Jepang Buka Opsi Senjata Nuklir dan Kapal Selam Nuklir
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi kembali mendorong pembahasan mengenai kemungkinan kepemilikan senjata nuklir dan kapal selam bertenaga nuklir tanpa menjadikan isu tersebut sebagai hal tabu.
Koizumi menilai tidak seharusnya terdapat suasana yang menghambat pemerintah maupun masyarakat Jepang untuk membahas kedua isu tersebut.
“Gagasan bahwa kita bahkan tidak diperbolehkan membahas masalah ini sedikit bertentangan dengan rasa krisis saya,” kata Koizumi dalam wawancara televisi yang ditayangkan pada Senin (28/9/2026), seperti dikutip The Japan Times.
Pemerintah Jepang selama ini memegang tiga prinsip nonnuklir, yakni tidak memproduksi, memiliki, atau mengizinkan senjata nuklir berada di wilayah Jepang.
Namun, Koizumi mengatakan pemerintah tetap membuka seluruh opsi terkait kemungkinan revisi prinsip tersebut maupun pengadaan kapal selam bertenaga nuklir.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Dikabarkan Akan Diganti Usai Perang Iran
Jepang Soroti Nuklir China, Rusia, dan Korea Utara
Koizumi mengaitkan pembahasan tersebut dengan perkembangan kemampuan nuklir China dan Rusia serta program senjata nuklir Korea Utara yang terus berkembang.
Dia mempertanyakan apakah Jepang dapat menjaga perdamaian jika pemerintah tidak membahas berbagai isu keamanan yang selama ini dianggap sensitif.
Koizumi juga mencontohkan Perancis yang memperluas kemampuan persenjataannya untuk menyediakan “payung nuklir” bagi negara-negara Eropa.
“Dunia sekarang sedang bergerak menuju fase seperti ini, dan dalam konteks tersebut, keputusan dibuat tanpa tabu,” ujar Koizumi.
“Jepang harus memiliki kemampuan untuk secara tegas menghadapi ancaman yang ditujukan kepada kita,” lanjutnya.
Koizumi kemudian menekankan pentingnya menjelaskan kepada masyarakat mengenai perubahan lingkungan keamanan global, termasuk kebijakan negara-negara yang berada di sekitar Jepang.
“Saya rasa bisa dikatakan dengan pasti bahwa sama sekali tidak ada dasar untuk bersikap optimistis terkait situasi keamanan di sekitar Jepang,” kata Koizumi dalam konferensi pers rutin pada Selasa (29/9/2026).
Jepang Buka Opsi Kapal Selam Bertenaga Nuklir
Selain membahas senjata nuklir, Jepang juga tidak menutup kemungkinan memperoleh kapal selam bertenaga nuklir.
Pada awal September 2026, Koizumi mengatakan opsi tersebut masih terbuka beberapa hari setelah seorang pejabat Angkatan Laut AS memberikan penilaian positif terhadap kemungkinan Jepang memiliki kapal selam bertenaga nuklir.
“Regarding nuclear-powered submarines, we will proceed with our consideration of not ruling them out as an option,” kata Koizumi dalam konferensi pers saat itu.
Perdebatan mengenai kapal selam bertenaga nuklir juga didorong oleh Partai Inovasi Jepang atau Japan Innovation Party (JIP), mitra junior dalam koalisi pemerintahan.
Pada Juni 2026, JIP mengajukan proposal kepada pemerintah untuk segera memperkenalkan kapal selam bertenaga nuklir dengan alasan ekspansi kekuatan angkatan laut China di kawasan Pasifik.
Jepang Pertimbangkan Kenaikan Anggaran Pertahanan
Dalam wawancara yang sama, Koizumi turut membahas rencana peningkatan anggaran pertahanan Jepang.
Dia mengatakan pembahasan anggaran tidak akan didasarkan pada persentase atau skala yang telah ditentukan sebelumnya, tetapi Jepang perlu mengirimkan sinyal yang jelas kepada negara-negara yang dianggap sebagai rival.
“Di sini, kita tidak boleh mengirimkan pesan yang salah,” kata Koizumi.
“Kita harus memperjelas bahwa tekad Jepang yang tidak tergoyahkan—upaya kita mempertahankan diri secara mandiri dan upaya kita berkoordinasi dengan sekutu—tidak tergoyahkan,” lanjutnya.
Tokyo dilaporkan tengah mempertimbangkan target baru belanja pertahanan jangka menengah sebesar 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Namun, Koizumi mengakui keputusan mengenai kebijakan tersebut pada akhirnya merupakan keputusan politik yang membutuhkan pertimbangan perdana menteri.
“Pada akhirnya, ada masalah yang membutuhkan pertimbangan politik perdana menteri, tetapi saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan dia memiliki keleluasaan dalam masalah-masalah ini,” kata Koizumi.
Baca Juga: Kim Jong Un Disebut Berbobot 140 Kg, Berisiko Sakit Jantung
Prinsip Nonnuklir Jepang Bisa Direvisi
Pernyataan Koizumi muncul ketika pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan pembaruan sejumlah dokumen utama mengenai kebijakan keamanan negara yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Salah satu isu yang dipertimbangkan adalah kemungkinan revisi terhadap prinsip nonnuklir Jepang.
JIP sebelumnya juga mengusulkan peninjauan terhadap prinsip Jepang yang melarang senjata nuklir dibawa masuk ke wilayah negara tersebut, sementara pemerintah masih mempertimbangkan pembaruan dokumen keamanan nasional.
Dengan demikian, pembahasan mengenai prinsip nonnuklir dan kapal selam bertenaga nuklir kini menjadi bagian dari perdebatan Jepang mengenai arah kebijakan pertahanannya di tengah perubahan lingkungan keamanan kawasan.
