Ledakan Guncang Riyadh, Diplomat Asing Berlindung
Eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran semakin berdampak pada keamanan di Riyadh. Para diplomat asing dilaporkan diminta berlindung di dalam kedutaan besar masing-masing pada Kamis (8/10/2026), setelah sejumlah ledakan terdengar di ibu kota Arab Saudi tersebut.
Mengutip sumber diplomatik kepada kantor berita AFP, perintah berlindung itu dikeluarkan di tengah meningkatnya ketegangan. Rentetan ledakan tersebut menjadi salah satu gangguan keamanan paling serius sejak konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Situasi di kawasan bisnis Riyadh juga dilaporkan terdampak. Dua pekerja di King Abdullah Financial District mengatakan kepada AFP bahwa sejumlah perusahaan mulai mengevakuasi karyawannya dari kawasan tersebut sebagai langkah antisipasi.
Sektor pendidikan turut meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah warga melaporkan bahwa sekolah-sekolah internasional telah menerapkan protokol keamanan untuk melindungi siswa dan staf.
Baca Juga : AS Tinggalkan Irak, Iran Kini Desak Kurdistan
Setidaknya satu sekolah bahkan memindahkan para murid ke ruang bawah tanah demi menghindari risiko akibat situasi yang semakin tegang.
Kondisi ini terjadi setelah kelompok Houthi dilaporkan mengumumkan serangan terhadap Riyadh hampir setiap hari dalam beberapa waktu terakhir, seiring meningkatnya intensitas pertempuran di kawasan tersebut.
Serangan di Bandara Internasional Saudi
Di tengah memburuknya situasi keamanan, tiga orang dilaporkan tewas dan 36 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan terhadap dua bandara internasional di Arab Saudi. Kedua fasilitas yang menjadi sasaran adalah Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Otoritas Arab Saudi menyampaikan laporan tersebut pada Rabu (7/10/2026). Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan dan kembali memperingatkan maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Arab Saudi.
Baca Juga : 3 Tahun Berperang, Puluhan Ribu Warga Gaza Tewas
Dilansir AFP, Kamis (8/10/2026), otoritas penerbangan sipil Saudi menyatakan bahwa kedua bandara tersebut menjadi sasaran serangan pada Selasa (6/10/2026) dan Rabu (7/10/2026).
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Rabu mengklaim kelompoknya telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Ia menyebut serangan tersebut mengenai sasaran secara tepat dan mengganggu aktivitas penerbangan.
Sebagai respons, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menghancurkan peluncur rudal balistik yang disebut digunakan dalam serangan tersebut.
Koalisi yang mendukung pemerintah Yaman itu juga mengecam serangan terhadap kedua bandara. Melalui pernyataan di platform X, mereka menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil di Arab Saudi akan ditanggapi dengan tindakan balasan.
Koalisi Saudi kemudian melancarkan serangan balasan terhadap 82 sasaran militer Houthi. Sasaran tersebut mencakup fasilitas rudal, pusat komando, sistem komunikasi, serta lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya anggota kelompok tersebut.
