Prabowo Bongkar Modus Ekspor Sawit, RI Kehilangan Devisa
Presiden Prabowo Subianto mengungkap adanya praktik under invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai transaksi sebenarnya pada industri kelapa sawit. Menurutnya, praktik tersebut telah menyebabkan Indonesia kehilangan potensi devisa dalam jumlah sangat besar.
Prabowo menjelaskan, harga resmi ekspor kelapa sawit dari Indonesia selama ini hanya tercatat di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Padahal, harga komoditas tersebut di pasar internasional bisa mencapai sekitar Rp27.000 per kilogram.
Perbedaan harga yang hampir mencapai 50 persen itu, kata Prabowo, justru dinikmati oleh pihak-pihak tertentu dan tidak memberikan manfaat maksimal bagi negara.
Baca Juga : Prabowo Akui RI Ada Masalah Ekonomi di Luar Dugaan
“Jadi permainan seperti inilah yang menusuk hati kita. Jadi perusahaan, dari Indonesia dia ekspor, begitu di sini dia jual Rp 14.000, dalam perjalanan ke Eropa, konon kabarnya berubah-ubah lagi kontraknya, sehingga di sana Rp 27.000. Jadi kita hilang 50% kekayaan kita. Satu kali perjalanan kita hilang 50% kekayaan kita,” ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipantau secara daring melalui YouTube, Sekretariat Presiden, Senin (20/7/2026).
Pemerintah Siapkan Sistem Ekspor Satu Pintu
Untuk menghentikan praktik tersebut, Prabowo mengaku telah mengumpulkan jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta tim ekonomi pemerintah.
Dari pembahasan tersebut, pemerintah memutuskan menyiapkan sistem ekspor satu pintu melalui badan usaha milik negara (BUMN) baru, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Skema ini diharapkan mampu menutup celah praktik under invoicing dalam perdagangan komoditas nasional.
“Untuk hadapi praktik under invoicing atau pelaporan-pelaporan palsu, saya kumpulkan KSSK, Menteri Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan tim ekonomi kita, kita telah kumpul di Istana Merdeka, Ketua DEN juga hadir dengan beberapa penasehat ekonomi,” ungkap Prabowo.
Prabowo: Kekayaan Bangsa Jangan Terus Mengalir ke Luar Negeri
Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta seluruh jajaran ekonomi memberikan solusi agar kebocoran devisa akibat praktik manipulasi ekspor dapat dihentikan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus kehilangan kekayaan yang berasal dari sumber daya alamnya sendiri.
Baca Juga : Prabowo Bantah Akan Kolaps, RI Makin Kuat
“Waktu itu saya gambarkan, saya minta pendapat mereka semua, apa mau kita teruskan ini aliran uang ratusan miliar dolar ke luar negeri? Kekayaan kita, dari sumber daya kita. Mau kita teruskan? Mereka semua bilang, ‘jangan, Pak, jangan kita teruskan.’ Bagaimana caranya tidak kita teruskan? Akhirnya diusulkanlah sistem ekspor satu pintu untuk komoditas-komoditas milik bangsa dan negara,” jelasnya.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap tata kelola ekspor komoditas strategis menjadi lebih transparan, meningkatkan penerimaan devisa negara, sekaligus mencegah praktik manipulasi harga yang selama ini diduga merugikan Indonesia.
