Stok Rudal AS Menipis, Analis Khawatir Kesiapan Militer
Persediaan rudal utama militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus berkurang setelah meningkatnya intensitas konflik dengan Iran. Sejumlah analis pertahanan menilai kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kesiapan Washington apabila harus menghadapi konflik lain, termasuk di kawasan Indo-Pasifik.
Analis pertahanan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) sekaligus mantan kolonel Korps Marinir AS, Mark Cancian, mengatakan penggunaan rudal dalam jumlah besar dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan risiko terhadap kemampuan militer AS di masa mendatang.
“Jika perang berlanjut dengan laju seperti lima hari terakhir, persediaan rudal akan semakin terkuras sehingga menciptakan tingkat risiko baru yang lebih tinggi, khususnya di kawasan Indo-Pasifik,” ujar analis pertahanan Center for Strategic and International Studies (CSIS) sekaligus mantan kolonel Korps Marinir AS, Mark Cancian, seperti dikutip CNN International, Senin (13/7/2026).
Baca Juga : Israel Sebut Iran Bikin Rencana Baru Bunuh Trump
Pada tahap awal konflik yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury, militer AS disebut mengerahkan ribuan rudal presisi jarak jauh dan rudal pertahanan udara untuk menghadapi serangan Iran.
Peneliti Brookings Institution, Michael O’Hanlon, menilai kondisi persediaan amunisi saat ini belum berada pada tingkat yang diharapkan.
“Tidak diragukan lagi persediaan senjata lebih rendah dari yang kami inginkan,” katanya.
Pentagon Kehabisan Sebagian Besar Stok Rudal
Analisis CSIS menunjukkan bahwa hingga konflik besar dengan Iran mereda pada April lalu, Pentagon telah menggunakan sedikitnya setengah dari stok pencegat rudal balistik THAAD. Selain itu, hampir separuh rudal pertahanan udara Patriot serta sekitar 30 persen rudal jelajah Tomahawk juga telah digunakan.
Estimasi tersebut sebelumnya juga dikonfirmasi CNN melalui sejumlah sumber yang mengetahui data internal Departemen Pertahanan AS.
Meski gencatan senjata sempat mengurangi laju penggunaan amunisi, kemampuan industri pertahanan AS untuk mengisi kembali stok dinilai masih terbatas.
Menurut Cancian, Pentagon saat ini hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulan. Sementara itu, sepanjang 2026 belum ada jadwal pengiriman rudal THAAD.
Berdasarkan perhitungan CSIS, diperlukan sedikitnya tiga tahun agar persediaan rudal kembali ke tingkat sebelum perang.
Pemulihan Stok Diperkirakan Memakan Waktu Bertahun-Tahun
Peneliti senior American Enterprise Institute, Elaine McCusker, memperkirakan proses pemulihan stok amunisi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
“Jangka waktu pengisian kembali amunisi sebagian besar akan diukur dalam hitungan tahun, sekitar dua hingga lima tahun untuk sebagian besar jenis persenjataan,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan pakar pengadaan pertahanan John Ferrari. Ia menilai hingga saat ini Kongres AS belum menyediakan anggaran khusus untuk mengganti rudal yang telah digunakan sejak konflik dimulai.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sendiri telah mengajukan tambahan anggaran kepada Kongres guna menutup biaya operasi militer di Iran. Namun, usulan tersebut diperkirakan akan menghadapi proses pembahasan yang tidak mudah.
Di sisi lain, Pentagon menyatakan sedang mempercepat peningkatan kapasitas industri pertahanan. Pada Juni lalu, Trump juga mengaktifkan Defense Production Act untuk memangkas hambatan regulasi dan mempercepat produksi rudal.
“Departemen secara agresif mengejar inovasi terbaik Amerika untuk meningkatkan produksi dalam skala besar sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok,” kata seorang pejabat Pentagon.
Meski demikian, Cancian menilai dampak kebijakan tersebut belum akan terasa dalam waktu dekat karena pembangunan kapasitas produksi tetap membutuhkan proses yang panjang.
Produksi Rudal di Negara Mitra Belum Mampu Menutup Kekurangan
AS juga berupaya memperluas produksi rudal dengan memberikan lisensi kepada sejumlah negara mitra, termasuk Jerman dan Ukraina, untuk memproduksi rudal Patriot secara domestik.
Baca Juga : Trump Ancam dengan 1.000 Rudal Jika Jadi Target
Namun, proses tersebut dinilai belum mampu menjadi solusi cepat. Jepang, misalnya, membutuhkan sekitar tiga tahun untuk membangun fasilitas produksi rudal Patriot. Sementara itu, Jerman masih belum memulai produksi meski proyek tersebut telah berjalan sejak 2022.
Walaupun Pentagon menegaskan militer AS masih memiliki kemampuan penuh untuk melaksanakan seluruh operasi yang diperintahkan presiden, sejumlah analis mengingatkan bahwa berkurangnya stok rudal secara terus-menerus dapat melemahkan daya tangkal AS dalam jangka panjang.
O’Hanlon menilai kemampuan pencegahan terhadap China maupun Korea Utara memang belum terdampak secara langsung. Namun, ia mengingatkan bahwa “pada titik tertentu” efektivitas strategi deterrence dapat menurun apabila persediaan rudal terus mengalami penyusutan.

[…] Stok Rudal AS Menipis, Analis Khawatir Kesiapan Militer […]
[…] Stok Rudal AS Menipis, Analis Khawatir Kesiapan Militer […]