Trump Bantah Beri Keringanan Sanksi untuk Iran: Hoaks
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan yang menyebut dirinya menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Trump menegaskan tidak pernah menawarkan keringanan tersebut kepada Iran.
“Axios baru saja merilis berita bahwa ‘Trump’ menawarkan keringanan sanksi dan dana yang dibekukan kepada Iran. Ini tidak benar. Saya TIDAK MENAWARKAN APA PUN kepada mereka!” tulis Trump di platform Truth Social pada Senin (28/9/2026), seperti dikutip AFP.
Laporan tersebut sebelumnya dimuat Axios dengan mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Trump kemudian menyebut laporan Axios sebagai “hoaks” dan meminta media tersebut menarik pemberitaannya.
Baca Juga: Netanyahu Siapkan Langkah Hukum untuk Tekan Erdogan
AS dan Iran Masih Buka Peluang Negosiasi
Bantahan Trump muncul ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu dengan mediator dari Qatar di New York pada Senin.
Pejabat AS dan Iran sebelumnya telah bertemu di New York pada pekan lalu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan pada Senin bahwa Teheran tidak memiliki agenda untuk melakukan pembicaraan langsung lebih lanjut dengan Washington.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya memperkirakan pembicaraan dengan Iran akan kembali berlangsung dalam beberapa hari mendatang.
Sebelumnya, pada Sabtu (26/9/2026), Trump secara terbuka menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut CNN, seorang pejabat AS mengatakan Trump bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir.
Namun, tawaran tersebut disebut hanya akan diberikan jika Teheran menunjukkan kemajuan konkret terkait isu nuklir.
Pejabat tersebut mengatakan AS sedang melakukan pembicaraan yang positif dan konstruktif melalui para mediator.
Meski demikian, kesepakatan disebut tidak akan tercapai apabila persoalan nuklir tidak diselesaikan.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Sebut AS Akan Terusir dari Timur Tengah
Selat Hormuz Jadi Titik Perselisihan AS-Iran
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik antara AS dan Iran.
Jalur perairan strategis tersebut biasanya menjadi rute bagi sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
AFP melaporkan Selat Hormuz secara efektif diblokade Teheran sejak perang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Situasi tersebut turut berdampak terhadap harga energi di AS.
Harga gas dan sejumlah produk lainnya di AS telah meningkat tajam sejak perang dimulai.
Kondisi itu terjadi ketika tingkat kepuasan publik terhadap Trump dalam jajak pendapat nasional menurun.
Partai Republik juga menghadapi kekhawatiran kehilangan suara di Kongres dalam pemilihan sela yang dijadwalkan berlangsung pada November.
