Trump Ancam Sasar Pembangkit Listrik dan Jembatan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran di tengah meningkatnya konflik antara kedua negara.
Trump menyatakan Washington akan memperluas serangan militernya dengan menyasar infrastruktur penting Iran apabila Teheran tidak bersedia kembali ke meja perundingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat.
Ia menyebut pembangkit listrik dan jembatan akan menjadi target berikutnya dalam operasi militer AS.
Baca Juga: Eks Pejabat China Divonis Mati karena Korupsi Rp5,8 Triliun
“Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka karena minggu depan gilirannya pembangkit listrik. Minggu depan gilirannya jembatan,” kata Trump.
Ia menegaskan serangan akan terus berlanjut jika Iran tidak menunjukkan kesediaan untuk bernegosiasi.
“Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi,” lanjut dia, dilansir dari AFP, Rabu (15/7/2026).
Ketika ditanya mengenai batas waktu operasi militer tersebut, Trump menegaskan keputusan sepenuhnya berada di tangannya.
“Serangan akan berlanjut sampai saya mengatakan itu sudah cukup,” ujar Trump
Pernyataan itu muncul saat militer Amerika Serikat memasuki hari keempat serangan berturut-turut terhadap Iran.
Selain melancarkan operasi militer, Washington juga kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kebijakan tersebut berlaku bagi kapal yang akan masuk maupun keluar dari pelabuhan negara itu.
Baca Juga: Koalisi Rudal Baru Dibentuk Eropa, Saingi Dominasi NATO?
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah serangkaian insiden yang melibatkan kapal tanker, pangkalan militer, dan berbagai infrastruktur strategis.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi yang sedang berlangsung bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia.
Di sisi lain, Iran disebut memperluas serangan balasan terhadap sejumlah sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional mengenai potensi meluasnya konflik dan meningkatnya risiko ketidakstabilan di kawasan.
