Suku Bunga Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun, Ini Respons Investor Global
Bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) resmi menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.
Langkah ini langsung menyita perhatian pelaku pasar dunia karena berpotensi mempengaruhi arus investasi global, nilai tukar, hingga stabilitas pasar keuangan internasional.
Dalam rapat Dewan Gubernur pada Desember 2025, BoJ menaikkan suku bunga acuan ke level 0,75 persen, dari sebelumnya 0,5 persen pada November.
Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari perubahan besar kebijakan moneter Jepang sejak Maret 2024, ketika suku bunga keluar dari zona negatif -0,1 persen menjadi 0,1 persen, lalu naik bertahap ke 0,25 persen pada Agustus 2024 dan 0,5 persen pada Januari 2025.
Baca Juga: Universal Studio jadi Wahana Hiburan Baru di Arab Saudi
Kepala Ekonom HSBC untuk Asia yang berbasis di Hong Kong, Frederic Neumann, menilai dampak kebijakan BoJ tidak bisa dipandang sebagai isu domestik semata.
“Saya tidak berpikir kita dapat sepenuhnya memperlakukan ini sebagai peristiwa khusus di Jepang saja,” kata Frederic Neumann, dikutip dari Wall Street Journal, Minggu (21/12/2025).
Kenaikan suku bunga Jepang terjadi saat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, justru berada dalam fase penurunan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan ini membuat pasar global mencermati perubahan strategi investasi, terutama terkait praktik carry trade yang selama ini memanfaatkan yen berbunga sangat rendah untuk membeli aset berimbal hasil tinggi di luar Jepang.
Ketika suku bunga Jepang naik, nilai yen cenderung menguat dan membuat strategi tersebut menjadi kurang menarik. Dalam kondisi ekstrem, investor bisa terpaksa melepas saham, obligasi, atau aset lain untuk melunasi pinjaman berbasis yen, yang berpotensi menekan pasar keuangan global. Pola serupa pernah terjadi pada krisis keuangan 2008–2009 dan kembali terasa pada 2024.
Baca Juga: Mencapai Rp 3.600 Triliun, Proyeksi Kerugian Ekonomi Global akibat Bencana Alam
Meski demikian, BoJ dinilai cukup berhati-hati dengan memberi sinyal kebijakan lebih awal. Sebagian besar ekonom memperkirakan kenaikan lanjutan akan dilakukan secara bertahap. Kekhawatiran jangka panjang justru tertuju pada kemungkinan investor Jepang menarik kembali dana dari luar negeri seiring meningkatnya daya tarik aset domestik.
Stefan Angrick, Kepala Ekonom Moody’s Analytics Tokyo, menilai ruang gerak BoJ tetap terbatas.
“Bagi mereka, akan sulit untuk melangkah lebih jauh dari posisi saat ini,” ujar Angrick.
Dengan demikian, meski suku bunga Jepang kini berada di level tertinggi dalam tiga dekade, dampaknya terhadap ekonomi dan pasar global diperkirakan berlangsung bertahap, tetapi tetap menjadi faktor penting yang terus dipantau investor dunia.
