New Delhi Siapkan Insentif Rp18 Juta untuk Tukar Mobil Lama
Pemerintah New Delhi, India, menyiapkan insentif tunai lebih dari 1.000 dollar AS atau sekitar Rp18 juta bagi pemilik kendaraan lama yang bersedia beralih ke kendaraan listrik.
Kebijakan yang diselesaikan pada Senin (29/6/2026) itu menjadi bagian dari upaya pemerintah ibu kota India untuk menekan polusi udara yang selama ini menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar di kota tersebut.
New Delhi dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia, terutama saat musim dingin ketika emisi kendaraan, pembakaran lahan pertanian, dan debu konstruksi terperangkap di atmosfer.
Pemerintah menargetkan setidaknya 30 persen armada kendaraan di ibu kota beralih ke kendaraan listrik pada 2030.
Baca Juga: Iran Peringatkan AS dan Israel Jelang Pemakaman Khamenei
Pendaftaran Kendaraan Bensin Akan Dihentikan Bertahap
Melalui kebijakan baru tersebut, pemerintah New Delhi juga berencana menghentikan pendaftaran kendaraan berbahan bakar bensin secara bertahap.
Dikutip dari The Independent, mulai 2027 pelat nomor baru hanya akan diberikan untuk kendaraan roda tiga dan truk ringan listrik.
Kemudian pada 2028, aturan serupa akan diterapkan untuk sepeda motor dan skuter sehingga kendaraan roda dua berbahan bakar bensin tidak lagi mendapatkan pendaftaran baru.
Pemerintah juga menawarkan berbagai insentif untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik.
Pemilik mobil yang membeli kendaraan sebelum 1 April 2020 dan menukarnya dengan mobil listrik akan memperoleh insentif lebih dari 1.060 dollar AS.
Selain itu, pembeli mobil listrik dengan harga hingga 3 juta rupee dibebaskan dari pajak jalan dan biaya registrasi yang biasanya mencapai 4 hingga 10 persen dari harga kendaraan.
Sementara itu, pembeli sepeda motor listrik akan menerima insentif sebesar 30.000 rupee pada tahun pertama dan 10.000 rupee pada tahun ketiga.
Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Baca Juga: Kyiv Digempur Rusia, 17 Orang Tewas dan NATO Siaga Tempur
Polusi Udara Masih Jadi Tantangan Besar
Kebijakan ini lahir di tengah memburuknya kualitas udara di Delhi. Berdasarkan laporan IQ Air 2025, Delhi kembali masuk dalam daftar kota besar dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Konsentrasi partikel PM2.5 di kota itu tercatat sekitar 59 kali lebih tinggi dibandingkan standar aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada musim dingin, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) bahkan kerap menembus angka 500 yang masuk kategori sangat berbahaya.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 23 persen polusi udara Delhi berasal dari emisi kendaraan, menjadikannya sumber pencemaran terbesar di kota tersebut.
Meski demikian, sejumlah pemerhati lingkungan menilai kendaraan listrik bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan polusi.
Pendiri organisasi lingkungan Warrior Moms, Bhavreen Kandhari, mengatakan transportasi publik tetap harus menjadi prioritas utama.
Menurut dia, perjalanan yang paling ramah lingkungan adalah menggunakan metro, bus, sepeda, atau berjalan kaki.
Ia juga menilai kendaraan listrik tidak sepenuhnya menghilangkan sumber polusi lain seperti debu jalanan, gesekan ban, dan rem kendaraan.
Selain itu, Delhi masih menghadapi tantangan infrastruktur karena sebagian besar jaringan listriknya masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Pemerintah berjanji membangun 32.000 titik pengisian daya publik di seluruh wilayah Delhi.
Namun, para aktivis mengingatkan agar fasilitas tersebut tidak hanya terkonsentrasi di kawasan modern, melainkan juga menjangkau daerah padat penduduk dan masyarakat berpenghasilan rendah.
