Ekonomi China Melambat, Tumbuh 4,3 Persen pada Kuartal II
Pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II 2026 dan mencatatkan laju ekspansi terendah sejak negara tersebut keluar dari pembatasan ketat Covid-19 pada akhir 2022.
Berdasarkan data produk domestik bruto (PDB) resmi, ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh 4,3 persen pada periode April hingga Juni 2026.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada kuartal pertama sekaligus berada di bawah target tahunan yang telah ditetapkan pemerintah Beijing.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi China terjadi di tengah lemahnya permintaan domestik serta berbagai tekanan eksternal, termasuk dampak konflik Iran yang sempat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Selat Hormuz Diancam Ditutup IRGC, Pasokan Minyak Terancam
Kondisi tersebut membayangi kinerja ekonomi Negeri Tirai Bambu meskipun sektor ekspor masih menunjukkan performa kuat.
Mengutip laporan BBC International, Rabu (15/7/2026), perlambatan ekonomi tetap terjadi meski ekspor China melonjak signifikan.
Data pemerintah yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan nilai ekspor China pada Juni 2026 meningkat 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laporan PDB terbaru ini juga menjadi catatan kuartal penuh pertama sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari 2026.
Dengan capaian tersebut, ekonomi China mencatatkan pertumbuhan kuartalan terendah sejak akhir 2022.
Sebelumnya, pada Maret 2026, pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi menjadi kisaran 4,5 persen hingga 5 persen.
Target itu menjadi sasaran pertumbuhan ekonomi paling rendah yang pernah ditetapkan Beijing sejak 1991.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut dilakukan untuk memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi pemerintah dalam mengelola berbagai tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Biro Statistik China juga mengakui adanya tekanan yang dihadapi perekonomian domestik. Dalam catatannya disebutkan, “Ada lebih banyak faktor ketidakstabilan dan ketidakpastian eksternal. Ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah di dalam ekonomi domestik.”
Tantangan ekonomi China semakin terlihat dari sektor properti yang masih tertekan. Data terbaru menunjukkan harga rumah baru kembali mengalami kontraksi pada Juni 2026.
Baca Juga: Tarif Hormuz Dibatalkan Trump, Pilih Investasi Teluk
Meski demikian, penurunan sebesar 0,1 persen tersebut sedikit lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, konsumsi masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Penjualan ritel China tercatat tumbuh 1 persen pada Juni setelah sebelumnya turun 0,6 persen pada Mei.
Sementara itu, sektor ekspor teknologi menjadi salah satu penopang utama perekonomian.
Permintaan global terhadap semikonduktor meningkat seiring berkembangnya kebutuhan pusat data untuk teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kinerja ekspor juga didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di pasar internasional.
Bahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ekspor mobil China berhasil menembus angka satu juta unit dalam satu bulan.
