
Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan rudal balistik dan ratusan drone pada Senin (6/7/2026) waktu setempat. Serangan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO digelar di Turki.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Sebanyak 16 korban jiwa dilaporkan berada di Kyiv, sedangkan delapan korban lainnya berasal dari Kota Vyshneve yang berada di pinggiran ibu kota.
Otoritas Ukraina melaporkan sekitar 30 bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Selain itu, sekitar 500 warga terpaksa dievakuasi dari wilayah Vyshneve.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras serangan tersebut dan kembali mendesak NATO memperkuat sistem pertahanan udara negaranya.
Baca Juga : Danantara Persiapkan Ekspor Listrik ke Singapura dari BBK
Menurut Zelenskyy, Rusia meluncurkan 68 rudal, yang sebagian besar merupakan rudal balistik, serta 351 drone serang hanya dalam satu malam.
“Taktik Rusia tidak berubah, yakni menimbulkan sebanyak mungkin rasa sakit dan kerusakan bagi warga Ukraina,” ujar Zelenskyy, menambahkan Ukraina mampu mencegat drone dan rudal jelajah, tetapi masih kekurangan kemampuan menghadapi rudal balistik Rusia yang jauh lebih sulit dicegat, seperti dikutip CNA dari AFP, Selasa (7/7/2026).
Ia menegaskan bahwa ancaman utama saat ini berasal dari rudal balistik Rusia.
“Justru pada rudal balistik Rusia mempertaruhkan segalanya, maka mereka yang menginginkan perdamaian harus bertaruh pada perlindungan dari rudal balistik,” tambahnya, sekaligus menegaskan Kyiv berharap ada keputusan konkret mengenai bantuan pertahanan udara dalam KTT NATO.
Di tengah gempuran terhadap Kyiv, Ukraina juga melancarkan serangan balasan ke wilayah Rusia.
Militer Ukraina mengklaim berhasil menyerang kilang minyak di Omsk, Siberia, yang berjarak sekitar 2.500 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Zelenskyy mengatakan operasi tersebut menggunakan drone jarak jauh Fire Point yang telah ditingkatkan kemampuannya.
“Siberia kini juga berada dalam jangkauan presisi Ukraina,” ujarnya.
Pemerintah Rusia membenarkan bahwa kilang minyak di Omsk menjadi sasaran serangan drone. Meski demikian, Moskow menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Di sisi lain, militer Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh lebih dari 500 drone Ukraina dalam semalam.
Baca Juga : Lebih 100 Demonstran Anti NATO Ditahan, Ada Apa?
Gelombang serangan terbaru ini terjadi ketika upaya diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat masih belum menghasilkan kemajuan berarti.
Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela-sela KTT NATO untuk membahas langkah-langkah mengakhiri perang.
Setelah itu, Trump juga dijadwalkan kembali melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan ke Ukraina menyasar fasilitas industri militer serta infrastruktur energi. Moskow mengklaim operasi tersebut merupakan bagian dari serangan berskala besar terhadap target-target strategis Ukraina.
