Trump Ancam Terus Gempur Iran hingga Merasa Cukup
Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa (14/7/2026).
Operasi yang berlangsung selama sekitar tujuh jam itu menyasar puluhan lokasi militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir selatan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut melibatkan jet tempur, pesawat nirawak, dan kapal perang.
Sasaran serangan meliputi lokasi rudal dan drone, aset angkatan laut, serta sistem pertahanan pesisir yang dinilai berpotensi mengancam jalur pelayaran internasional.
Menurut CENTCOM, operasi itu dilakukan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengganggu kapal-kapal komersial dan awak sipil yang melintasi kawasan strategis tersebut.
Serangan berlangsung bersamaan dengan keputusan Washington untuk kembali memberlakukan blokade laut terhadap kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran.
CENTCOM juga menegaskan pasukan AS tetap siap menjalankan operasi lanjutan apabila mendapat perintah.
Baca Juga: Tumbuh 43 Persen, Ekonomi China Melambat pada Kuartal II
Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Berakhir
Menanggapi langkah Washington, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan blokade laut yang diterapkan AS secara efektif mengakhiri nota kesepahaman yang sebelumnya dimediasi Pakistan.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Gharibabadi menilai kebijakan Presiden Donald Trump telah meruntuhkan seluruh dasar kesepakatan yang pernah dicapai kedua negara.
Ia menyebut langkah tersebut telah “membubarkan nota kesepahaman Islamabad.”
Menurut Gharibabadi, Iran tidak lagi menganggap dirinya terikat dengan komitmen yang terdapat dalam kesepakatan tersebut.
Ia juga menegaskan Selat Hormuz merupakan bagian dari kepentingan keamanan nasional Iran yang akan terus dipertahankan.
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga apa yang mereka sebut sebagai berakhirnya tindakan agresif Amerika Serikat.
Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya kembali ditutup oleh Teheran pada 11 Juli 2026. Otoritas Selat Teluk Persia, lembaga yang dibentuk Iran untuk mengawasi kawasan tersebut, menyatakan aktivitas pelayaran belum dapat kembali normal karena masih berlangsungnya operasi militer AS.
Menurut otoritas tersebut, izin pelayaran baru akan diterbitkan setelah kondisi keamanan dan stabilitas kawasan dipulihkan.
Sementara itu, militer Iran mengklaim kembali menargetkan Pangkalan Udara Azraq di Yordania yang disebut memiliki keterkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Yordania maupun Pentagon terkait klaim tersebut.
Baca Juga: Trump Pilih Investasi Teluk, Batalkan Tarif Hormuz
Trump Ancam Tingkatkan Serangan
Di tengah eskalasi konflik, Trump menyatakan pemerintah AS tetap membuka peluang perundingan dengan Iran. Namun, ia juga memperingatkan bahwa serangan militer akan diperluas apabila Teheran tidak bersedia kembali ke meja negosiasi.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut infrastruktur vital Iran seperti pembangkit listrik dan jembatan dapat menjadi sasaran berikutnya.
“Minggu depan situasinya benar-benar akan memburuk bagi mereka karena minggu depan giliran pembangkit listrik. Minggu depan giliran jembatan-jembatan,” kata Trump.
“Kami akan melumpuhkan semua pembangkit listrik mereka. Kami akan melumpuhkan semua jembatan mereka, kecuali mereka mau duduk di meja perundingan,” tambah dia.
Saat ditanya mengenai batas waktu operasi militer tersebut, Trump menegaskan keputusan sepenuhnya berada di tangannya.
“Akan terus berlanjut sampai saya bilang cukup,” ujar dia.
AS Kembali Terapkan Blokade Laut
Amerika Serikat mulai memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran sejak Selasa (14/7/2026).
Kebijakan ini menjadi blokade kedua yang diterapkan Washington sepanjang tahun 2026.
Sebelumnya, blokade pertama diberlakukan pada April lalu saat ketegangan dengan Teheran meningkat.
Kebijakan tersebut kemudian dicabut pada Juni, sehari setelah kedua negara menyepakati nota kesepahaman untuk meredakan konflik.
Sebelum memutuskan kembali menerapkan blokade, Trump sempat mengusulkan biaya sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan perlindungan militer AS.
Namun, gagasan tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat keberatan dari sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.
Dengan saling serang yang terus berlangsung dan jalur pelayaran strategis masih menjadi titik sengketa, konflik antara AS dan Iran kini memasuki fase baru yang semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
