Iran Raup Rp 107,6 Triliun dari Ekspor Minyak Saat Damai
Iran diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 6 miliar dollar AS atau setara Rp 107,6 triliun dari penjualan minyak selama periode gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).
Pemasukan tersebut diperoleh dalam rentang waktu sekitar satu bulan, yakni antara pertengahan Juni hingga pertengahan Juli 2026.
Pada periode itu, AS sempat mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran setelah kedua negara menandatangani nota kesepakatan.
Berdasarkan perkiraan independen dari United Against Nuclear Iran dan sejumlah analis minyak, Iran berhasil mengirimkan sekitar 70 juta barel minyak ke pasar internasional. Informasi tersebut dikutip dari The Wall Street Journal, Sabtu (18/7/2026).
Namun, peluang tersebut tidak berlangsung lama. Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat dan AS kembali memberlakukan blokade terhadap Iran.
Baca Juga: Pesan Iran Menggemparkan, Pasang Bilboard Trump dalam Peti Mati
Iran Gunakan Jalur Lama untuk Hindari Sanksi
Sejak akhir Juni, sekitar 20 kapal tanker Iran terpantau berdatangan di wilayah perairan lepas pantai timur Malaysia dengan muatan minyak dalam jumlah besar.
Untuk mempertahankan ekspor minyaknya, Iran disebut masih menggunakan pola distribusi yang selama ini dipakai untuk menghindari sanksi AS.
Minyak mentah dikirim ke kawasan yang dikenal sebagai Batas Pelabuhan Luar Timur, yang berada di luar perairan teritorial Malaysia dan menjadi titik transit antara Iran dan China.
Di lokasi tersebut, minyak dipindahkan dari satu kapal ke kapal lain menggunakan selang berukuran besar di tengah laut.
Kapal tanker penerima kemudian membawa minyak tersebut ke kilang swasta di China yang dikenal sebagai kilang “teapot”.
Minyak Iran umumnya dijual dengan harga lebih murah dibanding harga pasar sehingga tetap menarik bagi pembeli.
Strategi tersebut membuat upaya pengawasan dan penindakan oleh otoritas AS menjadi lebih sulit dilakukan.
Menurut para analis, lonjakan kedatangan kapal Iran di kawasan Asia pada Juli menunjukkan Teheran berpotensi menerima tambahan miliaran dollar AS dari ekspor minyak dalam beberapa bulan mendatang.
“Jika mereka membiarkan blokade itu berlanjut, kemungkinan besar krisis akan terjadi sekitar sekarang,” kata Charlie Brown, analis United Against Nuclear Iran yang berbasis di Singapura.
“Tetapi begitu blokade dicabut, Iran dengan cepat meningkatkan produksi minyak, sehingga ada cadangan yang besar lagi,” lanjut dia.
Baca Juga: Prabowo Sebut Investor Harus Untung, Rakyat Sejahtera
Iran Kejar Ekspor Setelah Blokade Dicabut
Iran bergerak cepat setelah AS dan Teheran mencapai kesepakatan sementara pada 17 Juni yang membuka kembali akses pengiriman minyak.
Kapal-kapal tanker yang sebelumnya menunggu di Pelabuhan Chabahar, Iran timur, segera berlayar menuju pasar Asia setelah pembatasan dicabut.
Pada paruh kedua Juni saja, Iran dilaporkan mengekspor sekitar 50 juta barel minyak yang sebagian besar ditujukan ke China.
Jumlah tersebut hampir setara dengan total ekspor minyak Iran ke China selama satu bulan sebelum konflik terjadi.
Pakar Timur Tengah dari Atlantic Council, Jonathan Panikoff, menilai tambahan pendapatan dari sektor minyak menjadi sangat penting bagi kondisi ekonomi Iran saat ini.
“Ekonomi Iran berada dalam kondisi terburuk sejak revolusi, jadi setiap dollar pendapatan sangat berarti,” kata Panikoff.
“Rezim tersebut kemungkinan akan memprioritaskan pendapatan untuk tujuan strategis mereka sendiri, yang utama saat ini adalah melawan AS,” pungkas dia.
