Perang AS-Iran Memanas, Hormuz Diblokade, Minyak Terancam
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat hingga memasuki hari keenam. Aksi saling serang yang berlangsung di sejumlah wilayah memperbesar kekhawatiran terhadap nasib kesepakatan awal kedua negara untuk meredakan konflik.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan operasi militer selama enam jam yang menyasar sejumlah target strategis di Iran. Menurut laporan BBC, Kamis (16/7/2026), operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan militer Iran dalam mengendalikan aktivitas di Selat Hormuz.
Serangan itu diarahkan ke pusat komando, sistem pertahanan udara, serta fasilitas pengawasan pesisir, termasuk di Bandar Abbas dan Pulau Tunb Besar.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di berbagai wilayah, sementara sistem pertahanan udara di Teheran langsung diaktifkan sebagai respons terhadap serangan tersebut.
Baca Juga : Jalur Minyak Dunia Terancam, Saudi Dikepung Musuh!
Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer AS di sejumlah negara kawasan Teluk, seperti Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Militer Iran mengklaim sasaran operasi tersebut adalah sistem komunikasi militer Amerika Serikat serta fasilitas penyimpanan bahan bakar di Yordania.
Di sisi lain, Kuwait menyatakan berhasil menggagalkan serangan drone yang mengarah ke wilayahnya. Sementara pemerintah Bahrain meminta masyarakat tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan apabila diperlukan.
Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Ketegangan terbaru dipicu oleh perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang ditutup Iran sebagai respons terhadap operasi militer AS.
Penutupan jalur tersebut menghambat lalu lintas kapal tanker dan memicu lonjakan harga minyak dunia karena meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Situasi semakin memanas setelah Washington kembali menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan itu sebelumnya sempat dicabut berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang disepakati kedua negara pada bulan lalu.
Sehari setelah blokade diberlakukan kembali, AS menembak sebuah kapal tanker minyak kosong berbendera Curacao yang disebut berupaya menuju pelabuhan Iran yang sedang diblokade.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jalur ekspor minyak dan gas lain yang melayani kepentingan AS beserta sekutunya juga dapat menjadi sasaran. Namun, IRGC tidak menjelaskan rute mana yang dimaksud.
Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tidak memiliki kewajiban mempertahankan kesepakatan yang dianggap tidak menguntungkan bagi kepentingan nasional.
Ia juga menyebut keamanan Iran sangat bergantung pada keberlangsungan pengaturan yang diterapkan Teheran di Selat Hormuz.
Trump Buka Sinyal Diplomasi di Tengah Eskalasi
Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan Iran agar kembali ke meja perundingan atau menghadapi respons militer yang lebih besar. Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran.
Meski demikian, peluang diplomasi kembali muncul setelah Iran membebaskan seorang warga negara AS yang ditahan sejak Desember 2024.
Trump menyambut baik langkah tersebut dan menyebutnya sebagai sinyal positif.
Baca Juga : Trump Ancam Serang Iran Sampai Merasa Cukup
“AS sangat menghargai isyarat niat baik dari Iran ini,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.
Pengacara warga AS tersebut, Jared Genser, juga mengkonfirmasi melalui media sosial X bahwa Dena Karari sedang dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat.
