Ini yang Buat Sport Tourism RI Susah Maju, Kata Bos Danantara
Indonesia memiliki potensi besar dalam sport tourism, mulai dari Mandalika hingga berbagai arena olahraga berkelas internasional. Namun, menurut Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, perkembangan sektor ini masih jauh dari ideal. Indonesia. Bahkan, tertinggal jauh jika dibandingkan negara tetangga seperti Singapura yang lebih agresif dalam menjaga keberlanjutan event olahraga.
Baca Juga: Prabowo Hapus Utang KUR bagi Petani Aceh Terdampak Bencana
Minim Regulasi Jadi Penghambat Utama
Dalam forum Indonesia Sport Summit 2025 di Indonesia Arena GBK, Jakarta, Dony mengungkap bahwa salah satu faktor utama lambatnya kemajuan sport tourism adalah absennya regulasi yang tegas.
Ia menjelaskan bahwa negara-negara lain menerapkan aturan ketat untuk menjaga keberlanjutan event, mulai dari struktur biaya hingga dukungan pemerintah.
“Contoh misalkan di Mandalika. Karena tidak ada kebijakan yang strict yang diimplementasikan di Mandalika, menyebabkan berdampak juga terhadap keberlanjutan daripada event-nya,” ujar Dony.
Ia menyoroti persoalan harga kamar hotel yang tidak dikendalikan saat event besar berlangsung.
Menurut dia, negara lain membatasi kenaikan harga akomodasi maksimal 2–2,5 kali lipat untuk melindungi konsumen. Tanpa batasan tersebut, masyarakat akan dirugikan dan penyelenggaraan acara berpotensi kehilangan daya tarik.
“Tidak bisa dia kalau kemudian ‘mumpung lagi rame’ terus dihajar dengan harga yang tinggi. Ini menjadi persoalan ke depan yang harus kita selesaikan,” tambahnya.
Baca Juga: Isi Pertemuan Ketua MPR China dengan Presiden Prabowo
Kurangnya Intervensi Pemerintah dalam Event Besar
Dony juga menegaskan bahwa di banyak negara, pemerintah secara langsung membiayai license fee untuk event olahraga besar.
Alasannya sederhana, manfaat yang dihasilkan bukan hanya untuk penyelenggara, tetapi untuk negara secara keseluruhan, baik dari sisi ekonomi maupun reputasi global.
“Biasanya di luar negeri event sports yang membutuhkan license, ini dibiayai oleh negara. Sebab memang license fee-nya besar, dan sebetulnya yang dapat manfaat dari event itu adalah negara,” jelas dia.
Tanpa dukungan semacam ini, Indonesia sulit bersaing, terutama ketika negara lain berebut menjadi tuan rumah event internasional untuk menarik wisatawan.
Ancaman Outflow Wisatawan
Dony juga memperingatkan bahwa lemahnya regulasi dalam negeri justru bisa menyebabkan meningkatnya outflow wisatawan. Masyarakat lebih memilih menikmati event olahraga di luar negeri yang menawarkan pengalaman lebih baik dan harga lebih terkontrol.
“Kita tidak boleh kalah dengan Singapura. Yang terjadi adalah outflow kita bisa meningkat, karena kita kalah saat pilih event dengan negara tetangga kita,” imbuh dia.
Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memasukkan sport tourism sebagai bagian dari kebijakan pertumbuhan ekonomi nasional agar manfaat jangka panjang bisa dirasakan secara nyata.
Baca Juga: Skema Subsidi 2026 Sepakat Diubah Purbaya, Danantara, dan DPR

[…] Baca Juga : Ini Kata Bos Danantara terkait Sport Tourism Susah Maju […]
[…] Baca Juga: Ini yang Buat Sport Tourism RI Susah Maju, Kata Bos Danantara – Economix […]